First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Empat Puluh Empat


__ADS_3

Aku masih saja merenungi semuanya yang tengah kulewati kini entah itu tentang makna mimpi yang selalu saja menyambangiku dan mengingat tingkah aneh Fabian dari jaman sekelas dulu sewaktu SMP sampai bertemu lagi di SMA. Kadang, saat aku mengingatnya semua selalu membuatku tersenyum-senyum tak jelas dan merasa tak habis pikir dengan tingkah-tingkanya yang masih saja membuatku bertanya-tanya dalam hati. “Cowok yang nggak pernah absen bernaung di pikiranku dan mimpiku hanya Fabian. Bukan cowok-cowok lainnya yang hanya sekedar singgah saja kemudian pergi lagi, itupun tak diundang”.


Disisi lain, aku sendiri juga merasa bahwa mimpi yang kualami selama ini memang berbeda dengan kejadian nyata. Dalam mimpi, Fabian memperlakukanku sangat manis dan orangnya romantis, tapi kenyataannya aku dan Fabian hanya teman biasa. Iya, aku merasa tidak begitu akrab dengan Fabian yang memang orangnya sangat baik sekali padaku dan teman-teman seangkatan lainnya. Tapi aku merasa kebaikan hati Fabian merasa sangat berbeda dengan yang lainnya. Walau aku tahu yang baik padaku juga banyak, tapi Fabian sangat berbeda sekali. Mungkin itu alasan kenapa aku sampai sekarang masih menyukainya, mungkin tanpa sepengetahuan Fabian sendiri.


Tapi di semester 6 ini, aku memang sengaja masih mengulang mata kuliah walau sudah waktunya mengerjakan Tugas Akhir. Di awal-awal semester 6, aku masih belum menemukan judul untuk menyusun Tugas Akhirku. Saat fokusku tertuju pada Tugas Akhir, hampir dua judul ditolak dosen. Tapi setelah memutuskan untuk memilih judul yang menurutku belum diambil banyak teman-teman seangkatan, akhirnya diterima juga.


Hampir setiap hari aku mulai bimbingan Tugas Akhir dan bolak balik sekedar meminjam buku di perpustakaan kampusku atau meminjam buku di perpustakaan yang dulunya tempatku Praktik Kerja. Benar-benar sibuk sepenuhnya, membuatku lupa akan Fabian walau mimpi itu masih menghampiriku. Dengan kegiatan kuliah dan menyelesaikan Tugas Akhir membuatku serius dengan Kelulusan yang hampir di depan mata. Karena aku ingin mengikuti wisuda April 2014 nantinya.


......................


Kesibukanku dengan kuliah dan Tugas Akhirku saat ini tak membuatku lupa dengan teman-teman dekatku, karena mereka selalu menyupportku untuk menyelesaikan semuanya dengan sempurna. Termasuk Wawan sahabatku dari SMA yang masih berkomunikasi dengannya sampai sekarang.


Akhir Oktober saat teman-teman seangkatan wisuda, aku hanya memberinya selamat dan pasti ikut senang karena telah lulus terlebih dahulu. Aku lebih semangat lagi karena memang Tugas Akhirku akan selesai, walau sering sekali revisi dan membuatku nyaris menyerah.


Bulan November tiba, seperti biasa di kampusku selalu ada event Orenji di jurusan Luna. Aku menyempatkan datang bersama Rossi dan Gazela. Sesampainya disana, cuaca panas menyeruak sekali. Rasanya benar-benar panas sekali.


Saat aku, Rossi, dan Gazela akan mencari makanan di stand makanan Jepang. Tiba-tiba Gazela menanyai Rossi.


“Kamu sudah kerja Ros?” tanya Gazela.


“Alhamdulillah sudah, kamu gimana?” tanya Rossi balik.


“Sudah juga, gimana kamu Mi? Eh, iya ya kamu belum lulus” ledek Gazela sambil menertawaiku puas.


“Jangan begitu Gaz, nggak baik ahh” bela Rossi untukku.


“Sialan kamu! Ledekin aja terus aku biar kamu puas” batinku sangat kesal sekali dengan ucapan Gazela yang menusuk hati.

__ADS_1


“Ya, ya aku belum lulus” dengusku kesal sekali.


“Makanya cepetan kelarin Tugas Akhirmu” ledek Gazela lagi.


“Lagi ngelarin Tugas Akhir juga” balasku ketus.


“Udah Bab berapa?” tanya Gazela terlihat kepo.


“Empat...” balasku singkat dengan perasaan masih kesal sekali.


Ekspresi Gazela hanya manggut-manggut saja. Selanjutnya saat membeli makanan, kebiasaan Gazela terburuk terulang kembali. Aku benar-benar kesal dengannya hari ini dan pastinya menyesal pulang bersama Gazela. “Pandai sekali mengambil hati” batinku.


......................


Akhir Desember 2013, akhirnya Tugas Akhirku selesai juga dan hari ini Tugas Akhirku di ACC. Tepat di moment ini juga aku diberi kejutan dari Stefani dan Nurul karena mereka memberiku kaset ADA BAND yang memang aku belum mengoleksinya. Tapi kesenanganku tak berhenti sampai disini saja, aku masih berlanjut untuk mengikuti Ujian Praktik sebelum Ujian Sidang dilaksanakan.


Rasanya benar-benar sibuk sekali untuk mempersiapkan semuanya. Bahkan aku lupa akan Fabian sejenak yang sempat mengganggu pikiran dan mimpiku. 


Bulan Februari tiba, aku mulai sibuk dengan Ujian Praktikku dan setelah itu kusempatkan untuk mengucapkan Fabian ulang tahun walau aku tahu balasan ucapannya selalu buatku salah tingkah sekali.


Lima hari setelahnya, aku mengikuti Ujian Sidang. Rasa tegang langsung menggelayutiku, walau malamnya aku hampir tak bisa tidur nyenyak sampai pagi karena memikirkan hal ini. Setelah Ujian Sidang selesai, aku dinyatakan LULUS walau masih dengan revisian. Sibuk lagi karena mengurus tanda tangan untuk perlengkapan Tugas Akhir, dan menjilid Tugas Akhir.


......................


Sembari menanti kelulusanku pada bulan April 2014, Nurul memintaku untuk ditemani saat sebar angket demi kelancaran Skripsinya. Hampir sebulan sudah aku menemani Nurul, rasanya senang saat kebersamaan itu berlangsung. Walau berpanas-panasan tapi aku sendiri sangat senang sekali, merasa refreshing setelah satu semester berkutat dengan Tugas Akhir dan ujian sidang.


Menjelang wisuda, aku sebenarnya ada pembekalan wisuda pagi ini. Tapi ternyata aku juga ada janji dengan kedua sahabatku Stefani dan Nurul untuk nonton di bioskop. Siang ini, saat berangkat ternyata hujan deras menyambut. Aku, Nurul, dan Stefani berteduh di depan pos satpam gedung TBRS walau sudah basah kuyup disana. Saat cuaca lumayan reda, akhirnya kami bertiga segera bergegas menuju Mall yang ada tempat bioskopnya walau sempat dikepung banjir, dan kami memutuskan untuk putar balik mencari jalan yang tak terkena genangan air hujan. Sesampainya Mall, dengan kondisi basah kuyup kami bertiga melepas jaket masing-masing.

__ADS_1


Setelah jaket terlepas, kami bertiga heboh mengetahui baju yang kami kenakan berwarna ungu semua lalu tertawa geli. Karena di moment ini, tak sengaja memakai baju dengan warna yang sama.


“Kok bisa bajunya samaan gini sih?” geliku.


“Iya, kok bisa sih warna baju kita warna ungu” geli Stefani juga.


“Bener deh, nggak nyangka aja ya” sambung Nurul juga.


Berhubung aku dan kedua sahabatku masih merasakan kedinginan, akhirnya memutuskan untuk mencari minuman hangat sembari menahan dingin setelah terkena air hujan. Saking dinginnya, aku sampai menggigil. Lumayan juga menghabiskan waktu di tempat Tea Bar tempat kami singgah untuk menghangatkan badan, segera beranjak dari tempat tersebut karena sudah tak sabar menonton. Aku yang sembari dari beranjak kursi dan mengambil jaket yang kusandarkan dikursi, tapi mereka cuek saja saat beranjak dari kursi masing-masing dengan posisi jaket yang masih disandarkan dikursi. Aku terkejut saat mereka tak sadar meninggalkan jaketnya masing-masing. Lalu aku berseru pada mereka sembari mengingatkan bahwa jaket milik Stefani dan Nurul.


“Jaketnya kalian mau ditinggalin begitu aja. Mau dibuat lap meja apa?”


Mendengar itu, mereka langsung menoleh dan membalikkan badan. Sadar akan jaketnya tertinggal, mereka  langsung kembali ke Tea Bar untuk mengambil jaket yang masih bersandar dikursi. Aku geli melihat ekspresi mereka saat menyadari bahwa jaket mereka tertinggal.


“Maaf ya Mbak...” cengir Stefani sembari mengambil jaket di kursi.


Nurul menyusul dari belakang sembari mengambil jaketnya juga. Aku tertawa melihat kejadian lucu itu sembari berceletuk. “Besok diulangi lagi ya”.


Setelah itu, kami bertiga masih saja tertawa mengingat kejadian lucu ini. Kami  menonton film di bioskop sampai malam.


......................


Seminggu setelahnya, akhirnya aku mengenakan toga. Rasa bangga dan senang menyelimuti hatiku saat moment itu terjadi selama dua kali. Pengorbananku selama ini tak sia-sia. Walau begitu, aku masih berjuang untuk mencari pekerjaan.


......................


 

__ADS_1


__ADS_2