First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Waktu liburan semester tiba, tepat pertengahan bulan Januari 2011. Ternyata mimpi tentang Fabian masih berlanjut hingga sekarang. Jadi sudah 5 tahun lamanya aku memimpikan Fabian, maksudnya Fabian datang di mimpiku sudah 5 tahun lamanya. (Jangan salah kaprah dulu tentang makna “Memimpikan” ini) karena aku mengerti dengan maksud orang-orang pasti menganggapku lebay dengan apa yang kualami sampai sekarang ini. Padahal maksudku, Fabian datang di mimpi tanpa kuduga. Malam ini, saat aku tidur seperti biasa.


Tiba-tiba........


Merasa berada di SMA. Aku, Luna dan Tyas seperti biasa menanti Gazela yang ada kelas 12 IA 1 keluar dari kelasnya. Ternyata mereka menyuruhku untuk menanti Gazela di depan kelasnya persis. Awalnya aku menolak permintaan mereka, tapi karena terpaksa akhirnya aku mengalah dan melangkahkan kaki menuju kelas 12 IA 1 yang berada di atas. Tapi karena lama sekali, pastinya rasa jenuh itu menderaku. Beberapa menit kemudian, ku dengar ramai-ramai dari kelas 12 IA 1 yang akan keluar kelas. Saat aku menoleh sembari menanti Gazela keluar kelas, tiba-tiba kulihat Fabian keluar kelas duluan dan menghampiriku sambil mengatakan”Maaf Yang, nungguin akunya kelamaan ya”. Mendengar Fabian berkata demikian, aku terkejut sekali. “Yang? Maksud Fabian bilang gitu ke aku apa?” batinku heran. Terdengar Fabian mengajakku untuk pulang bersama sembari menarik tanganku. Aku yang masih bengong tak mengerti dengan maksud Fabian mengatakan seperti itu padaku. Sementara Pandu dan Gazela juga tampak ikut terkejut mengetahui Fabian tiba-tiba mengajakku pulang bersama. Walaupun pada akhirnya Fabian mengajakku untuk pulang naik bis, aku masih saja tak mengerti dengan sikap Fabian padaku.


Terbangun karena sadar bahwa kejadian baru saja iu ternyata mimpi. Aku masih penasaran dengan arti mimpi itu. Dadaku langsung berdegup kencang saat menyadari hal tersebut.


Beberapa hari setelah aku bermimpi seperti itu. Malam berikutnya aku mengalami kejadian yang hampir sama.


Merasa berada di SMA lagi dan seperti biasa mereka menyuruhku untuk menanti Gazela keluar kelas yang berada di kelas 12 IA 1. Menunggu kelas mereka keluar dengan durasi lama, sudah terbiasa sekali untukku. Tiba-tiba saat kelas 12 IA 1 keluar kelas, mereka tampak berhamburan dan aku tercengang melihat Fabian tengah bertengkar dengan teman sekelasnya. Dan terdengar juga Fabian mengancam temannya ”Tunggu pembalasanku besok”. Melihat itu aku berusaha melerai keduanya, tapi ternyata Fabian menarik tanganku dan mengatakan”Yuk Mi, pulang”. Dengan ekspresi menahan emosinya Fabian masih saja menggenggam tanganku. Tanpa persetujuanku, akhirnya aku menurut kata Fabian yang masih terbawa emosi itu sembari berjalan di belakangnya.


Lagi-lagi terbangun karena kejadian itu pastinya mimpi yang datang tak terduga. “Sudah hampir dua kali ini aku mimpiin dia dengan tingkahnya yang selalu membuatku semakin bertanya-tanya. Ada apa denganku dan Fabian ya? Padahal ini juga sudah terpisah kampusnya, tapi Fabian masih setia menghampiriku dimimpi” batinku mulai bergejolak tak menentu.


Semenjak kejadian itu juga, aku semakin merenung tentang apa yang tengah kualami lewat mimpi itu. Padahal akhir-akhir ini mikirin Fabian juga nggak.


......................


Satu semester berlalu, kini aku memasuki semester 2 di Bulan Maret ini. Setelah liburan semester satu setengah bulan, akhirnya berangkat kuliah lagi dengan status semester 2.


Tanggal 1 Maret 2011. Hari ini aku yang akan mulai masuk kuliah seperti biasa tapi siang. Berangkat kuliah agak awal, karena menanti bis adalah ujian terbesarku sampai kampus. Padahal rute rumah ke kampus jaraknya dekat. Tapi gara-gara menanti bis yang lama itu, berasa jarak menuju kampus sangat jauh.


Sesampainya kampus, ternyata masih ada beberapa yang berangkat. Berhubung hari ini hari pertama kuliah, jadi penyampaian materi hanya sebatas kontrak kuliah saja dan digabung bersama kelas ganjil. Kuliah berakhir pukul setengah tiga sore. Setelah itu untuk sampai ke pemberhentian bis, aku membonceng temanku yang dekat denganku sejak semester 1 lalu. Tak berapa kemudian bis datang untuk mengantarkanku pulang.


Sesampainya depan perumahan, aku turun. Tiba-tiba teringat sesuatu dan membalikkan badan menuju minimarket depan perumahan karena ingin membeli sesuatu disana. Setelah membeli apa yang kubutuhkan, segera keluar minimarket dan melangkahkan kaki untuk pulang. Saat menyeberang, aku melihat seseorang yang tak asing bagiku.”Fabian....” gumamku. Saat ku tegur, ternyata Fabian juga menegurku sembari menghentikan motornya.


Akhirnya........


“Fab!Mi...!” tegurku dan Fabian serentak.


“Mau kemana?” tanyaku dan Fabian serentak lagi.


Mendapati kejadian baru saja, aku sangat terkejut sekali. “Kok bisa kompakan gini negur sama nanya mau kemananya?” batinku sedikit salah tingkah.


“Aku mau pulang Fab, eh anterin dong” terangku sembari memberi candaan kepada Fabian.

__ADS_1


“Eh, tapi aku mau ke toko material dulu Mi. Bentar ya” kata Fabian penuh senyum.


“Oke Fab...” anggukku yang mulai menanti Fabian.


Kemudian motor Fabian dinyalakan dan meninggalkanku. Sementara aku menanti Fabian yang tengah di toko material itu. Tiba-tiba tanpa sengaja aku melihat Papaku melewati toko material dan masuk ke dalam perumahan. Langsung aku dihinggapi perasaan parno, panik, dan mulai berpikir macam-macam. Karena rasa panik dan takut yang bercampur aduk bergemuruh dihatiku menjadi satu. Kuurungkan niatku untuk menebeng Fabian, walau sebenarnya perasaanku ragu dan cukup merasa tak enak hati juga dengan Fabian.


Segera aku menghampiri Fabian yang masih di toko material itu.


“Fabian” panggilku untuk Fabian.


Fabian yang tengah memilih sesuatu di toko material, langsung menghentikan kegiatan memilih karena aku memanggilnya.


“Iya Mi, kenapa?” tanya Fabian.


Ingin mengatakan kalau nggak jadi nebeng rasanya berat sekali, tapi aku langsung saja mengatakan ini padanya sembari menahan perasaan.”Hmm.. Fab. Aku nggak jadi nebeng kamu saja deh. Nggak apa-apa kan?”


Fabian terkejut saat aku tak jadi menebengnya, mungkin Fabian mikir kelamaan nungguinnya jadi aku ingin cepet pulang. Padahal bukan begitu, takut kalau ditanya Papaku. Hatiku masih merasa benar-benar tak enak hati pada Fabian.


“Eh, beneran Mi, kamu nggak apa?” tanya Fabian sekali lagi.


Rasa tak enak hati semakin bergemuruh di dadaku, ingin rasanya aku menarik perkataanku tadi. Tapi aku langsung mengatakan.”Iya Fab, nggak apa-apa kok. Aku jalan kaki saja”


Deg! Rasa menyesal itu semakin menjadi-jadi dan bergemuruh sakit di dada. Tapi untuk menutupi itu semua, aku membalas.”Iya Fab, kamu juga ya”


Mendengar aku berkata demikian, kulihat Fabian berpikir lama. Melihat ekspresi itu, aku mengumpat geli dan membatin”Kamu ternyata masih seperti dulu ya Fab...”


Sadar aku tadi mengatakan seperti itu, Fabian langsung tersenyum sembari mengangguk dan menjawab.”Ya....”


Setelah kejadian itu, rasa menyesal semakin mendera batinku. Langkah kakiku gontai sembari melangkahkan kaki masuk perumahan. Ingin rasanya aku berbalik badan dan menarik kata-kata tapi itu tindakan konyol. Rasanya tak mungkin sekali. Aku segera melupakan, walaupun kejadian baru saja terus-terusan menari dibenakku. Aku seperti disadarkan dengan kejadian tersebut. Entah kenapa, kenangan demi kenangan saat di SMP dan SMA bermunculan lagi di ingatanku. “Sorry Fab, aku sebenarnya hanya bercandain kamu doang, aku nggak ingin perasaanku ke kamu semakin dalam. Iya, karena aku suka kamu” sesalku dengan perasaan sedih sekali dan menyadari bahwa tindakanku selama ini pengecut.


......................


Sejak kejadian itu pula, rasa menyesal di hati tak henti-hentinya bergemuruh di dadaku. Aku kalut sampai berhari-hari lamanya, aku melakukan tindakan yang semestinya tak kulakukan untuk Fabian. Sebenarnya moment langka ini adalah kesempatanku.


Mungkin karena tinggi gengsiku yang menyebabkan ini semua jadi menyesal. Dan semenjak kejadian itu pula, aku tak pernah dipertemukan lagi dengan Fabian. “Hahh, mungkin ini tindakanku sendiri yang berakhir seperti ini. ” batinku yang tak henti-hentinya menyesali kejadian manis itu. Dari kejadian ini pula menyadarkanku bahwa aku memang menyukai Fabian.

__ADS_1


Entah kenapa, semuanya tak mau hilang dari ingatanku. Semua kenangan manis itu selalu menari-nari dibenakku. Mengingat sikap dan tingkah Fabian yang begitu baik padaku. Rasanya semakin menjadi serba salah saat aku ingin melupakan Fabian dan belum lagi aku semakin memimpikannya. Padahal posisiku saat ini tengah mengidolakan teman kampusku sendiri. Tapi bayangan Fabian sangat kuat bersemayam di benakku.


Malam ini, aku sepertinya ketiduran di kamar karena merasakan kelelahan sepulang kuliah.


Suatu malam, aku yang tengah keluar dari MiniMarket dekat Perumahan. Mendadak ada yang memanggilku.”Mi...”


Saat menoleh, ternyata Fabian yang memanggilku. Segera aku menghampiri Fabian dengan menutupi perasaan salah tingkahku malam ini.


“Eh, Fabian...” cengirku dengan mengumpat perasaan girang.


Kemudian Fabian menarik tanganku dan ingin menyampaikan sesuatu padaku. “Aku ingin ngomong serius sama kamu” pintanya dengan ekspresi wajah yang memang serius. Aku bengong saat mendapati Fabian begitu. Mendadak jantungku seakan berhenti saat mendengar Fabian berkata demikian. “Deg!Apaan ya...” tanyaku dalam hati.


“Ngomong apa Fab?” tanyaku penasaran.


“Fean siapa sih?” tanya Fabian dengan ekspresi curiga.


Aku terkejut sekali. “Deg! Fean? Kok Fabian bisa tahu nama teman kampusku?” batinku semakin bingung.


“Fean teman kampusku Fab, kenapa sih?” terangku lalu menanyai Fabian balik.


“Kamu naksir dia ya?” tanya Fabian dengan ekspresi wajah tak suka.


Lagi-lagi aku terkejut dengan pertanyaan Fabian. “Kenapa Fabian tahu dengan hal ini?” tanyaku dalam hati.


“Eh? Aku cuma sekedar ngefans saja Fab. Nggak lebih dari itu deh” jawabku sembari meluruskan pertanyaan Fabian.


“Kamu nggak boleh ngefans, apalagi sampai naksir” ucap Fabian tiba-tiba.


“Fab, aku cuma ngefans doang. Nggak lebih dari itu kok. Kenapa sih nggak boleh?” tanyaku balik.


“Aku jealous Mi, kamu ngefans dia” terang Fabian berkata jujur.


Mendengar penuturan Fabian yang mengatakan bahwa dia jealous dengan teman kampusku, aku terkejut sekali. “Fabian jealous denganku? Jadi artinya?” batinku sembari menerka ekspresi Fabian yang tak menyukaiku ngefans cowok lain. Belum selesai pembicaraanku dengan Fabian di depan MiniMarket itu...............


Tiba-tiba aku terbangun karena sadar belum solat Isya. “OMG! Mimpi kalau Fabian mengatakan perasaan jealous-nya padaku? Pertanda apalagi ini?” kejutku setelah sadar bahwa kejadian baru saja hanya mimpi. “Aku nggak bisa ngerti dengan apa yang kualami ini. Kenapa Fabian bisa tahu kalau aku mengidolakan teman kampusku itu?” batinku masih bertanya-tanya.

__ADS_1


Entah sejak kapan, perasaan mengagumi teman kampusku kian pudar. Karena kalau aku mengidolakan seseorang pasti juga tak bertahan lama. Seiring berjalannya waktu, perasaan mengagumi sosok Fean semakin hilang dan digantikan oleh bayangan Fabian yang terus-terusan tak mau hilang dan selalu berputar manis dibenakku. “Kenapa sih, aku sepertinya nggak boleh naksir orang lain selain Fabian sendiri. Dan selalu saja begini saat aku tak sengaja mengagumi orang lain” batinku semakin bertanya-tanya terus.


......................


__ADS_2