First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Tak terasa kini telah menginjak Semester 2 di kelas 11 SMA. Aku senang, karena di detik-detik kelas 11 ini kemungkinan besar akan berpisah atau diacak kelas lagi saat kelas 12 nantinya. Alasan lain karena diakhir kenaikan kelas mengadakan Piknik ke Bali. Agenda bagi para murid-murid kelas 2 SMA.


Awal-awal tahun 2009, tepat bulan Januari. Masih di tema yang sama di tahun-tahun sebelumnya, ternyata datangnya Fabian di mimpi masih berlanjut hingga sekarang. Aku sendiri tak mengerti apa yang membuatku memimpikannya lagi di tidurku. Padahal mikirin dia juga nggak terlalu, tapi entah kenapa mimpi itu tak pernah hilang dari tidurku tepatnya. Efek dari kejadian setelah bertemu dengan Fabian lewat mimpi, saat bertemu di sekolah rasa salah tingkah bergelayut lagi di hati. Apalagi kalau bertemu dengannya dan langsung tersenyum manis padaku. Rasa salah tingkah itu semakin menjadi.


Seperti Sabtu lalu, tepat tanggal 17 Januari 2009. Aku pulang seperti biasa menaiki bis bersama Luna dan Gazela. Tapi ternyata kulihat Fabian siang ini juga akan menaiki bis saat pulangnya bersama Anto yang dulunya juga adik kelas sewaktu SMP. Bis yang kami tunggu-tunggu ternyata lama sekali datangnya, rasa jenuh mulai memdera di siang ini.


Saat bis yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Tapi saat kami akan menaiki bis tersebut, ternyata sudah penuh sekali. Kulihat juga Fabian bersama Anto juga tak bisa masuk ke dalam bis, bahkan mereka terlihat memegangi besi yang berada di atas bis.


Aku iseng meledek Anto yang memang dia itu tetanggaku juga.”Ih, gelantungan kamu kayak monyet”.


Tapi Anto tak merespon, malah yang menoleh Fabian. Dan langsung saja Fabian melemparkan senyuman kearahku. Seperti biasa, aku refleks membalas senyuman dari Fabian dengan penuh tanda tanya lagi di benakku.


......................


Di awal-awal kelas 11 SMA semester 2 ini juga entah kenapa, aku lama-lama membenci perlakuan Puji padaku. Rasa sabar itu sudah tak bisa di bendung lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah tempat duduk yang berbeda dengan Puji. Karena aku sendiri sudah tak tahan dengan sikap seenaknya padaku. Mengetahui hal tersebut, teman-teman sekelas merasa kepo dan menanyai tentang apa yang terjadi padaku dan Puji.

__ADS_1


Aku langsung saja menceritakan hal tersebut kepada sebagian teman-teman cewek di kelas. Setelah bercerita, entah apa yang membuatku langsung merasa lega. Ekspresi mereka hanya manggut-manggut, bahkan ada yang memberiku nasihat tentang apa yang terjadi antara aku dan Puji.


Suatu hari, tepat hari Sabtu siang. Kelasku mendapat giliran masuk di laboraturium komputer. Saat aku hendak keluar kelas menuju laboraturium komputer, tiba-tiba Puji memberiku sebuah surat. Aku mengerutkan dahi saat mengetahui itu. “Cari muka sekali sih dia ini, jadi males deh. Ngapain coba kasih surat segala ke aku” batinku masih merasa sebal plus jengkel dengan sikap Puji.


“Suratnya baca ya Mi” pinta Puji penuh harap.


Saat Puji memintaku suruh membaca suratnya, ekspresiku langsung melengos dan tak bersahabat. Aku mengangguk dengan perasaan setengah hati sembari menerima surat dari Puji. Aku membaca surat tersebut saat di ruang Laboraturium Komputer. Isi surat tersebut menyatakan permintaan maaf padaku, Luna, Tyas, dan Gazela tentang peristiwa setahun silam yang telah membohongiku. Rasanya sangat malas menerima permintaan maaf dari Puji. Dalam surat itu, Puji sama sekali tak mengatakan minta maaf kepada Fabian. Padahal menurutku, Puji melakukan kesalahan terbesar kepada Fabian saat mengaku banyak hal tentang kebohongan dan mengaku dekat dan akrab dengan Fabian.


Setelah membaca surat dari Puji, aku masih merasa malas dengannya apalagi mengingat sikap-sikapnya yang sudah keterlaluan itu. Teman-teman sekelas mengetahui saat aku diberi surat dari Puji. Aku mengizinkan mereka membaca surat tersebut tanpa mempedulikan gerak-gerik Puji melihatku mempertontonkan surat pemberiannya. Setelah mereka surat yang Puji beri padaku, mereka seperti menyupportku untuk memaafkan tingkah Puji itu.


Saat pulang sekolah, aku menunjukkan surat tersebut kepada mereka bertiga untuk ikut membacanya. Setelah membaca, tampak ekspresi Tyas langsung merasa ilfill.


“Terus, kamu maafin dia Mi tadi?” tanya Gazela padaku.


Aku menggeleng singkat kearah Gazela dengan ekspresi badmood. Mendapati ekspresi itu, Gazela hanya manggut-manggut saja. Sementara Luna sendiri juga tahu apa yang terjadi padaku dan Puji. Luna hanya bisa menguatkanku saat aku mendapatkan masalah itu.

__ADS_1


Sesampainya rumah, aku membaca suratnya lagi. Rasa ilfill itu muncul lagi dan benakku langsung flashback pada kejadian demi kejadian yang menyakitkan itu. “Sudahlah, aku malas harus mengingat itu lagi” sebalku sembari membuang surat itu di tempat sampah.


......................


Ditengah-tengah konflikku dengan Puji, aku merasa masih mendapat senyuman manis dari Fabian. Senyuman manis tanpa dosa itu selalu mengingatkanku atas perbuatan kejamku yang melibatkan Fabian. Dari wajah Fabian dengan penuh senyum itu, aku bisa merasa teduh saat melihatnya. Perasaanku semakin sakit saat mengingat kejadian dan berburuk sangka terlebih dahulu telah menuduhnya, mungkin efek dari cerita yang di sampaikan Puji yang seakan meyakinkanku. Rasanya bibirku ingin mengucapkan kata Maaf kepada cowok yang selalu memberikanku sebuah senyuman manis yang tulus itu. Tapi aku belum berani mengucapkan kata Maaf pada Fabian. Yang aku takutkan saat aku mengucapkan kata Maaf dan mengatakan yang sebenarnya adalah Fabian pasti tak mau menegur sapa denganku lagi. Aku tahu sih, mengatakan jujur itu menyakitkan. Tapi hal yang kutakuti selama ini adalah kehilangannya. Entah kenapa perasaan ini semakin dalam terhadapnya. Seharusnya aku tak melakukan seperti yang Puji lakukan padaku. Rasa menyesal itu semakin menari-nari dipikiranku.


Tanggal, 20 Januari 2009. Siang ini saat sepulang sekolah seperti biasanya, aku yang pulang bersama dengan Luna dan Gazela. Ternyata Fabian juga naik bis lagi bersama tetanggaku yang juga masih adik kelas. Saat di bis ini juga, aku berdiri di belakang tepat bersama Fabian dan Anto. Aku yang tengah berpegangan besi ditengah jendela bis itu mendadak merasa ada tangan jahil yang membuka tasku dan mengambil buku-buku dan alat tulis yang lainnya. Yup, siapa lagi kalau bukan Anto yang melakukan itu.


“Ih, kamu nakal ya ngambilin buku sama penggarisku” protesku.


Tampak Anto hanya tergelak saja setelah melakukan aksi jahilnya itu. Saat aku minta untuk memasukkan buku dan penggaris itu ditasku lagi, dia langsung menolak. Akhirnya aku meminta tolong Fabian untuk memasukkan buku dan penggaris di tasku lagi.


“Fab, tolong dong masukin ditasku” pintaku sembari menyerahkan buku dan penggaris untuk dimasukkan ke dalam tasku.


Dengan berbaik hati, Fabian mengambil buku dan penggaris dariku untuk dimasukkan ke dalam tasku. Saat aku dijahilin dengan Anto, Fabian hanya tersenyum saja. Setelah Fabian memasukkan semua ke dalam tasku, aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Rasanya semakin salah tingkah saat melihat Fabian merespon dengan anggukan dan senyuman padaku.

__ADS_1


......................


__ADS_2