
"Awas ya Edo kamu , ternyata kamu lebih kayak daripada Randi harusnya kamu dulu yang aku jebak, lihat saja kamu akan jadi milik ku Edo, kita tunggu tanggal mainnya" Batin Denada dengan percaya diri.
Ada yang gatel tapi bukan ulat bulu tapi bibit pelakor yang seenak jidatnya mengklaim suami orang sebagai miliknya, Di jaman serba modern ini memang Pelakor sangat meraja Lela bahkan terang-terangan menggoda dan merebut, seperti urat malunya sudah putus jadi menghalalkan segala cara untuk merusak hubungan orang lain.
----------------
Jam sudah menunjukkan 13.00 Edo dan Lisa mampir ke masjid terlebih dahulu sebelum pulang ke apartemen. Di dalam perjalanan ke apartemen Lisa hanya diam saya, Edo melirik Lisa, " Apa Lisa marah biasanya dia banyak cerita sekarang cuma diam saja" batin Edo.
"Sayang " panggil Edo kepada istrinya.
Lisa menoleh dan tersenyum" iya mas ada apa?".
"Kenapa kamu diam saja, apa kmu marah dengan kejadian tadi? tanya Edo.
"Marah.. marah soal apa , soal mbak Denada, iss.. buat apa marah , toh semua perempuan yang melihat mas Edo pasti klepek-klepek, Lisa diam memikirkan menu apa yang Lisa masak nanti sepertinya kita kehabisan stok daging" ujar Lisa dengan polosnya.
"Kamu gemesin banget sih, aku kira istriku ini marah ternyata mikirin bahan dapur " ucap Edo sambil mencubit pelan hidung Lisa.
Edo menghentikan mobilnya di depan supermarket. Mengajak Lisa belanja mingguan dia lupa kalau belum belanja mingguan, mungkin diamnya istrinya memberikan kode keras untuk di ajak belanja mingguan. Setelah selesai belanja Edo mengajak istrinya makan di restauran milik Lisa saja daripada capek-capek masak sudah menjelang sore juga ini makan siang yang kesorean.
"Mbak tolong semua menu yang ada di sini dengan porsi kecil sekalian di koreksi istriku apa-apa yang kurang" ucap Edo pada karyawan restauran.
"Baik tuan" jawab karyawan tersebut.
Mereka menunggu makanan sambil ngobrol santai. Mereka tidak sadar ada yang mengawasi kegiatan mereka, siapa lagi yang mengawasi kalau bukan Denada . Denada sengaja membuntuti mereka.
Setelah menunggu 20 menit akhirnya makanan yang di pesan sudah datang, semua terlihat enak dan menggugah selera. Lisa mencicipi satu persatu menu yang di sajikan menurut Lisa enak semua.
"Bagaimana istriku penilaian masakan chef di sini?" tanya Edo.
"Ini bumbu gado-gado dan pecel enak tapi kurang otentik soalnya bumbunya di blender bukan di uleg coba di uleg pasti keluar cita rasa yang lebih otentik, ini nasi bakar harusnya di bakar mengganggukan daun pisang bukan aluminium foil jadi baunya lebih harum tapi semua oke, kecuali rendang ini , terlalu terburu-buru masaknya jadi daging sedikit alot dan bumbunya kurang meresap" ucap Lisa sambil mencicipi masakan tersebut.
__ADS_1
"Wahh ... istriku memang hebat memiliki lidah Nusantara yang aku acungi jempol." ujar Edo sambil mencium tangan Lisa.
"iss.. dasar murahan , pengen ku siram tuh istri Edo pakai teh panas biar melepuh tuh wajah jeleknya yang sok imut dan sok alim , pakek tersipu-sipu malu paling juga wanita jal*ng" batin Denada dari kejauhan.
Lisa merasa ada yang mengawasi jadi di coba mencari siapa yang mengawasi mereka. Ternyata Denada mengawasi di barisan meja nomer empat, terlihat belahan roknya sampai ke paha dan semangkanya menonjol seperti akan lompat dari wadahnya.
"ehhh ... masih ngikutin aja tuh mbak Denada, kepo banget sama urusan orang" batin Lisa.
"Mas sepertinya temen mas yang bernama mbak Denada ngikutin kita, dia ada di meja nomer empat, stop tapi jangan menoleh zina mata , bajunya sobek kiri kanan soalnya" ucap Lisa sambil menulis kurang dan lebihnya rasa masakan yang dihidangkan.
"Biarin aja toh dia tidak akan bisa membangkitkan hasrat ku, aku hanya berhasrat dengan yang berlogo halal saja" ujar Edo.
"Berarti aku ada cap MUInya doang , kan harus halal" Lisa menjawab sambil tertawa.
"Kamu bisa saja istriku, yang halal itu lebih enak, berpahala dan lebih legit mengigit" Edo berbisik ke telinga istrinya.
"Stop mas bikin merinding bulu roma ku" Lisa merasa geli dengan perlakuan suaminya.
Mereka memutuskan untuk ke taman tidak ingin pulang terlebih dahulu takut Denada mengetahui alamat apartemen mereka. Mereka jalan-jalan di taman tabebuya di Jakarta Selatan. Tamannya sangat indah di hiasi dengan pohon tabebuya berwarna pink seperti pohon sakura.
"Ayo foto aku di bunga kuning itu mas " ucap Lisa.
ckrek ckrek .... "cantiknya istri ku" Edo terkagum-kagum pada kecantikan Lisa.
ini hasil jepretan foto Edo
"Kamu jangan cantik Istriku membuat aku semakin cinta, pantas saja ibuk memberikan mu nama Bunga Kalista memang kamu cantik seperti Bunga, I Love you Bunga Kalista, Ucap Edo dengan romantis.
__ADS_1
"I love you so much suami ku" Lissa tersipu malu atas gombalan suaminya. Mereka segera melaksanakan sholat setelah menemukan masjid terdekat.
"sial gue ketinggalan jejak mereka, awas ya akan ku selidiki kalian tinggal di mana, akan ku kejar Edo sampai bertekuk lutut di depan ku, tunggu tanggal mainnya" batin Denada sambil menyeringai.
Jam 16.00 Lisa dan Edo sampai di apartemen, Lisa segera menyiapkan air mandi dan pakaian ganti untuk suaminya. Lisa bergegas ke dapur untuk memasak makan malam menu hari ini mie ayam spesial dan somay isi udang. Sat set Lisa memasak setelah selesai Lisa segera mandi .
"Hemmm... wanginya masak apa dek? tanya Edo.
"Masak mie ayam spesial dan somay isi udang mas " jawab Lisa sambil menyiapkan mie ayam untuk Edo.
"Mantap ini dek, jadi kangen kampung halaman , gimana kalau Minggu depan kita pulang ke Malang" tawar Edo kepada istrinya.
"Wahh ... boleh mas asal mas gak sibuk,kangen Ibuk ayah sama adik-adik” ucap Lisa dengan semangat.
Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Inginku kenang selalu
Hatiku damai
Jiwaku tentram di samping mu
Hatiku damai
Jiwa ku tentram
Bersamamu
__ADS_1
ea ea ea ....
Bersambung....