Gadis Berhijab Perebut Hati Tuan Muda

Gadis Berhijab Perebut Hati Tuan Muda
episode 33


__ADS_3

Malam yang indah di lewati dua insan yang kembali menemukan cintanya, menyatukan dua hati yang dulu pernah terpisahkan.


"Mas " panggil Lisa.


Edo mendongak menatap istrinya "iya sayang" Edo berada di pangkuan Lisa.


Lisa mulai berfikir untuk mencari kata-kata yang tepat untuk bertanya "Kenapa dulu mas ninggalin Lisa, apa Lisa seburuk itu hingga mas ninggalin Lisa?".


Edo bangun lalu memeluk Lisa yang duduk di sandaran tempat tidur "Maafkan aku dulu aku terlalu percaya dokter hingga aku terlalu kecewa pada diriku sendiri dan takut mengecewakan mu, mungkin caraku salah mencintaimu tapi dulu aku beranggapan aku tidak bisa memberikan mu anak jadi untuk apa kita bertahan dalam pernikahan dulu aku takut menyakiti mu" ucap Edo.


"Dulu aku mencintaimu tanpa syarat dan sekarang pun juga, "


Mereka saling berpelukan dan bersiap-siap istirahat untuk menyambut hari esok yang lebih baik, bukankah hidup terus berjalan , bahagia atau tidaknya itu kita yang menentukan , bila sekecil apapun yang kita peroleh apa bila kita bersyukur pasti akan terasa bahagia.


Jam 04.00 Lisa terbangun dia membangunkan suaminya untuk siap-siap sholat subuh berjamaah, jangan lupa amalan sebelum dan sesudah sholat subuh.


Lisa segera membuka jendela kamar, merasakan udara subuh yang sejuk tanpa tercemar asap polusi, Edo memeluk istrinya dari belakang membuat suasana menjadi romantis di pagi hari.


"Jadi kangen anak-anak, ayo nanti ke rumah papa buat jemput anak mas?" tanya Lisa.


"Iya sayang" jawab Edo.


Lisa segera turun ke bawah membantu art untuk memasak sarapan, hari ini menu simpel nasi salad dan sandwich. Kebiasaan sarapan Edo sedikit berubah ketika dia lama di Inggris.


Setelah selesai membuat sarapan Lisa naik ke atas untuk menyiapkan baju kantor suaminya. Setelah selesai menyiapkan keperluan suaminya. Lisa mencari Edo ke seluruh penjuru ruangan tapi tidak menemukan suaminya.


"Mas ... mas .... di mana?" panggil Lisa, tapi tidak ada sautan sama sekali dari Edo.


Setelah mencari-cari ternyata Edo di balkon sedang telfonan entah dengan siapa. Terdengar sayup-sayup Edo membicarakan tentang mantan istrinya yang sudah meninggal.

__ADS_1


Hati Lisa sedikit terusik tapi kenapa dia harus cemburu dengan orang yang sudah meninggal. Tapi hati Lisa tidak bisa di bohongi, Lisa jelas cemburu dan kenapa Edo juga menelfon harus jauh-jauh.


”Ya Allah jagalah hati ku janganlah berburuk sangka dengan suamiku" batin Lisa.


Edo masuk, melihat istrinya melamun duduk di atas tempat tidur. Penasaran apa yang difikirkan istrinya sehingga dia tidak sadar bawah dirinya masuk dari tadi.


"Sayang " panggil Edo.


"Maaf tadi aku dengar kamu membicarakan istri mu yang katanya dulu meninggal, kalau boleh tahu ada masalah apa?" tanya Lisa.


"Tidak ada masalah apa-apa dek" ucap Randi yang berjalan ke ruang ganti.


Lisa menghela nafas panjang. Rasanya Lisa ingin menangis entah kenapa rasanya sesak di dada dengan jawaban suaminya,


"Astaghfirullah Astaghfirullah " Lisa berucap dalam hati sambil menahan tangisnya.


Tapi tangis itu tak bisa di bendung Lisa terisak sambil memukul-mukul dadanya yang sesak.


"Sayang kamu kenapa , jangan menangis dan jangan dipukul terus nanti dadanya sakit" ucap Edo dengan panik.


Sambil sesenggukan Lisa berkata dengan terbata-bata "Kamu gak jujur mas dengan cerita mantan istri mu apa kamu pikir aku nggak cemburu" ucap Lisa sambil sesenggukan.


Edo ingin tertawa melihat istrinya menangis seperti anak kecil , Ternyata dia cemburu manis sekali membuat Edo gemas .


"Sayang jangan menangis ya cup... cup ... cup ... , baiklah aku akan cerita , mantan istriku itu ternyata masih hidup dan tidak sengaja kami bertemu di Inggris, tapi dia sudah menikah dengan orang lain jadi kamu tidak perlu khawatir" ucap Edo sambil memeluk istrinya.


"Apa .. di Inggris jadi mas dulu menceraikan ku gara-gara ketemu mantan istri mas" Lisa sungguh terkejut.


"Sebenarnya salah satunya itu tapi ternyata aku salah besar, aku terlalu mencintaimu" Edo menjelaskan dengan pelan.

__ADS_1


Lisa sungguh tidak menyangka dia di ceraikan gara-gara orang lain. Lisa menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya mungkin inilah takdir yang harus di jalani Lisa.


Lisa harus ikhlas dan sabar. Sabar itu memang tanpa akhir. Sabar harus disertai keikhlasan saat menerima suatu takdir. Berbagai takdir dan tantangan dalam hidup harus disertai dengan kesabaran walaupun hasil akhirnya belum sesuai dengan harapan.


"Maaf mas mungkin Lisa terlalu lebay" Lisa beranjak ke kamar mandi meninggalkan Edo sendiri ,Lisa ingun mencuci muka dan sedikit mengompres mata yang sedikit bengkak karena menangis tadi.


"Iss salah terus ya apa gini rasanya di cemburui asik juga " Edo berbicara sendiri,


Edo dan Lisa sarapan bersama tapi Lisa diam cemberut saja , walaupun begitu Lisa tetap melayani suaminya dengan baik.


”Jangan cemberut di depan rejeki sayang" ucap Edo sambil memegang tangan istrinya.


"Astaghfirullah maaf mas, mood ku hari ini sangatlah kacau, " Ucap Lisa dengan senyuman.


Edo mengantar istrinya ke mansion orang tuanya untuk menjemput anak-anak. Edo mampir sebentar sebelum pergi ke kantor.


Setelah menyapa papa mama dan kedua anaknya Edo pamit berangkat kerja, Mama Edo melihat mata sembab menantunya dia sangat penasaran kenapa menantunya menangis .


"Nak mata mu sembab, kamu bertengkar dengan suami mu?" tanya mama Edo.


"Tidak ma , cuma mood ku lagi kacau tiba-tiba ingin menangis " jawab Lisa.


"Jujurlah ke mama nak jangan simpan masalah mu seperti dulu?" desak mama Edo , dia ingin tahu kenapa menantunya pagi-pagi sudah menangis sampai sembab.


"Mas Edo ketemu mantan istrinya ma " ucap Lisa dengan mata berkaca-kaca.


"Apa dia masih hidup, bukanya di meninggal, sebenarnya Edo dan Diana menikah tidak izin papa mu , papa mu tidak setuju dengan Dian karena kita beda keyakinan dan mereka menikah diam-diam di gereja, itu membuat papa murka makanya papa lebih menyayangi mu karena kita seiman dan seamin nak, seandainya dulu Edo minta papa baik-baik pasti papa juga mengizinkan tapi dia malah diam-diam dan durhaka terhadap papa" ucap mama Edo.


Dalam setiap kehidupan manusia tentu saja selalu ada rintangan dan hambatan yang terus menghadang. Ketika menghadapi semua itu kita tentunya harus kuat. Meskipun Orang-orang sekitar tentu saja akan berusaha menguatkan dengan menyebut kata sabar maupun ikhlas. Tentu saja kedua kata tersebut sangat mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dijalankan. Meskipun demikian, kamu harus tetap tabah dalam menghadapi beragam cobaan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2