
Hari-hari yang di jalanin serasa kelam bagi Edo cahaya di rumahnya seakan-akan redup pelita hatinya terbaring tak berdaya di rumah sakit , hari-hari Edo hanya di selimuti kegelapan hanya ada kekhawatiran yang menderanya, dia putus asa dengan jalan takdirnya . Kebahagiaan yang dia rasa hilang sirna.
"Do " tegur papa Ridwan (papa Edo).
"Iya pa" Edo menoleh , hanya wajah sendu yang di tampilkan Edo.
Papa Ridwan menghela nafas panjang " Jangan kamu larut salam kesedihan mu, kamu harus kuat demi anak-anak mu" Papa Edo menepuk pelan pundak Edo untuk memberikan semangat putranya.
Satu minggu sudah Lisa tidak sadarkan diri berbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan alat-alat yang menempel di tubuhnya. Bunyi alat-alat medis membuat Edo mengingat masa lalunya dulu dia juga terbaring lemah di sana dan di tinggalkan tapi sekarang dia bertekad untuk menjaga istrinya sampai dia bangun.
.
.
.
"Ma , Bu " panggil Edo.
"Iya nak kami di sini" teriak Ibu Lili (Ibu Lisa).
"Hai jagoan-jagoan dan princess papi " Edo menghampiri anak-anaknya yang ada di taman , Edo mecium satu persatu anak-anaknya.
"Mau ke mana nak?" Mama Edo bertanya.
"Mau ke rumah sakit menemui istri tercinta" ucap Edo yang Husein .
"Hati-hati di jalan papi salam buat mami kami kangen mami" ucap Zafarani berlari memeluk papinya.
"Iya sayang" Edo mecium pipi putri satu-satunya.
Edo memberi naman anak kembar tiganya Husein Putra Rajasaka , Hasan Putra Rajasaka, Harun Putra Rajasaka.
Edo segera pergi ke rumah sakit , jarak dari rumah ke rumah sakit tidak terlalu jauh cukup memakan waktu 25 menit, Saat ini Lisa di pindahkan ke rawat inap khusus dengan alat medis yang canggih jadi Edo bebas keluar masuk untuk menemani istrinya karena di ruangan itu hanya ada Lisa seorang.
"Assalamu'alaikum sayang ku, Mas datang " Edo mencium kening Lisa.
"Wah .. istriku sekarang sudah kurus ya , seksi banget jadi kangen bermanja-manja sayang" Edo berbicara sendiri sambil menyeka tubuh istrinya.
Edo mengeluarkan ponsel dan memutar video anak-anaknya "Lihat ini sayang betapa centilnya anak perempuan mu dia merasa jadi princess di antara ke empat saudaranya" Edo terkekeh melihat tingkah anak-anaknya.
"Vidio terakhir Edo putar itu suara Zafar dan Zafarani"
Mami cepat sembuh kami kangen mami cepat pulang kami rindu masakan mami, lihat aku sekarang kurus" (suara cempreng Zafarani)
"Iss.. kurus dari Hongkong lihat pipi bulat mu seperti tahu bulat katanya kurus ,ya mami Kami rindu semoga mami dengar suara kami (Suara Zafar yang cool )
"Wekk biarin mami ayo pulang" (Suara Zafarani)
"owek owek owek" suara kembar menangis serempak mengakhiri Vidio tersebut.
Edo menyimpan ponselnya "Lihat anak-anak kita sayang dulu mereka tidak pernah bertengkar tapi sekarang hal sepele pun mereka selalu bertengkar" Edo mengecup tangan istrinya.
__ADS_1
Tiba-tiba jari Lisa bergerak tapi Edo tidak sadar , dia ketiduran dengan posisi duduk di samping brankar.
Lisa membuka mata silau lampu di kamarnya membuat matanya sedikit sakit . Dia melihat Edo terlelap dengan posisi duduk , Lisa mencoba membelai pucuk kepala suaminya tapi sedikit sulit karena badannya masih terasa lemas. Dengan susah payah akhirnya Lisa dapat membelainya.
Edo terbangun dia merasa ada yang menyentuh kepalanya.
Dia terkejut melihat istrinya sadar "Sayang kamu sudah bangun" Edo segera memencet tombol darurat.
Setelah beberapa menit doker dan perawat datang memeriksa Lisa "Alhamdulillah Ibu Lisa kondisinya sudah baik, kita bisa melepaskan alat-alat yang ada di tubuhnya, mungkin kondisinya sedikit lemah saja Pak Edo tapi dengan perawatan yang intensif bisa segera pulih" dr menjelaskan panjang lebar.
"Terimakasih dr" Ucap Edo yang sangat bahagia.
"Sayang ”Edo Mencium pipi , dahi, tangan istrinya dia sangat bahagia Edo langsung sujud syukur karena istrinya sudah bangun.
Lisa tersenyum melihat tingkah suaminya, dia sangat beruntung memiliki suami seperti Edo yang setia tulus mendampinginya saat dia lemah terbaring tak berdaya.
"Mas terimakasih" ucap Lirih Lisa.
"Terimakasih untuk apa sayang, " tanya Edo.
"Terimakasih sudah menemaniku dan menjaga ku" Lisa meneteskan air mata bahagia.
"Sayang jangan menangis , kita selalu bersama merawat anak-anak kita hingga mereka dewasa" Edo mengecup bibir istrinya sekilas.
.
.
Apartemen Dian..
"Ah .. sakit aku sudah tidak tahan lagi Bastian" keluh Dian merasakan kontraksi, tapi Bastian hanya santai memandangi Dian.
"Aku pergi Dian, aku tidak menginginkan anak itu, kamu yang memintanya bye ..." Bastian meninggalkan Dian yang sedang kontraksi tanda akan melahirkan.
"Dasar pria bajing*n awas kamu ," umpat Dian di dalam hati.
tut... tut... tut.. dian telfon kekasihnya yang lain tapi di abaikan, Dian mencoba menelfon Edo..
tut... tut..
📞 "Assalamualaikum, siapa? "Suara Edo di seberang sana.
📞 "Awh .. iss ... tolong aku Edo , aku mau melahirkan , tolong anakmu , ini anakmu" Dian memelas meminta bantuan tapi tetap saja mengatakan itu anak Edo.
📞 "Maaf Dian itu bukan anak ku tapi aku juga tidak tega dengan bayi yang tak berdosa itu , aku akan menyuruh Jo dan anak buah ku mengantarkan ke rumah sakit" ucap Tegas Edo.
tut ...
"Iss sangat menyebalkan kamu do" ucap Dian.
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
tut ...
📞 "Assalamualaikum Jo tolong kamu urus Dian, sepertinya dia mau melahirkan dan di tinggal kekasihnya, oh ya bilang bantuan ini dari Istriku" perintah Edo .
📞 "Baik Tuan segera saya laksanakan" Jawab Jo.
Setelah Jo menerima telfon Edo Segera pergi menuju apartemen Dian , sesuai perintah tuannya Jo akan membantu Dian membawanya ke rumah sakit.
tok .. tok .. tok ...
"Ya ... " Dian berjalan terseok-seok berpegangan ke dinding menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
Dian membuka di sana berdiri Jo dan dua pengawal berbadan tinggi dan besar.
Langsung saja pengawal itu mengendong Dian ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Setelah empat jam menunggu suara tangis bayi memenuhi ruangan tersebut . Dian sangat lega karena bayinya lahir selamat.
oek.. oek.. oek...
Abigail Bella Caroline itulah nama yang Di berikan Dian untuk putri kecilnya.
Setelah selesai di bersihkan Dian dan bayinya di pindahkan ke rawat inap.
Jo segera masuk dan berniat pamitan "Saya pamit nona Dian semua biaya persalinan mu sudah di tanggung oleh nyonya Lisa" Ucap Jo dengan wajah datar.
"Aku tidak butuh bantuan dari kalian dasar gak punya perasaan ini anak Edo, kalian menghina calon nyonya kalian" teriak Dian kesal.
Jo menyeringai "Mimpi jangan terlalu tinggi nona , bila jatuh kamu akan sakit,sesakit sakitnya" .
Jo pergi meninggalkan Dian begitu saja "Dasar sudah di bantu tidak ada rasa terimakasih , untung tuan muda memilih nyonya Lisa kalau tidak entah jadi apa" gerutu Jo.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Setelah selesai menolong Dian, Jo segera pergi dan tidak lupa melapor kepada tuannya.
tut... tut...
📞 "Assalamu'alaikum Jo, ada apa?" tanya Edo.
📞 "Waalaikumsalam Tuan muda sudah ku kerjakan sesuai perintah , " ucap Jo
📞 "Baiklah terimakasih atas bantuan mu" (Edo)
📞 "Tuan sebaiknya tetap waspada karena Dian tetap mengatakan itu anak tuan" Jo menjelaskan kepada taunya.
📞 "Baiklah Assalamu'alaikum" jawab singkat Edo.
📞 "Waalaikumsalam".
__ADS_1
bersambung