Gadisku Im Falling In Love

Gadisku Im Falling In Love
POV Rubi dan Hati Aldi


__ADS_3

#Crazy Up πŸ₯³πŸ₯³


Happy Reading πŸ₯°


Kevin dan Eliza keluar dari Ruangan Dokter dengan wajah yang begitu bahagia. Namun perhatian Eliza teralihkan melihat seseorang yang terasa familiar.


"Eh... bukannya itu..?" gumam Eliza.


"Ada apa sayang..?" tanya Kevin..


"ehmm.. gak yank.. aku salah lihat.." ujar Eliza.


"Tidak mungkin kan.. dia datang ke dokter kandungan.."batin Eliza.



POV Rubi



Setelah memakai topi hitam dan masker. Sebelum turun dari mobil, Rubi melirik kiri dan kanan melihat keadaan.



Dengan sangat berhati-hati Rubi berjalan di koridor Rumah Sakit.



"Sus.. aku yang tadi sudah buat janji dengan Dokter Maharani via telpon..."



"Atas nama siapa Bu..?"balas Suster.



"Rubi.." bisik Rubi ke suster.



"Baik Bu..Silahkan..."



Rubi masuk ke dalam ruangan.



"Selamat siang Nona..." sapa Dokter Maharani ke Rubi.



"Siang Dok.." balas Rubi dengan kikuk. Ini adalah kunjungan nya yang sudah ke tiga kali.



"Silahkan duduk..Bagaimana kabar babynya Nona.." ucap Dokter Maharani dengan ramah.



Dokter sangat ingat ketika pertama kali Rubi datang ke dirinya.



Rubi sempat mengalami shock berat setelah tahu dirinya hamil. Rubi mengalami depresi berat dan hampir membahayakan janinnya. Dokter Maharani menjadi orang yang selalu mendampingi dan memberikan support untuk Rubi.



"Baik Dok.." jawab Rubi singkat.



"Syukurlah.. jadi bagaimana dengan Mamanya baby..? Baik-baik saja ..? Sekarang kandungan kamu sudah berusia tujuh minggu...Apa mualnya masih parah..? " ucap Maharani lebih seperti ke seorang Adik perempuan.



"Mualnya sudah mulai berkurang dok.. Aroma terapi yang dokter kasih sangat membantu.."



"Syukurlah..."



"Lalu bagaimana dengan si Ayahnya..?"


__ADS_1


"Aku masih bingung Dok.. Apa saya harus memberitahukan berita ini ke ayah anakku.."



"Semua keputusan ada di tangan mu Nona Rubi. Tapi alangkah baiknya.. Kamu berbagi berita bahagia ini ke Ayah anak ini.." ucap Dokter dengan bijak.



"Dari awal aku tidak berharap Ayah anaknini bertanggung jawab. Karena memang perjanjian dari awal seperti itu..."



"Perjanjian..??" ujar Dokter Maharani dengan bingung.



"Hmm.. bukan apa-apa dok.." jawab Rubi dengan seulas senyum.



"Baiklah.. ini vitamin kamu ya.. Minum dengan rutin.. Jangan banyak pikiran.. Lakukan apapun yang terbaik untuk mu.. "



"Terimakasih Dok..Kalau begitu aku duluan.."



"Mau makan siang bersama..? hmm.. mauu ya ...?? " tawar Dokter Maharani dengan sedikit membujuk.



Dengan sedikit berpikir. "Baiklah.. " jawab Rubi dengan senyum yang merekah. Setidaknya saat ini dia tidak sendirian menghadapi keadaannya sekarang.



Sedangkan di Apartment Aldi. Liliana begitu kebingungan dengan kondisi Aldi saat ini.


"Masih pusing..?" tanya Liliana sambil mengurut punggung Aldi.


"hmm.. masih..." jawab Aldi.


Sudah lebih tiga minggu keadaan Aldi seperti ini. Kadang muntah, tidak nafsu makan, sakit kepala dan pernah demam selama empat hari.


Dan selama itu Liliana dengan penuh perhatian mengurus Aldi selayaknya seorang istri.


Aldi yang mendapatkan perhatian dari Liliana menjadi luluh dan kadang bingung dengan perasaan nya sendiri.


"Apa aku mulai jatuh cinta dengan dirinya..?" gumam Aldi dalam hati nya.


"Tidak mungkin.. dia hanya wanita ja*lang.. tidak mungkin aku menyukainya.. hmm... mungkin karena aku hanya terbawa suasana.."


"Aldi.. tunggu bentar ya.. aku terima telpon.." ujar Liliana.


"Hmmm ok..!"


Liliana pun keluar kamar dan menerima telpon.


'Iya Halo..' (Liliana)


'.....'


'Sorry, gak bisa hari ini..' (Liliana)


'....'


'hmm baiklah..nanti akan aku kabari lagi..' (Liliana)


'.....'


'Iya.. bye...' (Liliana)


Aldi segera berlari kembali naik ke atas kasur. Pasalnya tadi, setelah Liliana menutup pintu kamar. Aldi menyusul dan menguping pembicaraan Liliana dan sang penelpon.


"Ahhh..Kepalaku..." rin tih Aldi sambil melirik ke arah Liliana.


"Sakit lagi..?" Liliana menghampiri Aldi dengan panik.


"iya.... !" gumam nya dengan nada yang lemas dan memijit keningnya.


Liliana naik ke atas kasur dan duduk di sisi Aldi.


"Sini aku yang pijit.."seru Liliana dan memindah kepala Aldi ke pahanya. Membuat Aldi tanpa sadar tersenyum.


"Mau panggil dokter lagi ?" ujar Liliana.


"Ehmm gak perlu..! Setiap dokter yang datang jawabannya sama..!"

__ADS_1


"Ya sudah.. mau makan..?" tawar Liliana sambil terus memijit kening Aldi dengan lembut.


Aldi hanya menggelengkan kepala "belum lapar.."


"Ok.." jawab Liliana singkat.


Mereka berdua pun tidak melanjutkan percakapan. Hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Ehmm.. siapa yang telpon..?" seru Aldi.


"Teman.. "jawab Liliana singkat.


"Di Singapore..?"


"Bukan... "


"Lalu..?" Aldi mengernyitkan alisnya. Sepengetahuannya Liliana tidak memiliki kenalan di Indonesia.


"Di sini.. Baru kenalan dua minggu lalu.." Liliana menjelaskan.


"Ohhh... cewek ya..?" pancing Aldi karena penasaran siapa yang menghubungi Liliana.


Memang baru beberapa hari ini Aldi sering melihat Liliana saling berbalas pesan dan sibuk dengan ponselnya.


"Cowok.." jawab Liliana santai.


"Owhh..." Entah kenapa tiba-tiba dada Aldi terasa ada sengatan.


"Kalau memang kamu sudah baikan. Rencana besok aku mau ketemu sama dia... !" ujar Liliana yang membuat Aldi duduk dan melihat Liliana sekilas.


Kemudian kembali berbaring. Lalu masuk ke dalam selimut.


"Dingin banget..." gumam Aldi.


"Kamu demam lagi..?"Seru Liliana khawatir dan memegang kening Aldi.


"Suhu tu buh kamu normal..Ada yang sakit..?"


"Gak tahu.. cuma tiba-tiba dingin...bbrrr...!" jawab Aldi.


"Lalu gimana..Tunggu aku ambil selimut lagi...!" seru Liliana dan hendak berdiri.


Aldi menarik tangan Liliana dan jatuh ke pelukan Aldi. Jantung Liliana berdegup begitu kencang. Aldi berusaha memasang ekspresi datarnya. Namun jantungnya berdegup dengan kencang.


"Tidak perlu..!"


Liliana berusaha bangun..Namun tangan Aldi sudah merangkulnya.


"Aldi..?"


"Hmm.... mungkin dengan begini dinginku bisa hilang..!" jawab Aldi santai. Dan mendekap Liliana masuk ke dalam pelukan nya.


"jangan ge er Liliana.. dia hanya butuh kamu untuk menghilangkan dingin di tu buhnya..!" gumam Liliana membesarkan hatinya.


Aldi mengambil tangan Liliana dan menaruhnya di pinggang nya sendiri.


"Seperti ini biar lebih mempan..Kamu tahu kan ada cara yang paling ampuh menghilangkan dingin tu buh seseorang..!" seru Aldi.


"Minum obat..?" tebak Liliana asal. Karena jantungnya sudah tidak karuan berdetak.


"Bukan.." jawab Aldi.


"Kompres..?" tebak nya lagi.


"Bukan.."


"Apa dong..?" Liliana menyerah.


"Mau aku kasih tau..?"


"Iya.. biar kamu gak dingin lagi.. Nanti aku bantuin..!" seru Liliana.


"Ok...!" Aldi bangun dari tidurnya dan menyuruh Liliana untuk duduk.


Kemudian Aldi membuka baju kaosnya.


"Kenapa di buka..? Nanti tambah dingin..!" cegah Liliana.


"Ssttt...!" seru Aldi.


"Angkat tangan..." titah Aldi ke Liliana. Dengan patuh Liliana hanya mengikuti kemauan Aldi yabg sampai sekarang tidak mengerti maksud Aldi.


Aldi dengan cepat membuka kaos polos Liliana.


" Mau Ngapain..??" seru Liliana kaget.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


#Mama minta bantuan teman-teman untuk naikin Popularitas Novel ini ya πŸ₯°


...Terimakasih Banyak πŸ₯°...


__ADS_2