
#Masih Mode Crazy Up ya ~~
#Jadi di mohon Like, Komentar dan Klik Favoritnya π₯°π
Happy Reading π₯°
...........
Aldi dengan cepat membuka kaos polos Liliana.
" Mau Ngapain..??" seru Liliana kaget.
Aldi tidak menjawab dan kembali berbaring lalu menarik tangan Liliana masuk ke dalam pe lukannya.
"Seperti ini.." gumam Aldi. Setelah mendekap tubuh Liliana begitu rapat di tu buhnya dan membungkus tu buh mereka dengan selimut.
"Uhmm.." jawab Liliana. Wajahnya begitu merona. Meskipun mereka sudah sering melakukan aksi ranjang dan bermesraan sambil mengucapkan kata-kata sayang.
Suasana seperti ini terasa sungguh berbeda. Lebih hangat dan tulus.
"Apa boleh aku berharap..? Apa di hatimu masih ada Eliza..? " gumam Liliana lirih di dalam hatinya.
Cup
Aldi mengecup puncak kepala Liliana. Liliana terkejut. Ini adalah pertama kali Aldi lakukan untuknya. Meskipun dia bisa memuaskan Aldi di atas ranjang dengan berbagai cara. Tidak pernah sekalipun keluar kata Terima kasih atau kecupan singkat setelah mereka selesai bermain di atas ranjang.
"Aldi..?"
"Hmm..?"
"Itu untuk apa..?"
"Hanya ingin..!" balas Aldi seadanya. Padahal dia sendiri bingung kenapa tiba-tiba melakukan hal gila seperti tadi. Pertama kali dalam hidupnya mengecup kening seorang wanita.
"Ohh.." Hati Liliana perih. Kembali kecewa dan tersenyum miris. "Bodoh jangan berharap kau hanya wanita ranjang untuknya...teman pemuas nafsunya..!"
Tak sadar Liliana meneteskan air matanya dalam diam.
Liliana dan Aldi hanya diam saling berpelukan. Tidak tahu mau membahas apa. Karena selama ini mereka bertemu hanya membahas tentang Eliza atau Kevin. Atau pada saat Aldi ingin memuaskan bi*rahinya. Atau hanya bertegur sapa seadanya. Atau Aldi sedang marah dan mabuk.
Tanpa sadar mereka berdua terlelap dalam mimpi mereka masing-masing dan masih dalam dekapan yang begitu erat.
Keesokan paginya ketika Aldi membuka matanya dengan perlahan sambil menepuk-nepuk ranjang di sebelah nya. namun di tempat Liliana tidur sudah dingin.
Sontak Aldi membuka dengan lebar kedua matanya dan duduk. Aldi berdiri dan berlari keluar.
"Lilianaa..?? Lili...??? Lilianaaa..!!! Di mana kamu..!!" teriak Aldi begitu keras sambil mencari Liliana di tiap sudut ruangan. Tapi hasilnya tidak ada. Liliana tidak ada di mana pun. Di kamar, dapur, atau pun kamar mandi.
"Arkkk... Sialll..!!!" Kesal Aldi dan duduk di sofa ruang tamu.
"Apa pria itu lebih penting...!! HAHH...!! Dasar j\*l-ng..!!!" Teriak Aldi begitu kesal. Mengingat Liliana pasti bertemu dengan pria yang semalam telponan dengan dirinya.
Dan bersamaan saat Aldi berteriak...
Pintu terbuka...
"Siapa yang kau sebut j\*\*ang Aldi..?" suara gemetar Liliana dan menjatuhkan kantongan di tangannya. Sehingga isi di dalam kantongan tersebut hancur tak beraturan di dalam box nya. Hatinya begitu perih.
"Kamu.... !!!" ketus Aldi dengan raut wajah memerah. Dirinya tidak dapat menahan amarah nya. Dia sendiri bingung dengan perasaannya. Tapi begitu tahu Liliana ingin bertemu pria lain. Dia tidak terima.
"hmm baiklah..! Maaf kalau wanita ja l ng ini membuatmu marah..!" ucap Liliana sambil menunduk mengambil kembali kantongan yang jatuh di lantai. Tangannya gemetar sambil memungut kantongan tersebut.
Aldi hanya diam dan menatap Liliana dengan tajam.
"Maaf sepertinya bubur ini sudah tidak bisa di makan.... "ucap Liliana sambil memaksa tersenyum ke Aldi. Bu bur yang dia dapat kan dengan susah payah. Harus antri dari pagi. Tapi..."*Ah.. sudahlah*.." batin Liliana.
__ADS_1
Kemudian masuk ke arah dapur menuju westafel dengan cepat. Liliana menyalakan keran air dan menumpahkan air mata yang sedari tadi dia tahan dalam diam.
"Bubur...?" gumam Aldi tersadar.. "Jadi dia keluar pagi-pagi untuk membeli bubur...? Bukan untuk bertemu...?" gumamnya lagi.
"Ahhh bodoh..!!!" Aldi merutuki dirinya sendiri. Dia ingat, kalau kemarin dia sendiri yang bilang mau makan bu bur ayam untuk sarapan.
Aldi mengejar Liliana masuk ke dapur dan langkahnya terhenti bisa dia lihat tubuh Liliana terguncang karena isakan tangis nya yang tidak bersuara.
"Liliana..?" panggil Aldi dengan suara rendah.
Liliana terkejut lalu dengan cepat membasuh wajahnya. Dan mengatur suaranya.
"Iya..?" jawab Liliana yang masih membasuh wajahnya.
"Tunggu ya.. mataku kayaknya tadi kemasukan debu..! biar aku bilas sebentar..!" lanjut Liliana.
"Maaf ya.. tadi antrian panjang banget.." Liliana terus berbicara.
"Nanti aku cariin di aplikasi aja ya.. karena yang di bawah sudah habis..!!"
"Padahal itu bubur kesukaan kamu kan..! Sorry aku tidak sengaja jatuhin kantongannya..!" Liliana terus mengoceh.
"*Ckkk.. kenapa nih air mata gak bisa berhenti* ..!!" gumam Liliana dalam hati.
"Sini aku lihat..! Kalau kamu cuci seperti itu nanti iritasi..!" seru Aldi.
"Gak perlu.. hehehe.. kamu ke kamar aja.. ! Nanti aku siapin sarapan kamu..!"
"Mau sarapan apa..?"
"Liliana cukupp...!" seru Aldi.
Liliana membeku. Namun kembali berbicara.
"Masih mau sarapan bu bur ??" seru Liliana seperti sebuah bilah pisau mengiris hati Aldi.
"Lili...!!" seru Aldi lagi.
Liliana hanya diam.
Aldi menarik tangan Liliana hingga mereka berdua berhadapan.
Mata Liliana terlihat begitu sembap.
__ADS_1
Liliana dengan cepat memalingkan wajahnya.
Rasa bersalah menghujam di dada Aldi karena sudah berkata kasar seperti tadi.
"Maaf..!" seru Aldi.
"Hah..? Maaf untuk..?" jawab Liliana santai dan mencoba tersenyum.
"Maaf sudah berkata kasar..." sambung Aldi.
"Astagaaa...!! Tidak perlu ..! Ada apa tiba-tiba..?" balas Liliana.
"Maaf.."
"Seriuss deh...!! Santai aja Aldi ... Aku kan memang jal....umffttt..." Aldi menarik Liliana dan me lu mat bi birnya dengan begitu tergesa-gesa.
Kemudian Aldi melepas ci umannya.
Liliana tersenyum... "Kamu mau di layani..? Tinggal bilang Al..! Kan sudah tugasku selama tinggal dengan kamu..!" ucap Liliana kemudian membuka kaos yang dia pakai dan menurunkan celananya.
Aldi hanya terpaku melihat Liliana yang sudah tidak mengenakan apa-apa.
"Ayo... mau disini atau di kamar sayang..?" seru Liliana berusaha tersenyum. Berusaha melayani Aldi dengan sebaik-baiknya. Hatinya meringis. Menangis tapi dia harus tahan. Ini konsekuensi untuk dirinya. Dia yang memilih jalan seperti ini. Tapi kesalahan fatal. Dia menggunakan perasaan saat ini. Dan dia tidak bisa mengabaikannya. Jadi biarkan dia memendamnya sendiri.
"*Mungkin ini lah jalan takdirku*.." batin Liliana.
Aldi meraih Liliana dan memeluk nya begitu erat. Hanya memeluknya tanpa berkata apa-apa. Liliana berusaha melepaskan pelukan Aldi. Dia takut kalau dirinya tidak tahan dan akan menangis di depan Aldi.
"Aldi.. kamu ngapain..? mau aku yang bantu buka..?" seru Liliana lagi berusaha tegar dan tetap memasang senyuman.
Namun Aldi tambah erat mendekap tu buh Liliana. Biasanya dia pasti akan langsung me ner kam wanita didepannya ini dengan bru tal.
Namun saat ini melihat Liliana seperti ini membuatnya terluka. Hatinya tersayat. Entah apalagi selain perasaan bersalah.
Bersalah ?? Entahlah...
"Aldi.. lepasin...!
"
π₯π₯π₯π₯
\#Wahhhhh Liliana.. Mama me wek nih...!!! π₯Ίπ₯Ίπ₯Ί
\#**Mama minta bantuan teman-teman untuk naikin Popularitas Novel ini ya π₯°**
...Terimakasih Banyak π₯°...
__ADS_1