Gairah Cinta Boss Besar

Gairah Cinta Boss Besar
Eps 17 | Bagaimana Bila Ikhlas Itu Tak Hadir?


__ADS_3

Mama Reni berjalan dengan langkah pelan menuju kamarnya, dia membawa sebuah kotak kado milik Nanas dan pelukannya.


Langkah kaki gamang itu berjalan pelan, tampak dari raut wajahnya menyimpan kesedihan mendalam tentang hal-hal yang tidak bisa dia jelaskan.


[Selamat ulang tahun Anakku, Terimakasih sudah memilih untuk Lahir di rahim Mama, tapi Dunia jahat Nak, mereka seakan tidak menginginkan kehadiranmu, maafkan Mama nak, suatu saat nanti Mama akan menjemput kamu]


Air mata Mama Reni jatuh membaca surat yang dia tulis beberapa tahun lalu, masih rapih di simpan oleh Nanas.


"Apakah kamu akan membenci Mama, saat tahu kalau Mama ini adalah Mama Kandung kamu?" ujar Mama Reni pelan.


-


Anthony dan Nanas kini sedang berjalan keluar dari ruangan Dewan Kampus, seluruh berkas-berkas pengajuan Mahasiswa Nanas sudah selesai dan dia sudah akan menjadi Mahasiswa, dan bisa mulai berkuliah setelah menjalankan beberapa Tes nanti.


"Belajar yang rajin, biar kamu lolos, sia-sia saya bayar mahal kalau kamunya gak pinter," ujar Anthony yang membuat Nanas mendelik kesal.


"Iya!"


Anthony tersenyum, entah kenapa dia sangat suka ekspresi kesal mantan karyawannya itu, disaat mereka sedang berjalan Ponsel Nanas berdering yang membuat Nanas segera menahan tangan Anthony.


"Kenapa?" tanya Anthony menghentikan langkah kakinya.


"Ada, Telepon."


"Dari siapa?"


"Gatau, gak ada namanya, apa aku angkat aja?"


Anthony mengangguk setuju yang membuat Nanas mengangkat telepon tersebut, Nanas mengarahkan ponsel miliknya di telinganya.


[Halo?]

__ADS_1


Tidak ada suara, hanya ada isakan tangis diujung telepon tersebut yang membuat Nanas mengangkat alis.


[Halo, siapa yah, kalau gak jelas, saya matiin ya.]


[Jangan, Nanas, ini Mama.]


[Mama?]


[Iya Nak, ini Mama kandung kamu, Kamu apa kabar?]


Nanas terdiam sejenak, air matanya perlahan jatuh yang membuat Anthony mengeluarkan ekspresi bingung.


[Ini beneran, Mama aku?]


[Iya sayang, ini Mama kamu, kamu udah besar yah sekarang, maafkan Mama yah]


[Mama kenapa buang aku? Salah aku apa?]


[Maafkan Mama, sayang, Mama tidak bermaksud untuk membuang kamu.]


[Tapi kenapa Ma, kalau aku tidak diinginkan kenapa aku harus dilahirkan, salah aku, apa?]


Nanas menutup mulutnya dengan telapak tangan, entah kenapa isakan tangisnya semakin berat, Anthony yang tidak paham langsung menarik Nanas ke pelukannya untuk menenangkan istrinya, dia tidak tahu apa isi percakapan Nanas, tapi yang dia tangkap, Nanas tengah bicara dengan Ibu Kandungnya.


[Maafkan Mama, Mama belum bisa menjawab itu semua.]


[Tapi kenapa Ma, kenapa Mama memberikan aku Takdir yang seperti ini, kenapa Mama Tega?]


Isakan tangis di ujung telepon juga terdengar, sebuah patah hati yang terdalam tercipta dari insan darah daging antara ibu dan anak.


[Mama Rindu sama kamu]

__ADS_1


[Bagaimana bisa Mama Merindukan, Anak yang tidak Mama rawat sampai Dua Puluh Dua Tahun lamanya?]


[Mama yang salah, Nanas, Mama yang salah.]


[Kita harus ketemu, Ma.]


[Untuk saat ini, Gak Bisa Nak, Mama harus menutup telepon ini, dulu.]


[Ma?]


Sambungan telepon tersebut tertutup secara sepihak yang membuat Nanas langsung menjatuhkan kepalanya di dada sang suami.


"Are you Okey?" tanya Anthony pada Nanas.


"Mama aku, Dad, kenapa Mama aku tega sama aku?" jawab Nanas pelan.


Tubuhnya gemetar, Anthony segera mengambil inisiatif membopong Nanas menuju bangku terdekat, disana Nanas hanya menyandarkan kepalanya di bahu Anthony.


"Pasti ada alasan Nanas, Ibu mana yang tidak mau membesarkan anaknya dengan cinta."


"Ibuku, Mama aku sendiri! Dia bilang rindu, tapi bagaimana bisa dia merindukan anak yang tidak pernah di temui?" jelas Nanas yang membuat Anthony mendelik. "Dua puluh Dua tahun! Itu bukan waktu yang singkat, Hanya Kado dan surat yang tiap tahun datang sedang aku sibuk merindu, dimana dia? Aku menerima semua kesakitan ini sendiri."


Nanas menundukkan kepalanya, mengusap air matanya sendiri, walaupun rambutnya yang terurai sudah menutupi sebagian wajahnya.


"Kenapa harus aku, kenapa aku harus lahir dari rahim seorang ibu yang tidak menginginkan aku, di saat aku merindu dan belajar untuk lepas dari rindu itu, dia datang dengan sambungan telepon mengatakan dia merindukanku, bagaimana bisa nalarku menerima ini," Suara Nanas sudah serak dan tidak jelas karena Isak tangis sebelum akhirnya suara mengecil. "Bagaimana, bisa."


Anthony meraih wajah Nanas kemudian menangkupnya pelan. "Nanas lihat saya, saya suami kamu, saya ada disini, saya tahu ini berat untuk kamu, tidak ada seorang anakpun yang sanggup membenci ibunya sendiri dan itu termasuk kamu, kan kamu sendiri yang pernah bilang ke saya, apapun keadaannya, kita tidak boleh memasrahkan keadaan pada satu tumpuan takdir, karena belajar menerima adalah cara terbaik untuk bertahan di tengah gempuran takdir yang mungkin tidak ingin kita perankan, kamu sendiri kan yang bilang ini?" Nanas dan Anthony kini saling menatap dengan penuh keseriusan.


"Tapi bagaimana bisa, jika ikhlas itu tak hadir di hati?" jawab Nanas pelan tapi menusuk.


......................

__ADS_1


TBC


__ADS_2