
"Terimakasih!"
Adelia membayar argo taksi kemudian membawa keluar tasnya dari dalam Taksi dan menginjakkan kaki di aspal.
Hari ini Adelia sudah resmi keluar dari kediaman Papa Prabu dikarena sidang perceraian dirinya akan berlangsung beberapa hari lagi, Adelia memutuskan kembali ke rumah Ayahnya. Adelia tiba di rumah ayahnya, Fahri, dengan hati yang berat. Dia tahu bahwa saatnya tiba untuk memberi tahu ayahnya tentang keputusan yang sulit yang baru saja dia dan Drew ambil. Mereka akan bercerai, dan Adelia merasa perlu memberitahukan l berita ini pada ayahnya.
"Semoga Ayah bisa Nerima hal ini," gumam Adelia berjalan masuk ke halaman rumah sampai akhirnya ia tiba di teras rumah.
Biasanya Fahri tidak pernah mengunci pintu di kala siang, sehingga Adelia bisa langsung masuk ke dalam.
Dengan ragu, Adelia memasuki ruang tamu di rumah ayahnya, dan dia melihat wajah ayahnya yang penuh dengan senyuman saat dia melihat putrinya. "Adelia, kamu pulang, Drew mana-"
Kalimat Fahri menggantung. "Kok kamu bawa koper sama tas?"
Adelia menghela nafas dalam-dalam dan berkata, "Ayah, ada sesuatu yang harus aku katakan. Drew dan aku, kami sudah bercerai."
Wajah Fahri tiba-tiba berubah menjadi kaget dan prihatin. Dia tahu bahwa pernikahan Adelia dan Drew terjadi secara dadakan, tetapi dia tidak pernah berharap bahwa mereka akan sampai pada titik ini.
Adelia melanjutkan dengan suara yang penuh dengan emosianal. "Kami telah mencoba untuk menjaga pernikahan kami, Ayah, tapi akhirnya kami menyadari bahwa ini adalah keputusan terbaik yang bisa kami ambil untuk kebahagiaan kami masing-masing."
Fahri mengangguk dan mencoba memberikan dukungan pada Adelia. "Ayah mengerti, Nak. Pernikahan bukanlah jaminan untuk kebahagiaan, dan Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu."
__ADS_1
Setelah berbicara dengan ayahnya, Adelia pergi ke kamarnya. Di dalam kamar yang tenang, dia merasa bahwa emosinya tidak dapat dia tahan lagi. Dia duduk di ranjang dan menangis, melepaskan semua perasaan kecewa, sedih, dan kehilangan yang dia rasakan. Meskipun keputusan ini mungkin yang terbaik, itu tetap merupakan pengalaman yang sulit dan memilukan.
Fahri tahu bahwa Adelia membutuhkan waktu untuk meresapi perubahan besar ini dalam hidupnya, awalnya Fahri kembali duduk di sofa ruang tamu sebelum suara ketukan pintu terdengar.
Tok!
Tok!
Tok!
"Sebentar," Fahri berjalan ke arah pintu dan membukanya, saat ia melihat sosok di depan pintu dia hanya diam. "Nanas?"
-
Dengan suara pelan, Adelia mulai menceritakan kepada Nanas tentang perceraian mereka dengan Drew. "Nanas, gue rasa perlu ngasih tahu lo kebenaran. Alasan kami bercerai adalah karena pernikahan kami awalnya hanya sebuah kerjasama. Jadi emang wajar kok."
Nanas mendengarkan dengan perhatian, ekspresinya campur aduk. "Aku tahu, Adelia, bahwa awalnya pernikahan kalian adalah untuk kepentingan kerjasama kalian, Tapi apa yang kamu katakan membuatku merasa sedih. Bagaimana mungkin kita bisa merencanakan perasaan kita?"
"Merencanakan Perasaan?"
"Kamu cinta kan sama, Drew?" Nanas mengultimatum Adelia dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Gak."
"Kalau memang tidak, kenapa ada air mata di atas perceraian kalian berdua?"
Adelia awalnya menolak mengakuinya, tapi bukan Nanas kalau dia tidak bisa membuat orang lain berkutip di hadapannya.
"Jangan sampai ada penyesalan," bisik Nanas pelan. "Katakan saja."
Adelia sudah tidak bisa menahan, dia menundukkan kepala menahan perasaan dj hatinya yang dia tahan sendiri.
Adelia menjawab dengan suara yang penuh penyesalan, "Gue tahu, Nanas. gue gak pernah berencana jatuh cinta. Tapi hati gue sendiri yang memilih, dan gue gak bisa ngindarin perasaan ini."
"Sudah kuduga."
Nanas berdiri, dia mengambil tasnya yang membuat Adelia ikut berdiri. "Udah mau pulang?"
Nanas mengangguk. "Aku hanya datang untuk memastikan, Del, sejauh apapun dua manusia berada kalau dia ditakdirkan berjodoh dari sudut bumi manapun pasti akan bertemu."
Adelia terdiam, sementara Nanas langsung mengirim rekaman suara percakapannya dengan Adelia yang dia rekam diam-diam kepada Anthony.
...----------------...
__ADS_1
Sad Ending?