
Kediaman Papa Prabu.
Ketenangan suasana di teras rumah Mama Reni dan Papa Prabu harus terganggu oleh kedatangan tiba-tiba seorang kurir.
"Dari siapa, Mas?" tanya Mama Reni menerima amplop yang di bawa kurir tersebut.
"Waduh, saya kurang tahu Bu, tapi itu sudah dibayar, jadi saya hanya perlu menyerahkan kepada yang bersangkutan saja," jawab kurir itu memakai helm-nya. "Kalau begitu, saya permisi yah, Bu."
Mama Reni mengangguk, Kurir itu berlalu pergi sesaat setelah Mama Reni berjalan menuju Papa Prabu. "Pa, ada amplop kayaknya berkas deh, coba Papa buka."
"Mana, Ma, biar Papa cek," Papa Prabu menerima amplop tersebut.
Ketika Papa Prabu membuka amplop bersegel itu, wajahnya berubah menjadi pucat penuh kecemasan.
Mama Reni yang duduk di sebelahnya merasakan kegelisahan suaminya. "Apa yang terjadi, Pa? Kok Papa terlihat seperti itu?"
Papa Prabu menunjukkan pesan yang ada di dalam amplop kepada Mama Reni, dan mata mereka berdua memancarkan ketakutan saat mereka membaca pesan itu bersama-sama.
__ADS_1
"Papa Prabu dan Mama Reni," demikian bunyi pesan itu, "Saya memiliki sesuatu yang sangat berharga bagi Anda. Kedua anak Anda, Anthony dan Drew, saat ini menjadi tawanan kami. Jika Anda ingin menyelamatkan mereka, datanglah sendiri ke lokasi yang sudah kami tentukan. Jangan hubungi polisi atau pihak berwenang. Kehidupan mereka berada dalam bahaya."
Mama Reni menutup mulutnya dengan gemetar, dan mata mereka berdua bertemu dalam kepanikan. Mereka tahu bahwa mereka tidak punya pilihan selain mengikuti instruksi Dave jika ingin melihat anak-anak mereka dengan selamat.
"Nanas dan Adelia, sepertinya mereka berdua tahu sesuatu Ma," Papa Prabu melipat amplop itu dan berdiri. "Dari sikap mereka kemarin, mereka kayaknya sudah tahu tentang hal ini."
"Lalu, bagaimana dengan Drew dan Anthony, Pa, mereka gimana nanti?"
Papa Prabu menggenggam tangan Mama Reni dengan erat. "Kita harus melakukannya, Ma. Kita harus menyelamatkan Anthony dan Drew."
"Tapi kita harus nunggu Nanas dan Adelia pulang, biar Papa telepon mereka."
Mama Reni mengambil ponselnya, tapi belum sempat dia menelepon, motor milik Nanas yang di kendarai Adelia sedang Nanas di boncengan sudah masuk ke dalam halaman rumah.
Nanas dan Adelia kembali ke rumah dalam keadaan lelah dan tegang setelah berusaha mencari tahu lebih banyak tentang hilangnya Anthony dan Drew. Mereka tiba-tiba dihadang oleh Mama Reni dan Papa Prabu yang duduk di teras, wajah mereka penuh kekhawatiran.
Dan Adelia serta Nanas sudah tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
Mama Reni melangkah mendekati mereka dengan mata yang penuh kecemasan. "Nanas, Adelia, ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Apa kalian tahu tentang apa yang terjadi dengan, Anthony dan Drew?"
Nanas dan Adelia saling pandang, ragu-ragu untuk memberi tahu Mama Reni dan Papa Prabu tentang penyelidikan mereka yang rahasia. "B-Bukannya lagi ada klien?" jawab Nanas dengan cepat, mencoba menyembunyikan kebenaran.
Papa Prabu mendekatkan diri, tatapan tajamnya menusuk kedalam hati Nanas dan Adelia. "Kami merasa ada sesuatu yang tidak beres, anak-anak. Tolong, jangan sembunyikan sesuatu dari kami, kalian tahu kan?"
Mama Reni menambahkan dengan suara penuh harap, "Kami sudah tahu apa yang terjadi dengan suami-suami kalian "
Nanas dan Adelia merasa tertekan oleh kekhawatiran orang tua mereka, dan akhirnya, mereka memutuskan untuk memberitahu kebenaran. Mereka menjelaskan bahwa mereka sedang melakukan penyelidikan sendiri untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Anthony dan Drew, karena mereka merasa bahwa pihak berwenang belum cukup efektif.
Mama Reni dan Papa Prabu, meskipun cemas, akhirnya merasa lega bahwa Nanas dan Adelia berusaha melakukan yang terbaik untuk membantu mencari suami mereka yang hilang.
"Kenapa kalian tidak bilang, dari awal?" ujar Papa Prabu.
"Maaf Pa, kami gamau bikin Papa khawatir."
"Ya sudah, lebih baik kita ke lokasi yang di minta oleh orang ini, daripada disana Anthony dan Drew kenapa-kenapa," Papa Prabu meraih kunci mobil kemudian pergi bersama Mama Reni, Adelia dan Nanas.
__ADS_1
...----------------...