
Jangan lupa like yah! Untuk support novel ini agar Episodenya bisa Panjang ;(
Selamat membaca ;)
...----------------...
"Katanya yang bakalan gantiin Pak Anthony bicara di Press Conference itu istrinya," ujar salah satu karyawan dari Anthony yang membuat karyawan lainnya ikut nimbrung.
"Istrinya yang mantan Cleaning Service itu, kasian yah istrinya dinikahin buat nutupin orientasi berbeda Pak Anthony, parah sih."
"Eh gaboleh ngomong gitu!" jawab salah satunya yang membuat yang lainnya diam. "Tapi jadi merasa bersalah juga sih sama Istrinya Pak Anthony kan kita udah suudzon dulu ngatain dia cewek murahan."
"Udah! Malah ghibah, itu Pak Anthony dan Bu Nanas sudah datang!"
Mendengarkan itu, seketika semua Staff karyawan tersebut kembali kepada posisinya masing-masing, saat Anthony dan Nanas berjalan masuk ke area lobby utama kantor.
"Selamat pagi, semua!" ujar Anthony yang membuat semua Staff karyawannya menjawab sapaan itu. "Bagaimana, apakah tamu-tamu dari Press Conference sudah datang?"
"Sudah, Pak, semua tamu sudah datang tinggal menunggu kehadiran Bapak dan istri saja," jelas sekretaris Anthony yang kebetulan ada disana.
Anthony mengangguk, dia melirik Nanas yang tampak gugup karena biasanya dia menginjakkan kaki di kantor ini sebagai Pelayan Kebersihan dan kali ini sebagai Istri Boss Besar.
"Selamat Pagi, semua," ujar Nanas pelan.
"Selamat pagi juga, Bu Nanas," jawab mereka semua yang membuat Nanas menarik napas panjang.
"Oke, terimakasih karena sudah menyiapkan acara Press Conference ini, saya berharap seluruh Staff bisa berhenti dulu dari kegiatan kalian, dan bisa hadir dalam Press Conference itu, oke bisa semuanya siap-siap yah!"
Mendengarkan ucapan Nanas, mereka semua mengangguk dan mulai membereskan keperluan pekerjaan yang akan mereka stop sementara untuk kegiatan Press Conference ini.
Nanas dan Anthony kemudian berjalan menuju lift, karena Press Conference ini dilaksanakan di area Rooftop gedung kantor Anthony.
"Baby, kamu yakin gapapa kalau ngelakuin ini, kamu udah siap?"
Nanas menatap Anthony, dia terdiam sejenak kemudian menganggukkan kepalanya yakin. "Its Oke, Dad, aku udah yakin, lagipula mereka gamau dengerin penjelasan Daddy, jadi sebagai istri aku harus bantu menjelaskan."
Anthony tersenyum, dia melihat wajah Nanas kemudian menarik Nanas ke pelukannya. "Terimakasih, Gadis Miskin."
__ADS_1
Nanas menghela napas panjang dan menatap Anthony malas. "Daddy, bisa gak sih romantis dikit?"
"Gimana? Gini?"
Anthony meraih wajah Nanas dan mencium bibir istrinya itu, Nanas yang mendapat dorongan reflek dari Anthony hanya bisa membulatkan mata sempurna membiarkan sang suami mencium bibirnya.
"Dih, Bisa liat situasi dan kondisi gak sih?"
"Bodo amat! Saya cinta sama kamu!"
"Halah," jawab Nanas tidak menjawab ucapan Anthony, mereka berdua kemudian kembali berdiri dan membenarkan posisi mereka karena lift dihadapan mereka sudah terbuka.
Keduanya berjalan keluar dari lift, melewati koridor menuju tangga yang akan membawa mereka ke Rooftop kantor, Nanas berusaha mengatur napasnya yang membuat Anthony mengusap punggung Nanas.
"Tenang, jangan gugup," jawab Anthony yang membuat Nanas menganggukkan kepalanya.
Kini keduanya sudah menginjakkan kaki di area Rooftop, beberapa tamu dari rekan bisnis Anthony sudah menunggu termasuk beberapa media yang akan meliput Klarifikasi keduanya.
Anthony dan Nanas berjalan menuju kursi yang sudah di siapkan ke tengah area utama sedangkan Host yang ditugaskan membawa acara tersebut memulai acara, tampak dari wajah para rekan bisnis, mereka menatap sinis Anthony atas dasar provokasi dari Drew semalam.
"Tidak! Kan sudah kamu bilang kamu tidak mau mendengar penjelasan dari Pak Anthony!" sahut salah satu rekan bisnis yang membuat yang lainnya setuju.
"Tidak apa-apa, biar saya saja yang menjelaskan," Nanas menginterupsi para media dan rekan kerja tersebut kemudian mulai mentakeover kondisi yang terjadi.
"Selamat pagi semua, terimakasih sudah hadir dalam acara Press Conference mengenai kelanjutan hubungan kerja antara rekan-rekan semua, dan terimakasih rekan media yang sudah hadir disini, saya ingin mengatakan bahwa apa yang dijelaskan Drew semalam dalam Group itu, adalah FAKTA!"
"Hah!"
Semuanya tertegun mendengar ucapan Nanas termasuk Anthony, Anthony tidak mengerti apa maksud Nanas, tapi Nanas baru saja membenarkan provokasi Drew, dan menurut Anthony itu adalah sebuah kekacauan.
"Yah Fakta, tapi tidak semua, beberapa memang Fakta, Fakta tentang semua saya 'pernah' menjadi seorang dengan orientasi menyimpang tapi tidak untuk sekarang, saya tidak munafik, untuk mengatakan suami saya tidak melakukan hal-hal itu, tapi saya hanya berusaha menjelaskan bahwa hal-hal yang dibeberkan semalam adalah masa lalu suami saya."
"Tapi tetap saja, Pak Anthony pernah menjadi seorang menyimpang!" sahut salah satu dari rekan kerja. "Dan menurut saya itu hal yang tidak layak dilakukan."
"Jadi apakah setiap masa lalu orang adalah sebuah kesalahan?" jawab Nanas yang membuat semua terdiam. "Setiap orang berhak punya masa lalu, entah kelam, entah baik, semua orang berhak untuk itu, dan semua orang berhak untuk memperbaiki itu."
"Suami saya sedang berusaha memperbaikinya, saya tidak akan membantah apapun, tapi saya akan membantah jikalau ada yang berpikir, saya menikah dengan suami saya adalah kedok dari orientasi itu, karena menurut saya, pernikahan itu terjadi, atas dasar Takdir Tuhan," Nanas memberi jeda. "Suami saya tidak sempurna, saya juga tidak sempurna, tapi saya pernah berkata, Menerima Ketidaksempurnaan adalah sebuah Kesempurnaan."
__ADS_1
Hening, Nanas berjalan ke arah Anthony kemudian meraih tangan suaminya itu untuk berdiri, mereka berdua berjalan menuju tengah stage dan menatap wajah-wajah hening di hadapan mereka.
"Saya tidak akan melarang kalian untuk menganggap buruk suami saya, tapi Dimata saya, dia tetaplah pria yang paling baik yang pernah saya miliki, dan hal itu yang selalu saya semogakan, tapi saya hanya ingin berkata, jangan hanya karena satu kesalahan kalian melupakan jutaan baiknya kredibilitas, masa lalu bukanlah patokan dari sebuah kualitas, jadi jawaban tentang krisis kepercayaan kalian kepada suami saya dan perusahannya, ada pada diri kalian sendiri, jika kalian ingin lanjut silakan, jika tidak, pintu akan terbuka lebar."
Masih hening, Nanas berasa melakukan skakmat semua yang ada disana, hening berlanjut sampai sebuah langkah kaki dari Pria Tinggi, bermata biru dengan rahang tegas dengan kemeja putih berjalan ke arah mereka.
"Saya adalah saksi kunci masalah ini, dan saya ingin melakukan pengakuan!"
"Drew!?"
-
Mama Reni kini tengah sedang memilih baju disalah satu Mall, dia berencana membelikan Nanas baju baru karena sejauh ini Nanas tidak memiliki stok baju.
"Kira-kira, Nanas suka gak yah, dengan baju ini?" ujar Mama Reni melihat baju-baju itu.
"Pasti suka, apalagi itu dibeliin sama Ibu Kandungnya!"
Mama Reni membalikkan badannya dan melihat sosok Gadis dihadapannya. "Kamu Adelia kan? Kakaknya Nanas."
"Kakak Tiri!"
"Apa maksud kamu?" tanya Mama Reni yang membuat Adelia tersenyum licik.
"Gak ada, aku cuma mau ketemu Tante, tapi aku si cuma bilang, gimana yah perasaan Nanas kalau dia tahu, Tante itu adalah Ibu Kandungnya, pasti dia bakalan kecewa banget dan benci Tante seumur hidup."
"Apasih Kamu, ngawur emangnya saya Ibu Kandungnya."
Adelia membuka tasnya kemudian mengambil foto yang dia temukan dan memberikannya kepada Mama Reni.
"Tante udah gak bisa mengelak, kalau Tante mau rahasia Tante aman, Tante harus bantuin aku, misahin Nanas sama Anthony."
"Hah?"
"Karena Tante tahu? Anthony itu cuma milik aku, sampai kapanpun dia akan menjadi milik aku, dan aku gak bakal rela dia nikah sama orang lain!" jelas Adelia pada Mama Reni.
...----------------...
__ADS_1