
...----------------...
"Tunggu, Nanas kamu mau kemana?" tanya Anthony yang membuat Nanas menatap Anthony pelan. "Kamu gak akan ngelakuin itu, kan?"
"Menurut Daddy, apa yang udah dilakuin sama si Pelakor Berbatang ini sekarang," jawab Nanas berjalan ke arah Anthony.
Anthony diam, dia menatap pembahasan yang terjadi di grup itu, beberapa dari orang yang di invite oleh Drew adalah rekan bisnis yang sangat penting bagi Anthony.
"Dia berusaha menghancurkan nama baik, saya?" jawab Anthony pada Nanas.
"Bukan, kalau soal itu mah nama Daddy Thon kan dari dulu emang jelek, si Pelakor Berbatang ini berusaha merusak karakter Om Dimata orang-orang," jelas Nanas. "Dia berusaha melakukan pembunuhan karakter, sebagai bentuk balas dendam."
"Jadi?"
"Dih, lemot banget sih Om, astaga! Dia ngelakuin ini karena dendam, dengan cara ini dia membunuh karakter Om Dimata orang, sehingga orang akan kehilangan rasa percaya kepada Om dan menganggap Om sampah masyarakat dan licik, liat aja caption dia! Dia menggiring opini kalau Om itu nikahin aku, karena orientasi Om yang ingin ditutupi."
"Daddy! Manggil Om lagi saya hamilin beneran kamu," jelas Anthony pada Nanas. "Jadi kamu mau ngapain sekarang?"
"Labrak dia lah!"
"Yaudah, Labrak aja, Baby," jawab Anthony mendukung keputusan Nanas.
Akhirnya Anthony dan Nanas harus berangkat lagi ke kampus dimana mereka tahu betul Drew masih ada disana, dan menyebarkan semua info-info itu dari Kampus.
Tak butuh waktu lama bagi Anthony dan Nanas untuk sampai di kampus itu kembali, apalagi kali ini perasaan Nanas berapi-api ingin segera melabrak Drew.
"Kalian gak bakal tarik-tarikan rambut kan?" tanya Anthony memarkirkan mobilnya di halaman kampus.
"Emang kenapa kalau tarik-tarikan rambut? Ada masalah?" jawab Nanas.
__ADS_1
"Saya sih gak masalah, tapi kan Drew rambutnya gabisa ditarik," Anthony menatap Nanas sembari terkekeh.
Nanas hanya menghela napas panjang kemudian keluar dari mobil. "Bakal aku lepas kepalanya, liat aja."
Anthony terpaksa harus ikut keluar dari mobil dan menemani Nanas, dikarenakan dia tidak mungkin membiarkan Nanas sendirian di luar sana.
Nanas berjalan ke arah ruangan BEM Dan benar sesuai dugaannya Drew ada disana yang membuat Emosi Nanas meluap.
BRAK!
Nanas menutup laptop yang ada didepan Drew dengan kencang yang membuat Drew terkejut. "Eh, Cowok Letoy, kamu ada masalah apa sih? Tulang kamu kurang lunak, sini biar aku halusin sekalian."
Drew berdiri kemudian mendorong Nanas. "Maksud lo apa bit*ch! Datang-datang ngerusuh, lo tahu gak ini ruangan khusus BEM dan lo gaada hak masuk sini!"
"Kamu masih nanya? Maksud kamu nyebarin foto-foto mesra kalian di sebuah Grup yang berisi rekan kerja suami aku, apa? Mau pembunuhan karakter kamu!"
BUG!
Nanas menamparkan tas tangannya ke wajah Drew yang membuat Drew langsung terjungkal ke belakang sedangkan Anthony hanya diam melihat Nanas.
"Apa Dad, mau belain dia?"
"G-Gak, Baby, saya nonton aja," jawab Anthony pada Nanas.
Nanas menarik napas panjang kemudian menarik tangan Drew yang masih linglung untuk berdiri. "Eh Tulang Lunak, denger yah, seberapa keras usaha kamu untuk dapati Daddy Thon lagi, aku bakal pastiin aku gak bakal lepas Daddy Thon, dan seberapa keras pun usaha kamu, buat ngancurin suami aku ... aku, istrinya akan selalu ada di garda terdepan buat mendukung suami aku!"
"Camkan itu yah!" Nanas membalikkan badannya kemudian menarik tangan Anthony pergi dari sana.
Sementara itu Drew yang baru saja mendapatkan serangan fajar hanya bisa linglung dan memulihkan kondisinya sampai sebuah sambungan telepon masuk ke ponselnya.
__ADS_1
[Halo!?]
[Apa, Mama sekarat?]
-
Drew kini tengah berada di samping ranjang Ibunya, dimana Ibunya kini dalam kondisi sekarat karena penyakit jantung yang di deritanya.
"Mama, Mama kenapa, Mama harus sembuh," ujar Drew mengusap tangan sang Ibu.
"Andrew, Terimakasih yah Nak sudah mau merawat Mama, Mama cuma gamau ngerepotin kamu, biaya rumah sakit sangat mahal," jawab Mama Drew yang membuat Drew menggeleng.
"Mama gausah khawatirin itu, Drew udah ada uangnya kok, tenang aja, Drew udah nabung dari kerjaan Drew buat operasi Mama, yang penting Mama sembuh dulu yah, gausah mikirin Drew," Drew meraih tangan Mamanya kemudian menempelkan telapak tangan yang dingin itu ke pipinya.
Napas dari Mama Drew mulai memburu, dia menatap Drew sesekali kemudian berucap lirih. "Sebelum Mama pergi, Mama punya satu permintaan dan Mama ingin jujur."
"Apa, Ma?"
Mama Drew meraih tangan Drew kemudian memegangnya erat. "Andrew, jadilah pria yang sesungguhnya Nak, kembali ke jalan yang bener, biarkan Mama mati dalam keadaan tenang."
Drew terdiam, dia tidak menjawab, dia hanya bisa menangis memeluk Mamanya. "Maafkan, Drew Ma."
Setelah mengucapkan itu, Mama Drew memberikan sebuah foto kepada Drew dan menatap Drew dengan napas tersengal-sengal. "Ini adalah foto Papa kamu, Papa kamu masih hidup, dan namanya adalah P-Prabu."
Drew terdiam, tak lama setelah mengucapkan itu, Mama Drew kemudian menghembuskan napas terakhir dan menutup mata.
"MAMA!? MA! BANGUN MA! MAMA!"
...----------------...
__ADS_1