
Halo! Mulai hari ini rutin update yah~
Tapi kayaknya bentar lagi Tamat deh, Author nyediain plot twist loh hehe! Jangan lupa like yah! Karena like itu GRATIS!
-
"Dave itu dosen kita gak sih?" Adelia melirik Nanas yang tampak terdiam. "Dia dalang dari semua ini?"
Nanas tidak bisa langsung menjawab, dia hanya terhenyak sebentar, kemudian memikirkan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan dalam hatinya.
"Tapi apa alasannya?"
Adelia menatap Nanas kemudian menghela napas panjang. "Mama Reni!"
"Mama Reni?"
Nanas menatap Adelia yang langsung membungkam mulutnya karena baru saja keceplosan.
"Hampir aja aku keceplosan kalau Nanas anak Mama Reni dan bisa saja Dave ada kaitannya," batin Adelia yang menerka-nerka situasi yang terjadi.
"Del, kamu nyebut Mama Reni?"
"Gak kok," jawab Adelia berjalan keluar dari ruangan Anthony. "Udah ah, lebih baik kita temuin Pak Dave, barangkali dia tahu apa-apa tentang hilangnya Thon dan Drew."
"Kamu yakin gak nyembunyiin sesuatu kan?" ujar Nanas kepada Adelia.
"Gak! Berisik lo!"
Nanas tidak menjawab, dia hanya memilih mengikuti Adelia keluar dari ruangan dan kantor menuju motor mereka yang ada di parkiran, setelah sampai di motor, mereka berdua kemudian memilih langsung menuju kediaman Dave untuk memastikan.
__ADS_1
......................
"Argh!" Anthony membuka matanya pelan saat ia merasakan bahwa bagian belakang kepalanya sedang sakit dikarenakan bekas pukulan. "Dimana?"
Anthony melirik ke arah samping, dia melihat Drew yang sedang tidak sadarkan diri dan yang lebih mengejutkan kondisi mereka berdua kini tengah terikat.
"Drew! Bangun Drew!" Anthony berusaha menendang badan Drew dengan kakinya agar dia bisa tersadar. "Bangun!"
Drew yang perlahan mulai sadarkan diri juga langsung membuka matanya perlahan, mereka berdua berusaha mengadaptasikan diri dengan kondisi sekitar.
"Ini dimana, Thon!?" tanya Drew pada Anthony.
"Aku gatau, kayaknya tadi kita ada di kantor deh," jawab Anthony melirik sekitar.
Tap!
Tap!
Tap!
"Pak Dave!" Anthony dan Drew hampir berucap bersamaan.
Dave tidak menggubris, dia berjalan ke arah kursi yang ada di depan keduanya kemudian duduk di sana, menatap kedua pria yang tidak bisa berbuat banyak itu.
"Apa-apaan ini! Maksud kamu apa!" teriak Drew memberontak.
"Mau anda apa sih Pak Dave! Kenapa anda menyekap kami berdua!" jawab Anthony yang membuat Dave tidak menjawab.
Dave meraih gelas kaca di meja yang ada disampingnya, meminum isinya kemudian melempar gelas itu ke tembok.
__ADS_1
PRANG!
Suara kaca pecah membuat Drew dan Anthony mendelik sembari menelan ludah. "Diam, kalian berdua!"
"Saya tidak ada bermaksud apa-apa, saya hanya ingin kalian membantu saya," lanjut Dave.
"Bantu?"
Dave berdiri, wajah hangat yang dikenal ramah itu berubah dingin membisu tanpa kehangatan kala itu, dia berjalan ke arah pecahan kaca di tembok dan mengambil beling yang paling besar.
"Mama Reni merawat seorang anak laki-laki dan dia sama sekali tidak tahu kalau dia punya anak laki-laki berstatus anak kandungnya," ujar Dave to the point.
Anthony dan Drew menatap ke arah Dave. "M-Maksudnya?"
"Harusnya kalian sudah bisa menebak, terutama kamu Anthony, selama ini kamu menyelidiki kemungkinan bahwa Nanas adalah anak Mama Reni yang dikatakan meninggal kan? Tapi apakah kamu tahu jika anak Mama Reni dulu tidak cuma satu, melainkan dua?" ujar Dave.
"J-jadi?"
Dave berjongkok di depan Anthony, dia mengarahkan beling itu ke wajah Anthony dan tersenyum miris. "Kamu pikir siapa anak yang dimaksud?"
"K-Kamu?"
"Yah, saya adalah kembaran Nanas, beruntungnya kami tidak identik sehingga tidak ada yang sadar, dan saya ingin mengakhiri status kamu sebagai anak Mama Reni, karena yang berhak memiliki status itu adalah saya, anak laki-lakinya, bukan kamu, anak tirinya!" Dave menghujam beling itu ke arah Anthony. "Maafkan saya, Thon!"
WUSH!
"Huh! A-apa yang terjadi?"
......................
__ADS_1