
Assalamualaikum
Halo Readers! Maaf baru upload lagi setelah sekian lama menghilang, kemarin author sempet ragu buat update lagi karena author sama sekali tidak dibayar di Novel Ini, tapi setelah ikhlas, author rasa kasian kalian kalau ga sampai tamat, yah udh ikhlas kok, and selamat membaca~
-
Nanas berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, tangannya tak lekang dari ponsel yang sedari tadi menghubungi Anthony, tapi tidak ada jawaban dari panggilan suara.
"Kabarin Papa Prabu dan Mama Reni, gak yah?" tanya Nanas dalam hatinya yang membuat dia ragu. "Jangan deh, Mama dan Papa kan lagi ada urusan, lebih baik aku nunggu aja dulu."
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sebentar lagi jam dua belas, harusnya Anthony sudah pulang walaupun dia tengah lembur.
Ting!
Nanas menghembuskan punggungnya di ranjang kemudian melirik ponsel yang dia letakkan di Nakas sebelum duduk, layar ponsel yang tadinya mati kini menyala, memperlihatkan lockscreen Nanas.
[Anthony dan Andrew sudah saya sekap, jika kamu ingin mereka kembali, kamu bisa datang ke kantor mereka malam ini!]
"Siapa ini, aku belum pernah melihat nomor dia sebelumnya," Nanas berdiri, dia mencoba menjawab pesan itu tapi sudah centang satu. "Aku harus tahu Adel, cuma dia yang masih ada di rumah ini."
Nanas berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar Adelia dan Drew yang berada dua ruangan dari kamarnya, sesampainya di depan kamar Adelia, Nanas langsung mengetuknya.
"Bentar! Bising banget sih!"
Adelia membuka pintu kamar yang membuat ia bernapas malas saat melihat Nanas di hadapannya. "Mau ngapain, lo?"
Nanas tidak menjawab, dia berjalan masuk ke kamar Adelia yang membuat Adelia menyusulnya. "Dih, napa sih lo!"
Nanas melirik layar laptop Adelia kemudian membaca artikel yang sedang Adelia search. "Cara mencegah kehamilan, kok kamu ngelakuin ini?"
__ADS_1
"Terserah gue yah! Lagipula gue juga gamau hamil anaknya Drew, gue nikah sama dia itu supaya gue bisa masuk ke rumah ini," jawab Adelia.
Nanas menghela napas panjang, dia menatap Adelia kemudian terdiam sejenak. "Del! Gawat, Suamiku dan suamiku kayaknya di culik sama seseorang deh, aku baru aja Nerima pesan ancaman."
Nanas memperlihatkan pesan yang dia dapatkan kepada Adelia, Adelia mendelik. "Orang iseng aja kali."
"Ga mungkin, ini tuh udah jam berapa, mereka berdua belum pulang kan?" jawab Nanas membuat Adelia terhening sejenak.
Adelia berjalan ke arah ranjangnya kemudian menutup laptopnya. "Biarin deh, peduli apa gue Drew, masalah Anthony emang gue cinta sama dia, tapi dia kan suami lo, lo urus aja sendiri."
"Kamu gak kasian sama Drew? Dia itu suami kamu loh."
"Peduli Gila!"
"Aku gak maksa kamu buat bantuin aku Del, gapapa tapi aku ngajakin kamu karena ini suami kamu, kamu gatau aja rasanya jadi Drew, dia cukup menderita kamu tahu, dia harus merawat ibunya yang sakit-sakitan sampai meninggal, dia harus merubah orientasi hidupnya, dia harus bisa beradaptasi dengan keluarga barunya, jangan buat dia merasa tertekan lagi dengan pernikahan kalian, lagipula Drew juga gak pernah jahat sama kamu, Del!"
Adelia terdiam dia menatap Nanas kemudian duduk di tepi ranjang.
Adelia dan Drew kini berjalan di tepi trotoar mereka baru saja memilih baju pengantin yang akan mereka pakai pada saat akad nanti.
"Serius banget gila, ini kan pernikahan pura-pura, lo gak perlu seserius itu untuk ini."
"Bacot!" jawab Drew yang membuat Adelia melipat kedua tangannya. "Mau gimana kan yang penting nikah, kamu tinggal terima beres aja."
"Ribet, gue kan ngasih saran."
BUGH!
Adelia tiba-tiba terjatuh ke tanah saat dia tidak sengaja tersandung sebuah batu yang cukup besar, hal itu mengakibatkan pergelangan Adelia terkilir dan berdarah.
"Aw! Sakit," Adelia tampak mengeluh kemudian mengambil posisi duduk.
__ADS_1
Drew yang melihat itu langsung berjongkok di samping Adelia dan mengecek kakinya. "Kaki kamu berdarah, pasti sakit kan."
"Pake nanya lagi, sakitlah."
Drew menghela napas, dia mengeluarkan sapu tangan dari kemejanya kemudian menutup luka Adelia agar darahnya tidak mengalir, setelahnya dia menggendong Adelia di punggungnya.
"Sabar yah, bentar lagi sampai ke bengkel, maafin aku, karena mobilnya di bengkel kita harus jalan ke butik, untung jaraknya Deket," ujar Drew menggendong Adelia dan kembali berjalan.
"Lo gak kesel sama gue?"
"Aku udah terlatih sabar, asal kamu tahu aja, lagipula aku ga bakalan tega biarin kamu gini, gaada perempuan yang berhak terluka."
"Lo ngomong apasih."
"Aku bakal berusaha ngerubah diriku, supaya setelah menikah nanti kamu gak terluka," jawab Drew.
"Maksud lo, lo takut-"
Adelia tidak melanjutkan kalimatnya karena Drew menatap wajahnya yang kini berada di bahu Drew.
"Aku takut ada wanita yang terluka, Del, aku minta tolong sama kamu saat kita jalanin rencana kita ini nanti, kamu jangan apa-apain Nanas yah, dia itu istri kakak kandungku, sebenci-bencinya aku sama mereka, Nanas gak salah."
"Iya."
Tak lama kemudian mereka tiba di bengkel, Drew langsung mendudukkan Adelia di kursi yang ada disana. "Tunggu disini yah, aku minta kotak obat dulu."
Adelia menahan tangan Drew kemudian menatapnya dalam. "Makasih yah."
Drew tidak menjawab, dia mengusap kepala Adelia yang membuat pipi Adelia memerah.
- Flashback Off
__ADS_1