Gairah Cinta Boss Besar

Gairah Cinta Boss Besar
Eps 25 | Kecurigaan Anthony


__ADS_3

Sudah Dua Bulan semenjak kejadian dimana Drew menjadi anggota keluarga baru Prabu, keadaan di setiap malam sama saja, selalu ada perang dingin diantara kakak adik itu.


"Huek!"


Nanas yang sudah resmi menjadi mahasiswi di kampusnya hari ini merasakan mual yang sangat hebat padahal hari ini dia ada mata kuliah.


"Baby, kamu gapapa kan?" tanya Anthony berjalan masuk ke kamar mandi dan menemui Nanas. "Hari ini gausah kuliah yah, kamu lagi sakit kayaknya."


"Gatau Dad, kayaknya lagi gak enak badan, yaudah deh aku di rumah aja," jawab Nanas berjalan keluar dari kamar di bantu oleh Anthony.


Sesampainya di ranjang, Anthony langsung mendudukkan istrinya itu di tepi ranjang dan mengusap kepala sang istri. "Nanti Daddy panggilin Dokter yah, kayaknya kamu demam."


Nanas mengangguk, dia beranjak menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang kemudian menatap Anthony. "Gak kerja?*


"Kerja kok hari ini, cuma Papa mau ngobrol sama aku dan Drew makanya mau nemuin Papa dulu," jelas Anthony memijit kaki Nanas pelan.


Nanas mengangguk, sementara Anthony yang tadi memijat kaki Nanas menjadi salah fokus kepada kaki Nanas. "Kamu punya tanda lahir di tumit kamu, aku baru ngeuh loh."


Nanas melirik tanda lahirnya kemudian menganggukkan kepala. "iya, emang kenapa Dad, masa udah dua bulan menikah baru sadar."


"Yah Gapapa, yasudah kamu istirahat aja disini dulu, Aku mau ketemu sama Papa nanti aku suruh Pelayan buat bawain makanan yah," Anthony berdiri dia berjalan mengambil jasnya kemudian berjalan keluar dari kamarnya.


Di sepanjang berjalan menuju ruangan Papa Prabu, Anthony terasa teringat sesuatu dengan tanda lahir itu.


"Bukannya dulu sebelum menikah dengan Papa, Mama Reni punya anak yah, waktu itu aku umurnya masih sebelas tahun, dan aku ingat betul, ada tanda lahir di tumitnya, Nanas mencari ibu kandungnya, apa mungkin ibu kandung yang dicari Nanas itu adalah Mama Reni?" ujar Anthony dalam hatinya. "Tapi mana mungkin, kata Papa dan Mama kan anak Mama Reni udah meninggal."


Anthony memikirkan hal yang menurutnya adalah kebetulan ini, dia berjalan menuju ruangan Papa Prabu, ditengah memikirkan ini tanpa sadar dia sudah ada di ruangan Papa Prabu, dan disana sudah ada Drew juga.


"Selamat Pagi, Pa, maaf aku telat, tadi Nanas lagi sakit," ujar Anthony berjalan masuk ke ruangan Papa Prabu dan duduk di kursi yang ada di samping Drew. "Kenapa orang ini ada disini juga?"


Anthony melirik Drew yang membuat Drew melipat kedua tangannya, fakta bahwa mereka adalah mantan pasangan kekasih tidak mereka pedulikan karena fakta mereka sodara membuat perang dingin terjadi diantara mereka berdua.


"Anak Papa, gak cuma kamu juga kali Thon," jawab Drew menatap tajam Anthony.


Papa Prabu hanya bisa menghela napas panjang, dia menatap dua pria bermata biru itu kemudian menepuk meja. "Sudah, maksud Papa mengumpulkan kalian disini karena Papa ingin mengabari kamu Thon."


"Mulai sekarang Adik kamu akan kerja di Perusahaan kamu, Divisi Marketing sedang kosong kan, masukkan Adik kamu disana," lanjut Papa Prabu yang membuat Anthony mendecih.

__ADS_1


"Aku gatau dia ini bisa kerja atau gak, basicnya gak ada kan?" jawab Anthony.


"Aku bisa kerja lebih baik daripada kamu mungkin," Drew mengangkat kepala menatap langit-langit ruangan tersebut.


Papa Prabu berdehem. "Thon! Jangan gitu sama adik kamu, gimana dia bisa kerja kan disana?"


Anthony menyerah, dia berdiri dari duduknya kemudian menarik napas. "Nanti siang suruh datang aja ke kantorku, aku lagi sibuk sekarang, nanti dia bisa ketemu sama General Manager yang bertugas."


Anthony berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk kembali ke kamarnya dimana ada Nanas disana, sesampainya di kamar dia mencium kening Nanas kemudian duduk di ranjang.


"Drew bakalan kerja di kantorku, kamu gak apa kan?" tanya Anthony pada Nanas. "Maksudku, kalau dia emang ngelakuin ini karena dia masih cinta sama aku."


Nanas menatap suaminya kemudian tersenyum. "Kalian kan sodara, sedarah lagi, mana mungkin Drew memiliki perasaan lagi, yah selama dua bulan ini juga dia anteng-anteng aja kan?"


"Yah karena dia belum berulah aja, entah ulah apa yang akan dia lakuin nanti."


"Udah ah, gak baik suudzon terus sama Drew, dia adik kamu loh Dad, yaudah sana kerja," jawab Nanas yang membuat Anthony diam sejenak.


"Baby, Daddy mau nanya, tapi kamu jangan tersinggung yah?"


"Hah?"


"Daddy gak bermaksud untuk mengait-ngaitkan ini, tapi sebelum menikah dengan Papa, Mama Reni dulu hamil dan melahirkan anak perempuan, tanda lahirnya sama persis dengan punya kamu, kamu gak berpikir kalau Mama Reni itu-"


Anthony menggantung ucapannya karena pintu terbuka yang ternyata ada Mama Reni masuk ke kamar mereka berdua.


"Nanas, kamu sakit yah?"


Anthony dan Nanas saling menatap, darimana Mama Reni tahu, kan Nanas ataupun Anthony belum mengatakan apapun.


"Feeling Mama gak enak, kamu sakit kan?"


"Cuma gak enak badan doang Ma, ini juga bentar lagi sembuh," jawab Nanas yang membuat Mama Reni panik seketika.


"Ya Allah, Mama panggilin Dokter yah, kamu makan apa, biar Mama masakin," jawab Mama Reni.


"Gapapa Mam, Thon juga sudah panggilin Dokter, kalau gitu Anthony titip Nanas yah, soalnya sudah telat ke kantor," jawab Anthony berdiri dan mencium punggung tangan Mama Reni dan mengecup kening istrinya sebelum berjalan keluar dari kamar.

__ADS_1


Lagi-lagi Anthony memikirkan satu hal didalam kepalanya, dia merasa bahwa ini tidak mungkin kebetulan. "Kok Mama Reni bisa firasat kalau Nanas sakit yah?"


"Dari detektif yang aku sewa juga bilang, kalau kemungkinan yang menyebarkan foto dan videoku malam itu bersama Nanas adalah seorang Wanita paruh baya, yang dimana kemungkinan besarnya sosok itu menginginkan aku dan Nanas menikah, apa mungkin itu Mama Reni yang mau dekat dengan anaknya, yang dimana anaknya itu, Nanas?"


Pikiran ini terbayang di kepala Anthony sampai dipaksa melupakan ini karena harus berangkat ke kantor.


-


Drew menutup pintu mobilnya, ia keluar dari mobil itu setelah dia memarkirkannya tepat di depan kantor milik Anthony.


"Tunggu!"


Drew menghentikan langkahnya, ia kemudian membalikkan badan menatap pusat suara yang dia dengar tadi.


"Kamu? Kamu mahasiswi miskin yang suka telat bayar uang semester itu yah?" ujar Drew yang membuat Adelia mendelik malas.


"Kasar yah mulut Lo, gue datang kesini baik-baik, gue mau bantuin Lo," jawab Adelia yang membuat Drew membuka kacamatanya.


Mata birunya menelusuk masuk ke dalam tatapan Adelia yang membuat Adelia menelan ludah.


"Gila nih orang ganteng juga, ah apasi Del, yang Lo cinta itu cuma Anthony," batin Adelia menatap Drew.


"Mau bicara apa?"


Adelia terhentak dari lamunannya yang membuat dia langsung mengatur napas sejenak. "Gue tahu rencana Lo, Lo mau ngancurin Pak Prabu kan?"


"Terus?"


"Gue punya bahan dan bukti yang bisa bikin Pak Prabu beserta keluarganya hancur, tapi Gue punya syarat," jawab Adelia yang membuat Drew melipat kedua tangannya. "Tapi kalau Lo mau aja yah."


Drew tidak menjawab, dia berjalan ke arah Adelia kemudian memojokkan Adelia ke mobil, sampai jarak mereka sangat dekat. "Syarat apa?"


"Lo harus nikah sama gue, karena gue mau masuk ke dalam rumah itu, yah gue cintanya sama Anthony tapi gue mau Lo nikahin gue biar gue bisa deket sama Anthony dan gue bakal bantuin Lo buat ngancurin Keluarganya, gimana?"


Drew diam, dia menarik senyum smirk kemudian mengusap wajah Adelia. "Boleh."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2