
"Sudah jangan menangis, kita harus ke butik untuk mengambil baju-nya karena sore ini kita akan menikah," jawab Anthony berjalan ke arah meja kerjanya untuk mengambil ponselnya.
Anthony tampak memencet layar ponsel itu mencari kontak sekretarisnya dan mulai menelepon. "Halo, umumkan kepada seluruh karyawan bahwa mereka boleh pulang sekarang juga, saya akan menikah hari ini, dan dalam lima menit saya mau kantor ini kosong."
Setelah menelepon, Anthony memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya dan berjalan duduk ke sofa. "Tunggu sampai kantor benar-benar kosong baru kita berangkat, saya tidak mau karyawan lain melihat saya jalan sama Cleaning Service kayak kamu."
Nanas tidak bergeming, dia tidak menjawab, hatinya sakit oleh sikap Anthony kepadanya, air matanya masih terus jatuh membuat Anthony merasa muak menatap Gadis itu.
"Sudahlah, jangan menangis terus!" Anthony berdiri dan berjalan ke arah Nanas. "Lagipula apa yang saya katakan memang benar kan?"
"Gak salah kok, kayaknya saya saja yang harus sadar diri," jawab Nanas menatap dalam Anthony.
Anthony membuang muka, dia meraih sapu tangan dari saku jas-nya kemudian mulai mengusap wajah Nanas yang penuh air mata. "Hentikan tangisanmu sialan, simpan nanti saat kamu menerima neraka didalam pernikahan kita."
"Bapak sadar gak sih, penyebab tangisan saya itu apa? Itu gara-gara bapak, dan bapak sendiri yang menghapus air mata saya, terkadang saya bingung, bapak itu kenapa?"
__ADS_1
"Yah saya hanya tidak mau kamu menangis tanpa air mata saat kamu merasakan neraka didalam pernikahan kita," jawab Anthony mengangkat alisnya.
Nanas meraih sapu tangan itu kemudian mengusap air matanya sendiri. "Saya bisa melakukan ini, sendiri."
"Oh, Okey, selamat menikmati siksaan batin yang akan berikan kepada kamu yah nanti, saya tidak suka main fisik, tapi saya suka menghancurkan mental seseorang, apalagi mental seorang Gadis Miskin kayak kamu yang berharap dicintai."
Nanas tidak menjawab, dia tidak peduli lagi dengan kata-kata Anthony yang tajam kepadanya, tak lama setelahnya Sekretaris Anthony menelepon Anthony dan mengabarkan bahwa kantor sudah benar-benar kosong, Anthony segera mengajak Nanas untuk keluar dari bangunan ini menuju butik tempat mereka akan mengambil baju dan Nanas akan di dandani.
"Masuk!" perintah Anthony kepada Nanas saat mereka sudah berada di hadapan mobil Anthony.
Nanas dan Anthony segera masuk ke dalam mobil itu, Anthony memilih menjalankan mobil tersebut meninggalkan area kantor.
Nanas tidak menjawab, dia lebih memilih menatap ke arah luar jendela. "Apasih yang bisa aku harapkan dari suami penyuka sesama jenis dan sombong, seperti Bapak."
"Banyak, saya bisa memberikan kamu istana tapi sayangnya istana itu akan saya bangun diatas air mata kamu."
__ADS_1
Rasa-rasanya Nanas tidak ingin meladeni pria yang ada disampingnya ini lagi, dia tidak peduli dan berharap semuanya akan segera selesai.
"Kita sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini, bagaimana kalau kita melakukan kesepakatan saja?"
"Wah! Gadis Miskin ini mencoba membuat negosiasi dengan Boss-nya sendiri, apa itu Baby?"
"Empat puluh Dua Hari, setelahnya kita bercerai, biar Bapak bisa bebas dan bahagia, saya gak mau pernikahan ini membuat kita saling menyakiti."
Anthony diam, dia menghentikan mobilnya mendadak di depan sebuah butik yang akan mereka datangi tadi. "Aku memberikanmu kehormatan, dan kamu memberikan diriku kebebasanmu selama Empat Puluh Dua Hari? Bagaimana?"
"Deal!" jawab Nanas keluar dari mobil itu untuk masuk ke dalam butik disusul dengan Anthony.
•
•
__ADS_1
•
TBC