
Anthony dan Nanas kini berada di kediaman dari Fahri, ayah yang selama ini Nanas anggap sebagai ayah angkat, mereka menemani Drew bersama Mama Reni dan Papa Prabu untuk melamar Adelia.
Anthony dan Nanas tidak terlalu mengambil banyak peran dalam acara ini dikarenakan memang yang bertanggung jawab adalah Drew sendiri.
"Oke sesuai kesepakatan bersama, Akad Nikah dari Drew dan Adelia akan digelar Tiga hari lagi, lebih cepat lebih baik," ujar Papa Prabu yang membuat Fahri mengangguk.
Drew dan Adelia sama-sama saling menatap dalam yang membuat mereka merencanakan sesuatu yang membuat Anthony dan Nanas patut menaruh awas.
Setelah semua acara itu selesai, mereka semua kembali pulang ke kediaman Papa Prabu karena di hari itu juga akan ada acara syukuran kehamilan Nanas.
-
[Sebenarnya ada beberapa adegan terjadi di acara lamaran Drew dan Adelia tapi gak terlalu worth it buat kalian baca hanya memanjangkan durasi membaca jadi author akan skip di bagian ini yah]
-
Mama Reni tampak berjalan keluar dari kamarnya sembari membawa ponsel, daritadi ponsel miliknya terus berdering yang membuat Mama Reni memilih menjauh ke area kolam renang rumah untuk mengangkat telepon tersebut.
[Halo, ini siapa yah]
Tidak ada jawaban setelah Mama Reni mengatakan itu yang membuat Mama Reni mengernyit pelan.
[Bu Reni, sampai kapan rahasia itu, Ibu simpan]
Mama Reni menajamkan pendengarannya dia seperti familiar dengan suara itu tapi dia tidak tahu siapa dibalik suara itu. [Ini siapa, yah]
[Cepat atau lambat semuanya akan terungkap]
[Jangan main-main yah, Mas]
[Semua akan tahu Bu, kalau Nanas adalah anak kandung Bu Reni dan Pak Fahri dan jika Pak Prabu serta Nanas dan Anthony tahu kalau Pak Fahri adalah Ayah Kandung Nanas, entah ada apa yang akan terjadi]
[Kamu siapa sih?]
Tut.
Sambungan telepon itu di matikan Mama Reni sejauh ini hanya merasa awas dengan Adelia tapi suara barusan adalah suara seorang pria yang membuat Mama Reni yakin kalau itu bukan Adelia.
Mama Reni tampak gusar, entah sudah berapa banyak orang tahu rahasianya sekarang, sampai akhirnya Papa Prabu datang menyambangi Mama Reni.
"Mama kayak gusar gitu, ada apa Ma?" tanya Papa Prabu yang jelas membuat Mama Reni gugup.
"P-Papa, tidak, Mama cuma kegerahan di dalam jadi cari angin diluar, gusar kenapa, Mama gak gusar kok," Mama Reni jelas berbohong.
Papa Prabu menatap Mama Reni dalam, sangat dalam sampai tatapan itu menembus netral dalam pengelihatan Mama Reni.
"Mama gak nyembunyiin apa-apa kan dari Papa?"
"Gak ada Pa, ayok kita masuk Nanas dan Anthony udah nunggu didalam," jawab Mama Reni mengajak Papa Prabu masuk kembali ke dalam rumah.
Di area ruang tamu yang sudah dibuat luas dan dipindahkan sofa-sofanya tampak tamu-tamu dari Mama Reni dan Papa Prabu sudah ada disana, Ustad yang dipanggil untuk memimpin acara syukuran itu juga sudah ada disana.
__ADS_1
Sampai akhirnya acara tersebut dimulai yang membuat Mama Reni merasa lega karena bisa terhindar dari pertanyaan Papa Prabu.
-
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Nanas berjalan masuk ke dalam kamar dengan membawa laptop miliknya sedangkan Anthony berada di kamar mandi untuk gosok gigi.
"Daddy?"
"Huh?"
"Kayaknya laptopku bermasalah deh, pinjem laptop Daddy dong," jawab Nanas.
"Di meja kerja aku," Anthony mengumam cukup keras sampai Nanas bisa mendengarnya, Nanas berdiri dari duduknya di tepi ranjang kemudian berjalan ke meja kerja Anthony yang ada di sudut ruangan.
Setelah berhasil mengambil laptop Anthony, Nanas kembali ke posisinya bertepatan dengan Anthony yang keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk di pinggangnya, rambutnya tampak lembab sedikit karena sudah dikeringkan dengan hair dryer sehingga tidak terlalu basah.
"Dad-"
"Hm."
"Lihat sini dulu," Nanas menatap suaminya yang tengah duduk dengan bersandar di punggung ranjang dan mengetik pesan untuk seseorang.
Anthony tidak langsung menjawab, dia mengetik sebuah pesan terakhir kemudian menaruh ponselnya ke nakas dan menghadap ke arah Nanas.
Satu tangannya menopang kepala dan tangan lainnya mengusap tangan Nanas. "Kenapa, Baby?"
"Aku kok ngerasa kayak akhir-akhir ini Mama Reni uring-uringan yah, apa Mama Reni adalah masalah?" tanya Nanas.
Anthony menilik ke langit-langit kamar mereka kemudian kembali menatap Nanas. "Kayaknya cuma capek aja, kan Mama Reni lagi ngurusin banyak hal, syukuran kamu, pernikahan si laknat itu."
"Iya, pernikahan Andrew, jadi yah dia capek mungkin, kenapa kamu mikirin itu?"
Nanas tampak ragu, dia memperbaiki rambutnya yang tergerai kemudian kembali menatap Anthony. "Aku ngerasa ada ikatan batin dan batinku bilang Mama Reni gak baik-baik saja."
Kedua mata coklat milik Nanas menatap mata biru milik Anthony, rahang tegas Anthony membentuk keras saat akan mengeluarkan kalimatnya. "Kalau semisal Mama Reni adalah Mama kandung kamu gimana?"
"Hah?"
"Berandai-andai," ralat Anthony cepat.
"Aku gatau harus jawab apa Dad, kalau Mama Reni benar Mama kandung aku kita gak punya bukti apa-apa."
"Ini masih hipotesis aku yah, tapi aku gamau bikin kamu merasa bersalah dengan pikiran kamu sendiri, kemungkinan besarnya iya, tapi aku akan berusaha mencari tahu tentang hal ini, sekarang kamu tidur yah, udah malam, gak baik begadang," Anthony bangkit kemudian mengarahkan istrinya untuk tidur.
"Good Night."
"Too."
-
"D-Dave!"
__ADS_1
"Kakek, Kakek harus kuat Kakek pasti bisa sembuh, Dave janji, Dave akan bawa Kakek ke luar negri untuk berobat."
Seorang pria tua menggelengkan kepalanya di ranjang rumah sakit, dia meraih wajah Pria yang bernama Dave.
"Ibu kandung kamu masih hidup!"
Dave tampak terkejut, selama dua puluh dua tahun dia dirawat oleh Kakeknya dan baru kali ini dia mendapatkan fakta itu.
"J-Jadi, Aku bukan anak yatim-piatu?"
Kakek dari Dave tidak sempat menjawab, napasnya tersengal dan akhirnya dia menghembuskan napas terakhir.
-
Nanas sudah bisa beraktivitas seperti biasa sekarang, setelah agak enakan, dia akhirnya bisa menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswi sekarang.
"Nanas!"
Nanas membalikkan badan, dia menatap ke arah suara itu yang ternyata adalah suara dari Drew.
"Nih kartu mahasiswi kamu ketinggalan di perpustakaan kamu tuh ceroboh banget yah," ujar Dave menyerahkan kartu Mahasiswi milik Nanas.
Nanas meraih kartu itu dan tersenyum. "Terimakasih mantan rival!"
"Ck eh maksudku apa yah, kamu kan bakal nikah sama kakak angkatku tapi kami adik kandung suamiku, jatuhnya kamu kakak ipar atau adik ipar?"
"Serah!"
Drew berjalan dengan machonya menanggalkan Nanas terkadang Nanas menyesali hal itu, harusnya sebelum Drew normal dia bisa melakukan adegan Jambak-jambakan dengan Drew.
"Kalau sampai itu kejadian, pasti itu bagian dari ngidam," Nanas baru saja melakukan fitnah pertama terhadap calon anaknya.
Nanas kembali berjalan menuju ruangan kelas sampai dia berpapasan dengan seorang pria yang disinyalir sebagai dosen baru.
"Pak! Bapak Dosen baru yah?"
Nanas langsung menyapa Pria itu yang membuat Pria itu menatap Nanas. "Kok kamu tahu."
"Tuh di tag nama bapak," Nanas menunjuk dengan dagu, tag name berisi kartu identitas Dosen milik pria itu yang tergantung di lehernya. "Siapa namanya, Pak Dave yah, salam kenal Pak Dave!"
Dave mengangguk. "Kayaknya kita seumuran deh, panggil kak Dave aja gimana?*
"Emang boleh?"
"Soalnya saya ngerasa seperti punya adik perempuan didekat kamu."
"Huh?"
...----------------...
Siapakah Dave?
__ADS_1
Ada kaitan apa Dave dengan Nanas dan Mama Reni, apakah Dave adalah orang baik atau jahat?
Ayok aku gamau mikir sendiri ayok mikir sama-sama