
"Tapi kenapa, Del?" Papa Prabu tanpa shock dengan hal ini. "Kalian baru saja menikah."
Adelia yang duduk di antara Drew dan keluarganya, Mama Reni, Papa Prabu, Anthony, dan Nanas hanya menghela napas pelan.
Wajah Adelia dan Drew penuh dengan rasa serius, dan mereka tahu bahwa saatnya tiba untuk memberitahu keluarga mereka tentang keputusan mereka.
Semua orang di ruangan itu menatap dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran dan ketegangan. Mama Reni dan Papa Prabu bertanya-tanya apa yang sedang mereka dengar, sementara Anthony dan Nanas juga merasa gelisah.
Drew melanjutkan, "Kami telah memutuskan untuk bercerai. Ini bukan karena ada konflik serius di antara kami, tapi karena ada masalah kecil yang kami pikir lebih baik jika kami simpan untuk diri kami sendiri."
Mama Reni dan Papa Prabu langsung merasakan kebingungan dan keberatan mendengar pengumuman itu. Mereka berdua ingin menjaga pernikahan anak mereka, dan gagasan bercerai menjadi kabar yang sulit untuk mereka terima.
"Tapi Drew, Del, apakah masalah kalian tidak bisa di selesaikan dengan baik-baik, sayang loh baru seumur jagung begitu," Mama Reni tampak memberikan penjelasan. "Tolong dipikirkannya baik-baik."
Drew dan Adelia saling menatap.
"Benar banget Del, Drew, kalian harus pikirkan ini dengan baik, pernikahan itu bukan main-main, apalagi kalau sudah menyangkut perceraian, sebagai Kakak kalian, aku menginginkan yang terbaik," Anthony kini bersuara.
Nanas berdiri, dia berjalan ke arah Adelia dan meraih tangan Adelia. "Kamu bercanda kan?"
Adelia menatap mata sedih Nanas, kemudian mata penuh harap keluarga yang lain, dia tidak sanggup, banyak ketulusan di rumah ini.
"Justru karena kami tidak ingin main-main, terlalu banyak ketulusan disini, banyak wanita baik di luar sana yang bisa mengisi posisi menantu dirumah ini, seperti Nanas," jelas Adelia merasa tidak pantas.
__ADS_1
"Kamu pantas kok, mau kamu atau Nanas, kamu adalah menantu yang Papa banggakan," jawab Papa Prabu.
Adelia menundukkan kepala, memahami kondisi hati Adelia, Drew segera menguasai situasi dan menjelaskan keputusan mereka bersifat final.
Awalnya ada penolakan. Namun, setelah beberapa saat diam, Mama Reni dan Papa Prabu akhirnya merasa bahwa keputusan ini adalah masalah pribadi antara Adelia dan Drew. Mereka memahami bahwa kebahagiaan anak-anak mereka adalah yang terpenting.
Mama Reni akhirnya berkata, "Meskipun kami tidak setuju, kami akan menghormati keputusan kalian."
Papa Prabu mengangguk setuju, "Kami akan selalu mendukung kalian, terlepas dari apa pun yang kalian pilih."
Adelia merasa lega mendengar kata-kata pengertian dari Mama Reni dan Papa Prabu. Dia tahu bahwa meskipun keputusan ini mungkin sulit, mereka semua ingin yang terbaik untuk Drew dan Adelia.
Adelia kemudian berbicara kepada Mama Reni dan Papa Prabu, "Terima kasih telah menjadi mertua yang baik bagi Adel selama ini. Meskipun keputusan ini tidak mudah, kami berdua menghargai dukungan dan cinta kalian, mulai besok Adelia akan kembali ke rumah Ayah Fahri karena kami sudah menandatangani surat perceraian kami."
Mama Reni bangkit dia memeluk Adelia, begitupun Nanas, ketiga wanita itu larut dalam pelukan.
"Terimakasih."
-
Di dalam kamar yang pernah menjadi saksi pernikahan Drew dan Adelia, Adelia lini duduk di samping tumpukan pakaian yang harus dia masukkan ke dalam koper. angin lembut yang lembut masuk melalui jendela, memberikan nuansa yang hening pada momen ini.
Mungkin akan menjadi terakhir kalinya mereka akan tidur sekamar.
__ADS_1
Drew datang menghampiri Adelia, membawa kotak karton kosong. Dia ingin membantu Adelia mengemasi barang-barangnya. Meskipun mereka telah menandatangani surat gugatan perceraian, ada perasaan persahabatan dan saling pengertian antara mereka.
Drew tersenyum lembut saat dia membantu Adelia. "Sepertinya kita akan menghadapi perubahan besar, ya?"
Adelia mengangguk dan membalas senyuman Drew. "Ya, Drew. Ini adalah akhir dari satu bab, tapi gue harap kita bakal menemukan pengganti yang lebih baik satu sama lain."
"Aku ngerasa kamu yang terbaik."
"Semoga bakalan ada kandidat lain."
Mereka berdua mulai mengemasi pakaian, bercerita satu sama lain tentang harapan dan impian mereka untuk masa depan. Meskipun jalan mereka telah berpisah, mereka masih memiliki dukungan satu sama lain dalam pencarian untuk kebahagiaan baru.
Dalam saat-saat ini, keduanya merasa bahwa meskipun pernikahan mereka mungkin telah berakhir, persahabatan mereka akan tetap ada. Dalam pelukan cahaya matahari yang tengah terbenam, Adelia dan Drew berbicara dengan harapan untuk memulai babak baru dalam hidup mereka, dengan keyakinan bahwa masa depan mereka akan membawa pengganti yang lebih baik untuk masing-masing dari mereka.
Setelah selesai membereskan pakaiannya, Adelia berdiri dan menatap Drew. "Aku bisa minta satu hal, gak?"
"Wait, apa, kamu manggil aku-kamu, tumben?"
"Biar spesial aja," jawab Adelia. "Gimana boleh gak?"
"Mau minta apa?"
Hening, mata mereka saling bertaut, sampai akhirnya Adelia langsung memeluk Drew. "Jangan talak aku, sekarang yah," pintanya. "Pas sidang aja, aku mohon."
__ADS_1
...----------------...
:):