Gairah Cinta Boss Besar

Gairah Cinta Boss Besar
Eps 41 | Sedang Rasa Itu Tak Ada?


__ADS_3

Di Taman Rumah Sakit.


Nanas duduk sendirian, merenung dengan wajah penuh kekecewaan. Air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.


Dia baru saja mengetahui kebenaran yang sulit dihadapinya - bahwa dia sebenarnya adalah anak yang dibuang oleh keluarganya. Air mata rasanya sudah tidak bisa dia tahan lagi, sebelum sebuah tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Are u Okay, my baby?" bisik Anthony pela kemudian mengecup pipi Nanas. "Aku tidak akan memberikan penjelasan supaya kamu tidak merasa sedih lagi, kamu berhak menangis, menangislah."


Anthony, suaminya, berjalan ke depan Nanas, dengan langkah hati-hati. Dia merasa terharu melihat Nanas dalam keadaan seperti itu, dan tanpa kata-kata, dia mendekati dan memeluknya erat.


"Tapi boleh, suami kamu ini minta satu hal?"


Nanas merespon pelukan Anthony dengan isak tangis yang tulus. Dia merasa hancur oleh kenyataan yang baru saja dia ketahui tapi pelukan Anthony sedikit menenangkan dirinya.


Nanas membenamkan wajahnya di bahu sang suami. "Daddy mau minta, apa?" tanya Nanas pelan.


"Kamu boleh menangis, tapi jangan didepanku, aku sudah janji supaya tidak ada lagi air mata yang jatuh di wajah kamu, melihat kamu begini, rasanya aku yang hancur," jawab Anthony pelan. "Jangan menangis lagi, yah?"


Nanas melepas pelukannya, ia menatap Anthony sekilas, tatapan mereka berdua saling bertaut, Nanas menundukkan kepalanya yang membuat Anthony langsung meraih dagu Nanas dan memaksa Nanas menatapnya.


"Jangan-" Anthony menggelengkan kepala sejenak, hembus angin di sana menemani keduanya. "Jangan menangis, lagi."

__ADS_1


"Daddy ngeharapin apalagi dari aku, aku cuma anak terbuang, Daddy gak malu punya istri yang tidak di inginkan kehadirannya?"


Anthony mengulas senyum. "Kenapa harus malu, kamu adalah kebahagiaan yang aku punya, saat kamu tersenyum, tertawa dan merasa bahagia, disitulah Daddy merasa berguna."


"Maksud Daddy?"


Anthony menatap lurus ke depan, dia menghela napas panjang. "Kamu tahu kan Daddy dulu di tekan keras oleh Papa Prabu, Orientasi berbeda membuat hidupku hancur, baby, tapi semenjak ketemu kamu-"


"Awalnya aku ingin memberikan neraka tapi kamu adalah hal yang sangat Daddy benci tapi begitu cepat menjadi Bidadari yang selalu ku rindukan, dan tidak akan ada Bidadari jika tidak ada surga, walaupun ada yang tidak menginginkan keberadaan kamu, tapi percayalah, suami kamu ini selalu menginginkan kamu, untuk siapa surga aku bangun jika tidak ada Bidadari didalamnya?"


"Tapi-"


"Hmp!"


Hening, Anthony mencium bibir Nanas pelan, menelusup masuk ke dalam sana membuat Nanas terdiam seketika, hening dan sepi membawa mereka pada situasi yang berbeda, Nanas memejamkan mata dan membalas ciuman suaminya, sampai akhirnya Anthony menghentikannya secara sepihak.


"Hidupku hanya untuk kamu," Anthony melirik perut Nanas. "Dan anak kita, jadi tidak peduli, siapapun yang tidak menginginkan kehadiran kamu, tapi kamu lebih dari segalanya di hati yang tepat."


Hening, tidak ada jawaban apapun, keduanya larut dalam kebersamaan, sampai tidak lama kemudian.


Dave, kakak kembar Nanas, masuk dengan senyuman yang hangat. Dia mendekati Nanas dan duduk di sebelahnya. "Nanas, aku ingin memberikan penjelasan padamu."

__ADS_1


"Pak Dave?"


"Kita seumuran, Nanas."


Nanas menoleh ke arah Dave, wajahnya masih dipenuhi dengan kesedihan. "Apa yang ingin Pak Dave katakan?"


Dave menjelaskan dengan lembut, "Mama tidak sepenuhnya salah dek, Mama terpaksa menitipkan kamu ke sahabatnya yang ternyata adalah istri Ayah kandung kita, karena sewaktu itu Mama hamil di luar nikah, jika Mama jahat, harusnya kita digugurkan saja, bukannya dilahirkan.",


Nanas terdiam.


"Mama selalu ada kok untuk kamu, hadiah yang datang tiap tahun adalah bukti cinta seorang ibu kepada anaknya, Nanas, tapi memang kondisi yang tidak memungkinkan kejujuran hadir di antara kita, maka dari itu aku hadir untuk meluruskan semuanya, maaf membuatku kecewa."


"Gapapa kok, kalau ini semua tidak terjadi, apa mungkin aku tahu, pantas saja aku bisa merasakan ikatan batin antara aku dan Mama Reni bersama dengan Pak Dave."


"Karena ada darah yang sama, di dalam tubuh kita," final Dave berdiri dan menghela napas. "Aku harap kamu bisa berdamai dengan keadaan."


Nanas mulai memahami konteks di balik keputusan yang diambil oleh orang tua kandungnya. Meskipun masih ada kekhawatiran dan kekecewaan, dia juga merasa lega mendengar penjelasan Dave.


Tapi haruskah dia menitipkan rasa maaf sedang dia belum, benar-benar ikhlas?


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2