
...Part ini lumayan panjang dan aku bingung mau ngasih judul apa wkwk, judul menyusul, jangan lupa like dan selamat membaca....
...----------------...
Mama Reni membawa masuk sebuah nampan berisi makanan ke dalam kamar Nanas untuk dia berikan kepada Nanas yang sedang sakit, Nanas masih tampak bersandar di punggung kasur karena lemas.
"Dokternya belum datang yah, gimana kalau Mama antar kamu ke rumah sakit aja?" ujar Mama Reni yang membuat Nanas diam sejenak.
"Gausah Mam, Dokternya dihubungi sama suami aku juga udah mau datang kok," jawab Nanas yang membuat Mama Reni hanya diam tidak menjawab.
Mama Reni diam sejenak, dia menatap wajah dari anak kandungnya itu sembari menimbang-nimbang sesuatu yang dia sangat pikir dari semalam.
Mama Reni masih memikirkan ancaman dari Adelia kepadanya yang ingin membocorkan semua rahasia Mama Reni kepada Nanas dan Anthony, Mama Reni takut kalau Nanas mendengar kesaksian ini dari orang lain dia akan kecewa dan membenci Mama Reni.
"Ada apa, Mama? Sepertinya Mama lagi mikirin sesuatu?" tanya Nanas yang membuat Mama Reni diam.
Mama Reni tidak menjawab, dia terlarut dalam lamunannya sendiri yang membuat Nanas harus membuyarkan lamunan tersebut.
"Mama? Mama kenapa, kok seperti ada yang dipikirin?" tanya Nanas kembali yang kali ini berhasil membuyarkan lamunan Mama Reni.
Mama Reni hanya tersenyum kemudian Berdiri dari posisinya yang tadi duduk.
"Mama cuma mikirin sesuatu tapi gak penting kok, Mama ke depan dulu yah nanti kalau dokternya datang Mama kabarin," jawab Mama Reni berjalan keluar dari kamar Nanas meninggalkan Nanas yang masih penasaran dengan Mama Reni.
Nanas terdiam sejenak, dia teringat kalimat Anthony kepadanya, bagaimana kalau benar Nanas adalah anak dari Mama Reni, entah kenapa Nanas serasa memiliki ikatan batin dengan Mama Reni, tapi dia tidak memiliki bukti yang kuat untuk menanyakan hal ini kepada Mama Reni.
-
Anthony mendelik malas hari ini dia tidak memiliki cukup mood untuk melakukan apa-apa dikarenakan Drew sudah mulai bekerja di kantornya atas permintaan Papa Prabu.
[Pak Anthony, berdasarkan hasil pengecekan kami, kemungkinan besar kendaraan dari si penyebar video malam itu mengalami tabrakan di sekitar jalanan lokasi kejadian, kemungkinan besar mobilnya terdapat bekas tabrakan kecil di bagian depan]
Anthony terdiam, dia terhenyak sejenak, dia masih menelusuri siapa sebenarnya sosok dibalik trendingnya skandal dirinya dengan Nanas.
[Apakah kalian bisa melihat kode kendaraannya?]
[Cctv kejadian tidak terlalu jelas Pak, tapi kami akan mengecek cctv lain yang mengarah ke lokasi, beberapa cctv di sana tidak mengizinkan kami mengecek rekamannya dikarenakan masalah privasi, tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin]
[Oke, saya tunggu kabar baiknya]
Anthony mematikan sambungan telepon tersebut, dia terpikir satu tuduhan yang tidak ingin dia lakukan, tapi entah kenapa dia merasa sosok ini adalah orang terdekat mereka sendiri.
Yang sangat dipastikan sosok ini menyebarkan video tersebut bukan dengan niat menghancurkan Anthony ataupun Nanas melainkan menginginkan keduanya terjebak pernikahan secara skandal.
"Ah Thon! Kenapa kamu harus memikirkan hal ini dulu sih, istri kamu sedang sakit di rumah," Anthony berdiri dari duduknya dia menutup laptopnya dan melirik jam arlojinya, sudah jam sepuluh malam.
Dia membereskan barang-barangnya kemudian beranjak keluar dari ruangannya, kantor sudah sepi, hanya ada beberapa tenaga keamanan yang berjaga disana, beberapa staf kecuali staf kebersihan sudah pulang.
Anthony sendiri kini sudah berada di halaman parkir kantornya, dia hendak masuk ke dalam mobil sebelum Drew berjalan ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Anthony ketus pada Drew.
Drew sinis. "Jangan ketus dong Thon, kayak kamu gak pernah cinta sama aku aja."
"Diem kamu."
"Santai, aku cuma mau bilang kalau besok aku ada kejutan buat kamu, Papa Prabu, Mama Reni dan Nanas, jadi siap-siap yah," ujar Drew pada Anthony.
"Sudah saya duga sih, kamu bakal ngelakuin hal yang aneh-aneh, ada rencana apalagi kamu sekarang?"
"Yah, bukan kejutan dong kalau aku kasih tahu sekarang, selamat malam Pak Boss."
Drew berjalan meninggalkan Anthony menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil Anthony.
DUGH! Anthony memukul pintu mobilnya sendiri kemudian mengepalkan tangan kesal. "Sialan."
Anthony masuk ke dalam mobilnya kemudian menjalankan mobil tersebut menuju kediaman keluarganya, dia belum menghubungi Nanas sedari sore, dia hanya tahu bahwa Nanas sudah diperiksa dokte tapi Nanas tidak mengatakan apa hasilnya.
Tidak lama di jalanan dikarenakan kondisi malam tidak banyak kendaraan yang lalu lalang sehingga Anthony sudah tiba dengan cepat di kediaman keluarganya, tapi yang membuat dia heran Drew belum sampai dirumah ini, padahal mereka pulang bersamaan, Anthony tidak ambil pusing, dia tidak peduli dengan hal itu.
Anthony berjalan melewati mobil milik Papa Prabu dan Mama Reni untuk masuk ke rumah sampai dia melihat sesuatu yang mencuri perhatiaannya.
"Penyok?"
Anthony melirik penyok yang ada di bagian depan mobil Mama Reni, dia berjalan ke arah mobil Mama Reni untuk melihatnya lebih jelas.
__ADS_1
"Ini kebetulan atau emang Mama Reni?"
Anthony berpikir keras atas ini, dia menatap penyok itu dan berusaha membersihkan pikirannya dari tuduhan yang mengarah kepada Mama Reni.
"Sudah pulang, Thon?"
Anthony membalikkan badan, Papa Prabu berjalan dari teras dan duduk di kursi yang ada di teras. "Tumben malam banget?"
Anthony mengangguk, dia mengabaikan hal yang baru saja dia pikirkan kemudian berjalan ke arah Papa Prabu dan mencium punggung tangannya. "Ada kerjaan, Pa."
"Gimana Drew, adik kamu, dia kerjanya bagus?"
Anthony mendelik malas. "Lumayanlah, Pa, Thony mau nanya sesuatu sama Papa boleh gak?"
Papa Prabu meraih gelas kopinya kemudian menyeruput kopi tersebut setelah menganggukkan kepalanya.
"Anak Mama Reni dulu itu, beneran meninggal kan Pa?"
BYUR!
Anthony terkejut sama Papa Prabu menyemburkan keluar kopi yang ada di mulutnya kemudian membulatkan mata sempurna karena terkejut.
"Kenapa Pa?"
"K-Kopinya Panas," jawab Papa Prabu gugup. "Kenapa kamu nanya begitu, Thon?"
"Yah Gapapa, aku merasa aneh aja, waktu itu umur Thony masih sepuluh Tahun kan?"
"Empat Belas, Thon, kamu sudah masuk sekolah menengah pertama," jawab Papa Prabu.
"Oh? Okelah, tapi aku ngerasa Pa kalau waktu itu gaada acara penguburan apapun layaknya ada orang meninggal padahal anak Mama Reni meninggal setelah dilahirkan," Anthony mengusap dagunya. "Papa ngerasa ada yang aneh gak sih?"
Papa Prabu terdiam, dia tidak menjawab, dia tahu hari ini akan datang, tapi kenapa harus sekarang, Papa Prabu tidak tahu harus menjawab apa kepada Anthony karena dia belum menyiapkan jawaban apapun sekarang.
"Papa, kok diam, apa Papa tahu sesuatu tentang hal ini?"
Papa Prabu melirik Anthony. "Itu kejadian dua puluh dua tahun yang lalu Anthony, kenapa kamu bertanya begitu?"
"Karena aku ingat anak Mama Reni waktu punya tanda lahir dan aku merasa ada sosok yang memiliki tanda lahir persis dan herannya sosok tersebut juga sedang mencari ibu kandungnya, ini gak mungkin kebetulan kan Pa?"
Anthony hendak menjawab, tapi sosok Mama Reni keluar dari rumah menuju ke arah mereka berdua yang membuat Anthony mengurungkan niatnya menjawab.
"Loh Thon, sudah pulang, kok gak langsung ke kamar, Nanas udah nungguin kamu," ujar Mama Reni yang membuat Anthony berdiri.
"Ini baru sampe kok Ma, cuma bicara bentar sama Papa, kalau begitu Anthony masuk dulu yah," jawab Anthony berjalan masuk meninggalkan Papa Prabu dan Mama Reni berdua di teras.
Sepertinggalnya Anthony, Papa Prabu berdiri dia menyentuh pundak Mama Reni dan menatap dalam istrinya itu. "Anthony tampaknya sudah curiga, Ma."
"Mama tahu, Pa, tapi bagaimana kita bisa menjelaskannya nanti," jawab Mama Reni.
Papa Prabu mengusap wajahnya pelan. "Sebenarnya dimana anak Mama yang Mama tinggalkan dahulu?"
Mama Reni terdiam, dia menelan ludah pelan kemudian mencari alasan. "Anak itu sudah diberikan kepada Ayah Kandungnya dan pindah ke luar negri."
"Tapi kenapa Anthony bilang dia bertemu orang yang dia rasa adalah anak Mama dulu?"
Mama Reni menggelengkan kepalanya. "Mama juga tidak tahu, Pa."
"Ma?" Mama Reni mengangkat kepala menatap Papa Prabu. "Sudahlah, Papa harap Mama tidak menyimpan rahasia dibelakang Papa yah."
Mama Reni tidak menjawab, setelah mengucapkan itu, Papa Prabu berjalan meninggalkan Mama Reni untuk masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, Anthony kini sedang berjalan ke arah kamarnya, dia membuka pintu kamar yang tampak sudah rapih, dia menilik ke dalam kamar dan menemukan Nanas tengah duduk di ranjang dengan laptop di pangkuannya.
Nanas tampak sudah tertidur dalam keadaan laptop menyala, dia berjalan ke arah Nanas kemudian melihat laptop Nanas, ternyata Nanas tengah mengerjakan tugas-tugas kampusnya.
"Astaga, kamu kecapean yah?" Anthony mengambil laptop itu dan menaruhnya di nakas. "Padahal kamu lagi sakit."
Anthony memperbaiki posisi tidur Nanas, dia menidurkan istrinya itu dengan benar di ranjang kemudian memakaikannya selimut, setelahnya Anthony beranjak membuka kemejanya untuk segera bersih-bersih.
Dengan keadaan bertelanjang dada, Anthony berjalan ke kamar mandi, berniat untuk segera mandi dengan sebuah handuk mengalung di lehernya, tapi betapa terkejutnya dia mendapati sebuah tulisan di cermin wastafel disertai sebuah testpack yang tertempel disana.
SELAMAT, KAMU AKAN NENJADI SEORANG AYAH, DAD!
Anthony terdiam, dia berjalan ke arah cermin itu dan meraih testpack sedangkan ada sebuah hasil laporan kedokteran yang juga tertempel, hasil laporan itu menyatakan Nanas kini tengah mengandung anak pertama mereka.
__ADS_1
Anthony terkejut, dia tidak bisa memproses apa-apa lagi yang ada di kepalanya, dia hanya bisa berucap syukur kemudian terdiam tanpa suara.
Anthony berjalan keluar dari kamar mandi kemudian kembali ke arah Nanas yang masih tertidur, dia mengecup kening istrinya itu kemudian sedikit menitikan air mata bahagia.
"T-terima kasih, sayang, kamu sudah berhasil membuat saya menjadi laki-laki yang seutuhnya," bisik Anthony menaruh testpack dan hasil pemeriksaan itu di nakas tepat disamping laptop.
Setelahnya Anthony kembali berjalan ke kamar mandi untuk melanjutkan bersih-bersihnya, tidak butuh waktu lama, Anthony sudah selesai bersih-bersih, niatnya dia ingin segera tidur, tapi karena dia melihat tugas kuliah Nanas yang belum selesai, dia memilih meraih laptop Nanas dan beranjak ke sofa untuk mengerjakannya.
Tik.
Nanas membuka mata, dia menggapai ke sebalahnya dimana biasa ada Anthony disana tapi tidak menemukan apa-apa sehingga membuat dia memilih bangkit dan duduk.
"Dad?"
Nanas melirik jam, dimana sudah jam dua malam, dia berusaha mengadaptasikan matanya di dalam kondisi gelap, dia meraih tombol lampu yang berada tepat di samping ranjang yang membuat kondisi kamar menjadi terang.
Nanas melirik nakas, dia tersenyum karena dia tahu kalau Anthony sudah mengetahui kalau dirinya tengah hamil, setelah melihat itu dia akhirnya menemukan Anthony yang tertidur di sofa dengan laptop di pangkuannya.
Nanas meraih selimut kemudian berjalan ke arah Anthony, sesampainya disana, Nanas langsung duduk di samping suaminya.
"Kamu ngerjain tugasku yah? Makasih Dad!" Nanas menutup laptopnya dan menaruhnya di meja yang ada dihadapan mereka. "Aku tahu, saat pertama kali kamu mengucap akad, kamulah pria yang selama ini aku cari."
Nanas menaruh kepalanya di bahu Anthony dan menyelimuti badannya dan badan sang suami dengan selimut yang dia bawa.
"Selamat malam, Dad."
-
"Kamu jangan banyak gerak yah, kamu kan lagi hamil, saya jadi gak tenang biarin kamu ngapa-ngapain kalau begini," ujar Anthony membantu Nanas yang masih sedikit pusing berjalan keluar dari kamar.
Hari ini Anthony sengaja mengambil cuti untuk menemani Nanas di rumah, sampai mereka berdua keluar dari kamar mereka melihat Mama Reni dan Papa Prabu beserta beberapa pelayan bersiap menyerahkan seserahan untuk pernikahan.
"Ma, Pa, ini ada apa?" tanya Anthony berjalan menuruni anak tangga bersama dengan Nanas.
"Kalian sudah bangun, sana sarapan dulu, ini Mama sama Papa lagi nyiapin acara syukuran hamilnya Nanas hari ini, terus ini sekalian nyiapin acara lamarannya Drew."
"Hah?"
Nanas dan Anthony terkejut bukan main saat Mama Reni mengatakan itu.
"Drew, nikah, mau nikah sama siapa?" tanya Anthony yang membuat Mama Reni menaruh parcel yang dia pegang.
"Drew gak ngasih tahu kalian?"
Nanas dan Anthony menggeleng.
"Dia mau ngelamar Adelia, kakak tirinya Nanas," jawab Mama Reni yang membuat Anthony dan Nanas saling melempar tatapan. "Yaudah sana kalian sarapan, habis sarapan kalian siap-siap yah, buat temenin Drew ngelamar."
Setelah mengucapkan itu, Mama Reni beranjak pergi untuk mengatur beberapa orang yang ditugaskan menyiapkan acara syukuran Nanas yang digelar hari ini juga.
"Pasti ada rencana busuk nih, Drew dan Adelia itu kan obsesif sama aku, masa mereka mau nikah," bisik Anthony agar tidak di dengar orang lain yang ada disana.
"Daddy, udah tahu kalau Adelia obsesif ke Daddy?" jawab Nanas ikut berbisik.
"Tahu, dari dulu malahan, cuma aku abaikan dia, ga nyangka aja dia bakal masuk ke rumah ini melalui Drew, kita harus tahu, ada rencana apa keduanya.",
"Udahlah Dad, gausah berpikiran aneh-aneh, aku lagi hamil, pamali kalau suami overthinking terus," jawab Nanas berjalan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Anthony tidak menjawab langsung, dia hanya menghela napas kemudian menatap istrinya. "Kamu tuh terlalu positif thinking, yaudah kamu disini dulu yah, aku mau ke dapur ambil sarapan."
Nanas mengangguk dan memilih memainkan ponselnya sebelum Panggilan telepon masuk ke ponselnya.
"Adelia?"
Nanas mengangkat telepon itu dan menyapa lebih dulu. [Halo?]
[Gimana, Lo udah tahu kan kalau gue bakal jadi menantu Pak Prabu, Lo siap-siap aja, gue bakal ngebayang-bayangin hidup lo.]
Nanas menghela napas, dia sudah tahu ini akan terjadi.
[Selamat yah, tapi asal kamu tahu, aku bukanlah Nanas yang bisa kamu tindas kayak dulu lagi.]
...----------------...
Btw Author ada Novel baru judulnya Ayok Rujuk jangan lupa mampir yah~ Makasih
__ADS_1