
"Siapa tadi" ucapnya mengintimidasi
"Tadi" batin jila sembari berpikir
"Oh, tadi itu cuma teman pah" lanjutnya
"Teman?" ucap papah jila tak yakin, lantaran karena selama ini jila tak pernah di antar oleh seorang cowok selain sahabat kecilnya
"Iya" ucap jila sembari menunduk
"Ingat Jil kamu akan papa nikahkan dengan anak teman papah, jangan sampai kamu mempermalukan papah di hari pernikahan mu dengan kedatangan cowok itu" ucap... Lalau pergi.
Jila pun beranjak dari tempat menuju kamarnya dengan keadaan kesal. Ya, bagaimana tidak kesal papah nya itu tika pernah perduli pada dirinya, tidak pernah memperdulikan perasaan dirinya yang ada dalam benaknya hanya perusahaan-prusahaan dan perusahaan.
Tak terasa air bening pun jatuh membasahi pipinya.
"Kamu jangan cengeng jila" batin jila menguatkan diri.
"ingat masih ada yang lebih susah, lebih sedih, lebih sakti dari pada mu, di dunia ini bukan kamu saja yang tersakiti masih ada yang lain yang lebih dari durimu " lanjutnya
Karena lelah tubuhnya dan perasaan nya, iapun tanpa sadar tertidur di kasir, Hinga pada tengah malam ia terbangun untuk melaksanakan shalat.
Ya, zajila merupakan orang beragama Islam mengikuti mamahnya, meskipun ia tinggal bersama papahnya yang notabenenya non Islam ia tetap teguh pada pendiriannya.
Zajila sadar meskipun dirinya tak sepatuh dan tak seta'at orang-orang yang terdidik dengan ajaran Islam atau seperti santri, dia tetap akan mempertahankan imannya sampai ajal menjemput dirinya.
"Ya Allah berikan jodoh yang terbaik untuk hamba menurut engkau" lanjutnya jila dalam doanya setelah selesai shalat isya.
"Mamah sebentar lagi jila akan menikah, jila akan jaga pernikahan ini sampai maut yang memisahkannya, jila tidak mau anak jila kelak bernasib seperti jila" batin jila, ketika ia mengingat nasibnya yang mempunyai mamah tiri, saudara tiri yang jahat kepadanya, bahkan papahnya yang dulunya perhatian, peduli, dan penuh kasih sayang kini telah hilang seperti di telan bumi yang hanya tersisa kenangan saja, setelah papahnya menikah dengan Tante intan.
...----------------...
sedangkan di sisi lain, Alex kini sedang berkutik dengan hp nya, mencari tau semua masa lalu tentang dirinya, supaya ia tak salah dalam melangkah.
Mengingat Aldi yang menatapnya sinis, dan perkataan-perkataan temannya mengenai Aldi membuat otak berpikir keras, sebenarnya apa masalah dirinya dengan Aldi sebelumnya?
__ADS_1
tak terasa kini jam menunjukan pukul empat pagi. melihat itu Alex langsung melepas ponsel dan bergegas ke meja belajar untuk mengejar materi yang tertinggal.
"gue harus bisa, pasti bisa" batin Alex ketika ia mengingat buku harian yang selalu di tulisnya sejak dulu. khususnya buku harian tentang kesedihan dirinya yang selalu di bandingkan dengan Afran oleh Mamih.
"Oky, gue bakal kalahin lu Afran dari segi apapun, akademik, non akademik bahkan percintaan gue bakal kalahin lu" ucapnya yakin.
kini matahari mulai menunjukkan cahaya nya memasuki celah-celah jendela, membangunkan seseorang yang sedang tertidur di meja belajarnya.
"ah gue ketiduran" ucapnya lalu berlaju pergi ke kamar mandi.
setelah membersihkan diri dan memakai pakaian sekolahnya ia kemudian keluar kamar melangkah menuju ruang makan.
"Alex sini sayang" ucap intan yang melihat anaknya turun dari langit dua.
"alex sarapan dulu ya, ini mamah udah bikin makanan kesukaan mu" lanjutnya.
"maaf mih, Alex kesiangan Alex harus cepat-cepet ke sekolah" ucap Alex datar.
"tapi ini masih jam setelah tuju, kamu makan dulu ya" ucap intan.
"Huu, seperti dulu lagi" ucap intan sembari menghela napas berat.
...----------------...
Sedangkan di sisi lain zajila kini sedang beres-beres rumah membantu Bu Iyem yang seperti biasanya. karena bila dia tak melakukan itu dia tak akan di kasih makan satu hari oleh mamah tirinya.
Selesai merapihkan rumah, ia langsung bergegas membersihkan diri setelah itu ia langsung berangkat sekolah bersama saudara tirinya mengunakan mobil.
"Lelet banget sih lu" ucap gita kesal karena harus menunggu cukup lama.
"Kenapa gak duluan ajah, biasanya juga duluan" ucap jila santai menghadapi orang yang di sebelahnya.
"Kalu bukan karna papah yang minta gue bakal tinggalin lu dari tadi" seru ani ketus.
"chk, munafik" ucap jila.
__ADS_1
Ya, Gita dan intan akan bersikap baik terhadap dirinya bila di depan papahnya, namun bila papahnya sudah tidak ada apalagi ke luar kota mamah tiri dan sudar tirinya itu seperti iblis yang berujud manusia.
"Apa lu bilang?" seru Gita.
"MUNAFIK"
"Berani lu Ama gue" ucap gita sembari menarik rambut jila, begutupun dengan jila di tak kalah kasar menarik rambut saudaranya.
"Nona- udah non" ucap supir di kursi depan, lantaran karena kedua anak majikannya itu ribut di dalam mobil membuat mobil menjadi tak seimbang.
"Dasar lu yah pembawa sial"
"lu bilang apa? pembawa sial! lu tuh yang membawa sial di keluarga gue" ucap jila sembari menari rambut itu dengan kuat.
"AHH, lepasin rambut gue" teriak Gita merasa rambutnya mau rontok.
"Ha, ha, Gak bakal gue lepasin, ini pembalasan buat lu" ucap jila, sudah pasti rambut Gita itu sudah rontok menggankan di tangan Zajila.
Zajila kini tak berpikir nasib apa yang akan dia dapatkan di rumah ketika di ketahui mamah tirinya, yang dia pikirkan hanya membalas semua perbuatan Gita ya g selama ini menyakiti hati, dan fisiknya.
"kalu lu gak mau lepasin, gua bakal aduin ke mamah" seru Gita, sembari membalas tarikan rambut itu
"Aduin aja gue gak takut"
"non Gita, neng jila sudah non ini di dalam mobil" ucap pak supir dari pengemudi, berusaha menghentikan pertengkaran yang semangkin tak terkendali itu.
Karena suasana semangkin tak terkendali akhirnya pak supir itu menepikan mobilnya tepat di jalan yang tak cukup jauh dari sekolah. Lantas pak supir langsung turun dari mobil nan meminta bantuan kepada seseorang yang ada di sekitar sana.
Tak berselang lama kini keduanya sudah selesai setelah beberapa ibu-ibu mengelar-i pertengkaran itu. namun meskipun pertengkaran itu sudah selesai zajila maupun Gita masih ada kobaran api di hatinya.
"Awas ajah lu sialan, gue bakal bikin lu menyesal"
"Bikin aja, gue gak takut, sekalipun mamah lu yang gatel itu turun tangan gue gak bakal takut", ucap jila sembari memperlihatkan jari tengahnya setelah itu dia pergi dari sana.
"Ckh, s**l " batin gita.
__ADS_1
"AWAS AJA LU PAS DI RUMAH" teriak Gita sembari mengepalkan tangannya. Namun perkataan itu tidak di hiraukan oleh saudara tiri nya yang semangkin menjauh.