
Jila menyesal andai saja pada saat itu, ia tak menolak ajakan Aldi untuk makan, mungin semuanya gak akan begini, mungin sekarang Aldi masih baik-baik saja. ya meskipun kejadian itu tetap akan terjadi tapi kemungkinan besar Andi dapan melawan dan masih bisa menyelamatkan dirinya sendiri. tidak seperti tadi yang pasrah dan tak sedikitpun membalas perbuatan Alex. semua itu salahnya.batin jila dalam tangisannya
Satu Minggu kini telah berlalu, hubungan Alex dan jila kian semangkin merenggang, bukan jila yang lelah berjuang tapi Alex terus menghindari nya dan Aldi terus mengejarnya
"Jila tunggu" sang empu tidak menghunuskan ucapan itu, ia terus saja berjalan cepat menghindari orang itu.
"Kenapa sih, orang itu apa gak cape ngejar gue Mulu, kan gue dah bilang gue gak mau" batin jila.
"Kenap lu Jil?" ucap Ani yang melihat jila terburu-buru memasuki kelas.
"itu tuh, si Aldi" balas nya sembari menghirup udara banyak-banyak.
"Dia masih ngejar lu?"
"Iya, padahal gue udah bilang kan gue itu gak suka Ama dia, dianya maksa agar gue suka Ama dia, ya mana bisa gutu, lagian perasaan tuh datang dengan sendirinya bukan di panggil dan di paksa" ucap jila menggebu-gebu. Namun orang yang bertanya hanya menangapi dengan anggukan kepala.
"ihs, lu mah ni?" ucap jila kesal melihat tanggapan sahabatnya.
"iya terus gue harus apa?"
"Iya lu bantuin gue agar orang itu gak ngejar-gejar gue lagi, gue cape tau ke mana-mana dia selalu ngikutin gue"
"Tapi gak ke kamar mandi juga kan?" Ucap galang yang tiba-tiba datang mengagetkan mereka berdua.
"Ishh Galang kebiasaan deh" ucap jila
"Iya maaf maaf" balas Galang sembari mengelus kepala jila.
"Ani coba deh lu deletin aldi, ya sapa tau kan Aldi ke cangkol Ama lu, lagian lu cantik ko, okay lagi pasti dia mau Ama lu" saran jila.
Ani yang mendengar itupun langsungn terbelalak matanya, iya tak habis pikir dengan jalan sahabat satunya itu.
__ADS_1
"Gak" ucap Galang dan Ani secara serempak.
"Kenapa?" ucap jila pada ani
"lu juga kenapa Galang ikut-ikutan segala"
"iya gue cuma gak suka ama saran lu itu, itu gak banget"
"terus lu?" ucap jila sembari memancing matanya kepada sahabat perempuan nya
"gue udah punya pacar, gue takut dia marah" alib Ani.
Ya selama ini Ani tak memberitahu kepada jila bahwa dirinya sedang memiliki hubungan dengan Andi untuk memanas-manasi Galang. Karena bagi dirinya cukup Galang, Andi dan dirinya saja yang tau, untuk yang lainnya tidak perlu. Tapi sekarang? gara-gara saran aneh itu membuat dia harus mengakui. lagian tak mungkinkan dia menerima saran jila di depan Galang, bisa-bisa Galang mencurigai nya.
"Hah, sejak kapan?" kaget jila
"Satu Minggu" balas Galang.
"bukan gitu, gue cuma belum sempet bilang aja" alib Ani.
"Alah sengaja itu Jil" sikap kompor ****** kini sedang kumat kembali. rasanya sekarang Galang ingin tertawa karena bisa memanas-manasi Ani dan jila, bukan tampa alasan ia berbuat demikian, karena ia merasa kesal dengan Ani yang akhir-akhir ini cuek kepadanya dan lebih pokus pada Andi.
"Sama siapa?" tanya jila menginterogasi. Ani hanya diam ia bingung harus menjawab apa, haruskah ia mengatakan bersama Andi, bila begitu pasti jila tak akan percaya dan jila pasti langsung menertawakan dirinya. karena ya ga mungkin dirinya dan Andi bersatu sedang mereka sejak dulu bagikan musuh bebuyutan yang tak ada mau kalahnya.
"Sama siapa ni" ucap Galang sengaja mendesak sahabatnya. Ani langsung menatap tajam sahabatnya laki-laki nya, dia tak habis pikir bagaimana dia bisa menyukai Galang, sampai-sampai sengaja membuat orang itu cemburu. apa yang menarik dari galang, ganteng? gantengan Kaka dirinya, kaya? kaya an keluarga dirinya, Baik? baikan opa, hanya saja.. argkh.. tau ah pusing memikirkan alasan dirinya menyukai sahabat nya.
"I..itu..emm"
" Itu siapa ni?" tanya jila
"Andi" jawabannya namun bukan Ani yang jawab Melainkan sahabat laki-laki nya.
__ADS_1
"hahahah" tawa jila menggempa di kelas itu Hinga seisi kelas teralihkan polusinya terhadap mereka.
"Lu serius Ama dia?" tanya jila di sela-sela tawanya. Ani hanya bisa mengagumkan kepalanya, pasrah dengan keadaan.
"Kesambet apa lu hingga mau Ama dia?" yang di bales dengan gelengan kepala.
"Jangan-jangan lu udah anu ya" tanya jila berbisik di telinga sahabatnya, yang langsung mendapat tempukan keras di bibirnya.
"Kalau ngomong tuh Ngada-ngada"
"Ya habisnya lu aneh" ucap jila sembari memanyunkan bibirnya ke depan, tepuan Ani di bibirnya memang sangat keras hingga bibir cantik nya tergigt oleh giginya sendiri.
"Oooo, pantesan akhir-akhir ini lu gak pernah berantem Ama Andi, eh tau-tau nya kalian udah pacaran"
"sekarang gue tau jawabannya kenapa Andi sering liatin lu dari belakang, dan lu sering senyum-senyum sendiri di kelas kaya orang gila" ucap jila.
Ani langsung melebarkan matanya, ia tak percaya sungguh ia tak percaya dengan perkataan jila, benarkah Andi sering menatap nya dari belakang? dan ya soal senyum-senyum sendiri itu juga ulah si Andi yang selalu kirim pesan lawak untuk nya pas jam kosong.
"Tring-tring" bunyi ponsel Ani mengadakan ada pesan yang masuk. lantas Ani langsung mengambil ponselnya dan ia mengecek siapa yang mengirim pesan padanya. belum sempat Ani membaca nama pengirim di sana ponsel itu langsung di rampas oleh sahabatnya.
"uhuyy.... MY LOVE gess, siapa nih" teriak jila menggempakan seluruh isi kelas.
"Cie cie, yang tadinya Andi gila sekarang jadi my love donk" malu sungguh sangat malu, Ani malu saat ini, gimana gak malu semua kelas tau dirinya tak bersahabat dengan Andi dan sering bertengkar tapi sekarang? semua orang telah mengetahui hubungan dia dan Andi.. pasti mereka akan mengolok-olok dirinya.
Andi yang melihat Ani tertunduk sembari menutup mungkanya langsung mendekat ke gadis itu, ia langsung menarik Ani ke dalam dekapannya, mengusap punggung belakang secara perlahan.
"Gak usah malu" ucap Andi seolah-olah tau bahwa gadis di dekapannya ini sedngan menahan rasa malu.
Seisi kelas langsung bersorak melihat kemesraan kedua insan itu. berbagai epresi mereka tunjukkan, ada yang menatapnya iri, sedih, bahagia, tak menduga, dan kecewa. Ya kebanyakan kaum cowo yang menatap keduanya kecewa, kecewa karena kenapa mereka tak berjuang, tak mengungkapkan perasaan nya terlebih dahulu, kenapa mereka takut, takut kepada kata penolak karena akan ke bedaan kasta, sedangakan sekarang Ani dan Andi yang kasat berbeda dan sering bertengkar bisa bersama, apalagi mereka yang gak pernah bertengkar pasti mudah mendapatkan hati pujaan hatinya.
"Ayuk" ucap Andi mengajak Ani pergi dari kelas itu
__ADS_1