
Ani yang melihat Galang menatap dirinya lantas ia langsung mengeratkan pelukan pada lengan pacarnya, eh ralat pacar bohongan nya.
Galang, pria itu hanya bisa menatap Ani nalar, sungguh iya tak menyangka ternyata kencan itu sungguh dan mereka kini telah jadian. Galang kira Ani hanya berbohong kepada dirinya karena marah.
Sedih itulah yang di rasakan Galang, Galang tak tau kenapa ia bersedih ketika melihat Ani dengan Andi, bukanlah dirinya dan Ani hanya sahabatan saja, Tak seharusnya ia seperti ini, seharusnya ia bahagia karena orang yang selalu menyusahkan dan menempel pada dirinya itu kini sudah ada orang lain sebagai pengganti dirinya.
"Eh, ada lu gal.. mau apa?" tanya Ani cuek dengan posisi yang masih sama, yaitu memeluk lengan Andi dengan erat.
"Ga, gu.. gue cuma, cuma"
"Cuma apa?" mendadak Galang kehilangan kata-kata nya, lidahnya terasa kaku untuk mengungkapkan alasan sebenarnya ia datang ke sini, Dan otaknya terasa hilang tak bisa mencari alasan
"Cuma..cuma"
"Mampir?" tanya Andi tak suka.
"Ah, iya cuma mampir, kebetulan saya tadi lewat sini dan mampir deh"
"Ooo, mampir ya sudah lu duduk aja di situ, gue mau masuk dulu Ama pacar ku"
Galang hanya bisa melongo mendengar kata-kata sahabatnya itu, iya tak menyangka dirinya hanya di suruh duduk di halaman ini, dan Andi di bawa masuk ke dalam rumah. rasanya ini tidak adil, bukankah dia itu sahabatnya, seharusnya Ani mengajak ia ke dalam rumah bukan si Andi itu yang baru beberapa jam mengelar menjadi pacar.
"Ga, gue mau masuk, di sini di dingin dan bayak yamuk"
"Lu mau masuk, lu yakin, lu gak bakal panas kan dan gak akan gangguin kita" tanya Ani sembari memancing matanya.
"Panas? panas apa maksud nya, apa? apa hal itu... argh ini gak mungkin, ini gak boleh terjadi"
"Gue tetap mau masuk, gue gak peduli Ama kalian, seterah kalian mau lakukan apa saja, intinya gue mau masuk"
"Ya udah, silahkan masuk kalu kamu mau tau rasanya gimana jadi nyamuk"
Di sisi lain kini jila tengah berjalan-jalan mencari makanan, rasanya ia bosen di kamar dan lelah menunggu pesan masuk dari pacarnya. Maka dari itu ia memutuskan untuk ke Indomaret sekaligus sembari menikmati sejuknya angin malam.
"Eh, maaf" ucap jila yang tak sengaja menyenggol seseorang Hinga menjatuhkan belanjaan orang tersebut.
"Gak papa" Sura yang sangat familiar bagi sang empu, tanpa banyak derama jila langsung menengok ke bawah. dan betul saja, sesuai dugaan dirinya bahwa orang yang ia tabrak adalah Aldi.
__ADS_1
Jila kini berjongkok memunguti barang yang berserakan di bawah, tanpa bayak tanya ia memunguti nya Hinga tak terasa barang yang berserakan kini sudah kembali ke tempat semulanya.
"Maaf ya Aldi"
"Ya" ucap Aldi di singkat.
Ya hubungan jila dan aldi akhir-akhir ini sudah merenggang hanya saja kata putus belum mereka ucapan, jadi mereka masih terikat dalam ikatan pacar.
"Al gue mau bicara" ucap jila menghentikan langkah Aldi yang hendak pergi.
"Dari tadi lu bicara"
"Bukan gitu, gue mau bicara hal serius"
"Apa?"
"Ikut gue" Ajak jila sembari menarik lengan pria itu.
Di Taman yang indah kini Alex tengah termenung mengingat kejadian masa lalu yang tiba-tiba berkeliaran di pikiran nya.
...Flashback...
"Alek......" emosi jila meningkat di kamar mandi, ia keluar dengan membanting pintu secara kasar hingga membuat orang yang ada di kamar mandi sebelahnya terlonjat keluar karena kaget.
"Awas lu Alex gue gak bakal maafin lu" jila berjalan mengitari seluruh kamar mandi mencari sesosok pria yang selalu mengerjainya.
Mengetuk-ketuk semua pintu kamar mandi yang tertutup, tak lupa menyuruh orang yang ada di dalamnya untuk keluar dengan suara yang sangat menggelegar
"Di mana Alex" ucap jila kepada salah satu teman Alex, namun orang yang di tanya hanya menggeleng kan kepalanya.
"Gue tanya lagi di mana Alex"
"gue gak tau jila"
"lu jangan bohongi gue ya, kalu lu berani gue cekik leher lu amape mati" ancam jila dengan sorot mata yang sudah merah karena terlalu marah.
Gadis itu bagaikan malaikat pencabut nyawa di mata pria di depannya, pria itu ketakutan setengah mati, tubuhnya gemetar, lidahnya seketika linu untuk mengeluarkan perkataan, mulut menjadi kaku, matanya sulit untuk di edarkan dan tangannya lemas tak dapat untuk di gerakan.
__ADS_1
"sa sa na" ucapnya terbata, menunjuk salah satu kamar mandi yang terbuka. tubuhnya seketika ampruk ketika melihat jila kinisudah tak ada di hadapannya.
"Alex...."
"Apa sih sayang" bales Alex sembari menutup pintu pintu secepat kilat, agar jila tak masuk ke dalam dan ia terkena amukan.
Ya Alex sengaja membuka pintu itu untuk menipulasi jila, tapi bodohnya Kenap teman nya itu memberi tahu dia ada di sini. padahal jila tadi sudah melewati tempat ini ketika mencari nya
"Alex buka ga, kalau gak di buka gue dobrak nih"
"Aduh jangan sayang, jangan sekarang, sekarang gue lagi mules banget"
"Buka gak Alex jangan bohongi gue"
"Sumpah deh sayang gue gak bohong sekarang gue lagi bab" bohong Alex untuk mengulur waktu, setidaknya nya sampai kemarahan jila sedikit mereda baru ia bisa meluncurkan rencana selanjutnya.
"Awas lu Alex gue dobrak nih"
"Dobrak aja sayang, gue gak papa ko, kan lu yang lihat"
"drut..." Sura alam dari kamar mandi itu berhasil membuat jila percaya padanya. Jila kini terpaksa menunggu pria itu Hinga selesai dengan panggilan alam nya.
satu menit, dua menit, tiga menit, hingga sepuluh menit tetapi Alex belum juga keluar. yang membuat jila bosan menunggu nya ia bolak balik ke kanan dan kiri menghilangkan rasa cape di kaki karena sendari tadi hanya berdiam diri di tempat
"Ihss lama amat sih dia"
"Alex lu gak papa kan, lu masih hidup kan di dalam" teriak jila yang cukup khawatir dengan keadaan orang itu. karena sendari tadi tak terdengar apa-apa hanya ada suara air mancur ke dalam kolam.
Seperti mendapatkan lampu hijau bagi Alex, kini ia tersenyum puas berhasil membuat gadis itu melupakan kemarahan nya, lantas ia keluar dengan senyum jail di wajahnya nya.
Cup
satu kecupan berhasil Alex dapat kan di kening gadis itu.
"cie yang khawatir" goda Alex yang berhasil membuat pipi jila memerah jambu.
"Siapa yang khawatir" ucap jila dengan ketus, sembari menutupi Pipinya yang sudah merona bersemu.
__ADS_1