
Rhuhff
Alex menghela napasnya panjang, merutuki nasibnya yang akan menikah di masa muda demi dapat sembuh dari penyakitnya. Sudah beberapa cara keluarganya itu lakukan untuk menyembuhkan penyakit dirinya namun semua cara tidak ada yang berhasil, dan ini adalah cara satu-satunya untuk menyembuhkan dirinya. Mau tak mau, suka tak suka ia harus menerima demi kebaikan dirinya.
Hari kini berganti, matahari terus bergulir menjadi bulan, tak terasa kini sudah satu Minggu sejak hari pembicaraan itu keluarga Andrizan itu kini bersiap mendatangi rumah calon menantunya
"Alex" ucap aida dari ruang depan. yang tengah berdiri menunggu anaknya itu keluar.
"Nanti mih" ucap Alex santai, Sebenarnya hari ini Alex sangat males untuk keluar apalagi untuk ketemu calon istri, hal itu membuat moodnya luntur.
Alex keluar dengan pakaian santai, terlihat celana hitam pendek seatas lutut dengan di padu kaos putih polosnya, dan jangan lupa jam tangan yang selalu melingkar di lengan pria itu membuat dirinya terlihat begitu nampak masih anak sekolah.
Aida menghela napasnya berat ketika melihat anaknya itu hanya mengunakan baju seadanya, terlihat sekali anaknya itu tak berniat untuk berkunjung ke rumah calon istrinya.
"Alex kamu yakin mau pake baju itu" ucap aida sembari menerka-nerka.
"Iya mah" bales Alex malas.
"Tapi Alex kita mau ketemu calon istri kamu Lo, ya masa kamu pakaian nya santai kaya gitu,kaya orang gak niat"
"Emang ia" ucap Alex namun hanya di dalam hati.
"Ganti" ucap wihan tegas.
Hal itu berhasil membuat Alex memutar balikan badannya dan berlaju pergi ke kamar.
Ya, Alex tak berani dengan papih-nya, entah mengapa meski papinya selalu diam, dan irit bicara, bisa di bilang kalu bicara cuma ada perlunya tetapi aura kepemimpinan tetap terpancar, meskipun itu ada di lingkungan rumah.
Mobil pun berlalu dengan cepat membelah tengah jalan raya yang cukup ramai kendaraan. Ya mungkin karena weekend jadi bayak yang berliburan.
Beberapa menit mereka di perjalanan Hinga akhirnya mereka kini telah sampai di tempat tujuan. Penjaga gerbang pun membuka Gerbang, menyatakan membolehkan mobil itu untuk masuk ke perkarangn rumah.
Wihan dan Aida kini keluar dari mobil, melangkah ke pintu utama rumah itu, terlihat ada wanita paruh baya yang tengah berdiri menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
"Silahkan masuk tuan" ucap Bu Iyem mempersilahkan tamu tuanya itu untuk masuk.
Wihan hanya tersenyum menanggapi sapaan itu, mereka terus melangkah tanpa menyadari bahwa anak mereka tidak ada di antara keduanya.
Alex tengah terdiam, meratapi rumah yanga ada di depannya, ia merasa rumah Inis sedikit tidak asing bagi.
"Apakah gue pernah ke sini? tapi kapan" batin Alex.
"silahkan duduk Zeng" ucap Intan mempersiapkan orang yang akan membawa anak tirinya pergi jauh dari rumah.
"Terimakasih" balas aida sembari duduk di atas sofa.
"Di mana calon menantu ku" lanjutnya. Aida penasaran dengan gadis yang sering di ceritakan oleh suaminya. Gadis yang penurut, pintar dan juga berprestasi di sekolah.Serta ada satu hal yang membuat jiwanya begitu penasaran dengan sosok orang yang bisa membuat anaknya jatuh hati, bahkan pernah berhasil membuat anak semata wayangnya berhenti dari tindakan kriminal lainnya.
"Jila masih di kamar, mungkin ia sedang bersiap-siap"
"Owh baiklah"
kini si empu keluar dari kamar, dengan balutan kain putih berpadu hitam yang menutupi tubuh indahnya, namun meski begitu Jila masih terlihat cantik dan elegan dengan senyum tersipu malu karena semua orang menatap ke arahnya.
"Hallo om, Tante" ucap jila. sungguh ia begitu terkejut ketika melihat wanita paruh baya itu dari dekat benar-benar mirip dengan seseorang yang sering ke sekolah.
"Itu kan.., Oh mau God, ya Allah" batin jila dengan buliran yang Mulai berkeliaran
Kini Ia tau betul siapa orang yang tengah berada di depannya dan tersenyum pada dirinya
"Ah gak mungkin Jil, mana mungkin Ama Alex" batin sela yang yakin bahwa itu mamihnya alex
"Pasti Ama kakanya, Tapi Alex kan..ah gak, mungkin mungkin salah liat" ucap jila namun hanya di dalam hati. ia peusaha untuk meragukan keyakinannya dengan menatap wanita yang ada di hadapannya dengan jelas, dan sesekali juga dia mengucek matanya.
"Gak mungkin, mataku pasti sala" ucapnya sembari beberapa kali mengucek mata.
"Kenapa kamu sayang ko liatin mamih kaya gitu" ucap aida ketika melihat tingkah calon mantunya.
__ADS_1
"Eh, maaf tanten" ucap jila gugup, sungguh ia merasa sangat malu seperti maling yang tertangkap basah.
"Ko Tante, panggil saja mamih, seperti anak mami i.." ucapnya sembari melihat keseliling mencari keberadaan anaknya.
Jila hanya bisa terdiam, berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Seperti anak! siapa anaknya.. gak mungkin kan Al.. ah mukim cuma mirip, ya cuma mirip mukanya.
"Siapa Tante?"
"Ah, itu orang nya" seru aida mengarahkan jarinya menunjuk Alex yang berjalan mendekat kearah mereka.
Deg
Jantung jila kini berdetak dengan cepat, Mulu seketika tak dapat berkata-kata lagi ketika melihat orang yang ia duga-duga ternyata benar.
"Alex, oh my God beneran Ama Alex" batin jila
"Ah, liat tu pih anak kita dan calon mantu kita bajunya samaan" seru aida ketika melihat baju anaknya dan jila cukup serasi.
Alex kini mengalihkan pandangannya menatap seseorang yang tengah menatap orang yang sendari tadi menatap dirinya.
seketika oksigen terasa habis, pembulu darah terasa terhenti ketika melihat orang yang di maksud calon mantu mamih adalah Zajila.
"astaga" batin Alex ia begitu terkejut ternyata calon istri dirinya zajila, teman kelasnya sendiri.
"Sayang sini duduk" ucap aida yang melihat Putra nya hanya diam di tempat.
Alex kini berjalan mendekat ke sekumpul orang itu, kemudian ia duduk di samping papih-nya, sekali-kali ia meririk wanita yang ada di hadapannya.
Ya zajila siapa lagi
Alex sedikit heran kenapa ketos ya ini berpakaiannya seperti wanita feminim, padahal di sekolah nya wanita ini cukup keras, bahkan Sangat berani dan juga wanita itu sangat di takuti oleh para laki-laki di sekolah karena akan keras dan pedas nya ucapan yang keluar dari mulut wanita itu.
"Ah sial , kenapa senyum nya begitu manis" batin Alex ketika melihat senyum yang tak pernah ia temui dari wajah gadis itu di sekolah.
__ADS_1