
"Awhh" lirih jila yang merasakan sakit di tangannya. di sana terdapat beberapa pecahan kaca yang menancap di tangan sang empu yang membuat sang empu tambah meringis ke sakitan ketika mencabut nya.
Alex yang tadinya hendak mengajar pria itu, ia urungkan niatnya ketika mendengar suara ringisan, ia pun membalik badannya dan melihat jila yang tengah meringis sembari memegangi tangannya.
Tanpa ba bi Bu Alex langsung mendekat kepada gadis di hadapannya dan menggendong nya ala barbel, hal itu sunguh mengejutkan bagi jila dan sekaligus pengalaman pertamanya.
Jila mengalungkan satu tangannya yang tak terluka di leher Alex edangkan tangan yang terluka ia biarkan bigitu saja terapaung di udara. Ia terus memandangi wajah di hadapannya, wajah yang datar tanpa ekspresi.
"Alex" pria itu menunduk ke bawah menatap manik mata cantik yang berhasil membuat jantung nya bergetar.
"Maaf, sudah merepotkan mu" ucap jila sembari mengalihkan pandangannya. sungguh ia tak kuat di tatap Alex seperti itu.
Alex tak membalas ucapan gadis di gendongan nya, ia terus saja membawa gadis itu pergi Hinga sampai di depan mobil hitam dan ia membaringkan nya di sana.
Di tengah-tengah kesunyian malam, mobilnya membelah jalan dengan kecepatan sedang, di dalamnya ke dua insan hanya saling terdiam berkecamuk dengan pikiran masing-masing.
"Apa yang dia bicarakan" batin jila ketika melihat Alex tengah berbincang melalui telepon sana sembari mengemudi
Kini mobil itu berhenti tepat di depan bangunan menjulang tinggi, yang tertulis di bangunan itu RS lantas jila langsung membuka pintunya dan hendak turun namun malah tubuhnya terasa terbang di angkat oleh seseorang.
"Turunkan" Alex hanya dia tak membalas ucapan itu, ia terus saja berjalan mengelilingi ruangan Hinga sampai di ruangan yang di tuju yang terdapat tulisan VIP.
"Alex kita gak usah di sini, di kamar biyasa aja gak papa" ucap jila mencegah Alex untuk membaringkan nya di tempat tidur.
Kini Alex menatap gadis itu yang selalu menolak nya, tatapan tajam yang berhasil membuat gadis itu terdiam. sungguh dalam kamus hidup Alex di sana sudah tidak ada kata penolakan, ia sangat membenci kata itu, meskipun kata penolakan itu di ucapannya dengan kata-kata halus tapi ia tetap tidak mau mendengar nya. karena ia sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya di tolak beberapa kali dalam hidupnya.
Tak lama kini dokter datang dengan di ikuti beberapa suster di belakangnya, untuk memeriksa keadaan pasiennya.
Selama dokter itu memeriksa, Alex putusan untuk keluar sebentar membeli makanan. Karena seingatnya sejak tadi sore mereka belum makan.
"merepotkan" lirih Alex ketika ia selesai menerima telepon dari seseorang.
__ADS_1
Di sisi lain kini terlihat seorang pria telah duduk dengan tatapan sinisnya menatap pada dua insan yang bermesraan di hadapannya.
"CIH, apa apaan itu, alay" batin Galang ketika melihat Aldi sencium tangan Ani yang tengah fokus menonton tv di dalam pangkuannya.
"issh" gelagat Ani yang geli di perlakukan seperti itu.
"untung gak ada Kaka.. kalau ada bisa malu aku" batinnya
"Andi peluk, dingin" ucap Ani dengan suara manja, meminta di peluk oleh pacar bohongan nya.
"peluk?" yang di bales dengan anggukan kepala dan namun agak melebar di hadapan laki-laki itu seolah mengisaratkan kepada pria itu agar menolaknya dengan cara halus.
"Sini, aku peluk" ucap Aldi sembari menarik Ani masuk ke dalam dekapan nya. menyandarkan kepala Ani di dalam dadanya.
"Kenapa berdetak cepat" batin Ani ketika kepalanya menempel sempurna di dada bidang itu. karena penasaran ia pun menyentuh dadanya memeriksa apakah ia juga seperti itu.
"Tapi aku biasa aja, apakah denyut jantung seseorang pria lebih cepat dari pada wanita" batin Ani yang tanpa sadar tangannya kini telah berpindah ke dada bidang pria yang mendekapnya
"Sialan" gumam Galang yang mengepalkan tangannya ketika melihat kedekatan sepasang kekasih itu.
"Ni, gue balik" ucap Galang kepada gadis yang tengah anteng menonton tv
"Ya udah sana pergi" usir Ani. Tangan Galang tambah yang sudah terkepal tambah terkepal menahan gejolak emosi di hati nya, tanpa basa-basi ia langsung beranjak dari tempat itu.
Brak..
"Astaga mengagetkan saja" ucap Ani semari mrlihat pintu utama yang sudah tertutup rapat.
"Dah, sekarang giliran lu yang pergi" usir Ani pada pria yang ada di sampingnya, Setelah mendengar derum motor menjauh dari perkarangan rumah nya.
"lu ngusir gue?"
__ADS_1
"Ga, dah tau di usir nanya lagi"
"Dih, gak tau terimakasih jadi orang" ucap Andi yang beranjak pergi dari duduknya.
"Hati-hati pacar settingan" ucap Ani kepada Andi yang sedang menyalakan Motornya. Lantas Adi langsung memutar matanya malas.
Di ruangan yang berbau obat-obatan kini terlihat dua insan yang tengah berdebat.
"Makan ga!" yang di bales dengan gelengan kepala oleh gadis itu. gadis itu masih saja bergelut dengan pikirannya, memikirkan bagaimana sekarang keadaan temannya.
"Jila gue bilang makan" ucap Alex sembari menyodorkan sesendok bubur di mulut gadis itu, namun tetap jila belum membuka mulutnya.
"Gimana dengan keadaan dia" ucap jila menatap manik mata di hadapannya. Tatapan yang sulit di artikan namun sedikit terlihat di sana ada rasa kekecewaan.
krakh
suara geseran kursi yang cukup keras di sana, menandakan pria itu marah.
"Lu.., masih sakit juga tetep mikirin cowo sialan itu" geram Alex dengan tatapan sinisnya.
"Gue cuma nanya gimana keadaan dia, apa ada yang salah Ama pertanyaan gue, apa gue salah menanyakan ke adaan orang yang telah babak belur bahkan hampir mati gara-gara lu"
Alex kini mendekat kepada gadis itu, mencengkram rahang gadis itu sedikit kuat, bahkan gadis itu sedikit meringis karena menahan sakit.
"Gue harap dia mati" Ucapa Alex lalu melepaskan cengkraman itu dengan kasar dan ia langsung beranjak pergi.
"Dasar ga punya hati" teriak jila ketika Alex telah pergi dari hadapannya.
kini jila melirik pada semangkok bubur ayam di meja samping nya, kini tangannya terulur untuk mengambil nya. ia sadar kalau perutnya sekarang terasa perih dan meminta untuk di isi.
Satu suapan kini masuk ke dalam mulutnya, lidahnya kini mulai menikmati cita rasa bubur kesukaan, tanpa sadar air bening menetes dari matanya.
__ADS_1
"Maaf" ucap jila lirih sembari menghapus air mata yang Hendak membasahi Pipinya. kini pikirannya kembali ketika di taman, di sana ia hendak berbicara namun Andi mencegah nya karena beralasan belum makan, bahkan mengajak dirinya makan namun ia menolaknya dan langsung mengutarakan apa yang ingin dirinya sampai.