Galexsa

Galexsa
Alex versi lain


__ADS_3

"Gak tau, tadi ada suara cewe yang nanyain ke adaan gue" jila hanya diam tak menanggapi ucapan itu, ia juga heran kenapa ia tak marah sekarang.


"Ah, mungkin tadi suara kunti kali" ucap Alex sembari berjalan.


"Kunti?! dia bilang aku Kunti!"


"dasar Alex" Alex tak mengubiskan ucapan itu ia terus berjalan menjauh


"awas lu Alex.. gue bukan Kunti" teriak jila sembari mengejar Alex yang sudah lari terlebih dahulu.


"siapa yang bilang elu Kunti, tadi gue cuma bilang cewek yang nanyain gue tapi gak ada orangnya, dan itu berarti Kunti" teriak Alex sembari berlari mengelilingi taman sekolah.


"sama aja lu ngatain gue Kunti, anjir"


"gue gak ngatain lu Kunti, gue cuma bilang yang nanyain gue itu Kunti" jila terus mengejar Alex yang masih betah berkeliling taman. dan jadilah keduanya saling maen kejar-kejar an.


jila yang kelelahan mengejar Alex kini ia pasrah, masa bodo mau di katai apa ama orang itu, dia sudah cape mengejar dan kini ia mau istirahat duduk di kursi taman.


Baru beberapa menit ia duduk ada satu botol minum dingin yang menyentuh Pipinya lantas jila langsung melihat ke ke samping, mencari tau siapa yang melakukan hal itu.


"Ambil, mau ga?" Ucap Alex yang terus menyodorkan minuman di hadapan jila. sedangkan gadis itu hanya terdiam menatap nya


"mau lah pake di tanya lagi" ketus jila yang sadar sembari mengambil minumannya.


Alex pun ikut duduk di kursi itu, keduanya saling diam tiada pembicaraan selama beberapa menit Hinga akhirnya Alex lah yang membuka mulut untuk memulainya.


"Cape?"


"Ga, udah tau cape nanya lagi"


"Makanya ngaku kalau khawatir, ini mah gak mau ngaku gak mau di bilang Kunti pula"


"Gue gak khawatir"


"Terus apa, kalau lu gak khawatir? rindu, kangen gitu!" jila hanya diam, ia masih enggan untuk mengakuinya.


"Oo jadi lu masih gak mau ngaku, udah tertangkap basah juga tetep gak mau ngaku" ucap alex

__ADS_1


"ego Muh itu tinggi banget sih Jil, cuma ngaku khawatir aja susah, se susah itu ya bilang khawatir?" lanjutnya


"Iya gue khawatir" pasrah jila. sedangkan Alex langsung menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Cie yang khawatir, udah suka ya Ama gue" goda alex


"Tuh kan, lu mah ngawur, jadi nyesel gue ngakuin khawatir"


"Kalau suka bilang ya Jil, jangan diam aja nanti keburu gue yang cape ngejar elu dan ujung-ujungnya gue yang berhenti suka Ama lu" ucap Alex tepat di telinga jila.


setelah mengatakan itu kini Alex langsung mengacak-acak rambut jila dan memberikan rok wanita itu yang ia ambil dari tasnya.


"Alex.." teriak sang empu


Ya Alex kini berprofesi sebagi pencuri rok jila ketika jila keluar sebentar dari kamar mandi entah ke mana, ia sengaja melakukannya untuk mengerjai wanita incarannya, sialnya waktu ia baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, jila datang dari pintu masuk sana. tak lama jila pun masuk ke kamar mandi dan iya menyadari roknya hilang.


...flashback of...


Suara keributan di arah belakang air mancur membuat Alex bangkit dari duduknya, alex mengikuti sumber suara yang sering me ngganggu pikirannya. kini matanya tertuju pada sosok wanita dan pria yang sedang berselisih.


"pokonya kita putus"


"gue gak mau Jil, pokonya gue gak mau putus ama lu"


"Emang apa yang lu harapkan sih dari hubungan ini, lagian hubungan ini hanya sebagai mutualisme, dan sekarang Lu udah mendapatkan apa yang lu inginkan dan gue sudah mendapatkan yang gue inginkan, jadi fine kita selesai" seru jila.


"Gak, gue belum mendapatkan apa yang gue inginkan, jadi lu harus tetap menjadi pacar gue"


"Emang apa lagi hah?"


"Gue mau Alex tunduk Ama gue"


"Gila lu, di sepakat an kita sebelumnya gak ada itu dan apa yang lu mau itu gak ada hubungannya dengan gue"


"Jelas ada" ucap Aldi dengan seyum liciknya sembari melangkah ke depan membuat jila ketakutan dan melangkahkan ke belakang.


"Ga itu bukan urusan gue" ucap jila terus melangkah ke belakang tetapi sialnya kini di belakang sudah tiada jalan lagi hanya ada tembok yang menghalangi langkahnya.

__ADS_1


"Lu, sangat menarik Jil" ucap Aldi sembari menyentuh dagu gadis itu agar menatap dirinya.


"Ternyata gue baru sadar kenapa Alex dulu begitu mencintai lu" ucap Andi yang terus menatap manik mata jila, dan kini tatapan itu berganti ke bawah yang berwarna pink alami dan terlihat begitu seksi di mata aldi.


"Mau apa lu, Jagan berani Ama gue" ancam jila agar dapat menghentikan Andi yang terus mendekatkan wajahnya..


Ancaman itu tak berpengaruh apa apa pada Andi, malah Andi semangkin menarikan bibirnya ketika melihat bibir di hadapannya bergerak dengan lihanya mengancam dirinya, yang di mana hal itu membuat ke seksi an bibir pink itu tambah meningkatkan di mata Aldi.


wajah Aldi terus mendekat mengikis jarak ke duanya, kian jila tambah ketakutan, matanya tertutup dan mulutnya ia tutup rapat-rapat agar Andi tidak dapat melakukan apa apa padanya.


Drug..


Drug..


Drug..


Jila membuka matanya ketika mendengar suara pukulan yang cukup keras, matanya terbelalak ketika melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Pria itu membabi buta memukuli Aldi, seperti singa yang menikam mangsanya yang tanpa lelah dan tanpa henti. darah yang keluar dari lawannya seolah-olah membuat pria itu tambah semangat untuk terus mulukainya


"Alex" lirih jila ketakutan. Sungguh jila tak pernah menyangka Alex bisa se sadis itu melukai seseorang, bahkan orang itu sudah tepar tak berdaya dan banyak mengeluarkan darah tapi Alex terus menghajarnya.


Alex yang mendengar lirihan itu langsung menghentikan aksinya, ia menatap gadis yang kini sedang menatapnya takit, tubuh gadis itu bergetar, matanya berkaca-kaca dan keringat dingin memenuhi pelipisnya.


Alex melangkah kakinya mendekati jila, kini semua pusat perhatiannya hanya tertuju pada gadis yang ada di hadapannya, ia terus melangkah dan melangkah hingga ada suara yang menghentikannya.


"Jila lari lari, jauhi dia, dia monster" lirih Aldi di tengah-tengah kesadarannya. Alex yang mendengar itu langsung membalikkan badannya hendak melangkah mendekat pada pria itu namun baru beberapa langkah terpaksa berhenti karena mendengar panggilan seseorang.


"A_alex Jang jangan sakiti dia" ucap jila yang sudah bersimpuh memeluk kali Alex agar tak melangkah.


Alex menatap ke bawah, menatap gadis yang sedang menghalangi jalannya demi melindungi pria itu. Lantas Alex langsung menariknya agar gadis itu melepas pelukannya.


"Alex, aku mohon jangan sakiti dia" ucap jila yang semangkin mengeratkan pelukannya pada kaki Alex.


"Lepas" ucap Alex yang di bales lengan gelengan kepala oleh jila.


"Gue bilang lepas" ucap Alex semabri menendang kakinya Hinga membuat jila tersungkur dan melepaskan dekapannya.

__ADS_1


__ADS_2