
"Apa lu" ucap Alex ketika melihat jila sendari tadi terus tersenyum kepada dirinya. Bukannya menjawab jila malah tambah melebarkan senyum itu sampai-sampai gigi rapihya terlihat
Alex mengedigkan kepala seolah-olah menghilangkan pemikiran di otaknya.
"Gak Alex, gak Alex kamu gak boleh, kamu jangan tertutup oleh senyum itu" batin Alex
...Flashback...
Alex kini menghentikan motornya ketika mengingat perkataan jila ketika gadis itu meminta Tebengan ke toko buku.
Ya toko buku, Alex juga membutuhkan itu.
Ia pun kini putar balik untuk ke toko itu meskipun jaraknya cukup jauh, tak berselang lama kemudian ia kini telah sampai, lantas ia langsung masuk dan memilih beberapa buku.
Langkah terhenti ketika mendengar suara yang ia kenal, iapun mendekat ke asal suara itu terlihat dia orang yang ia tau siapa itu, tengah berbincang.
Alex kini memancing matanya ketika melihat perilaku jila yang terlihat manja.
"Ih, genit" Batin Alex
"Ah dasar genit, di sekolah aja jual mahal, tapi pas di luar kaya ular, munafik" lanjutnya.
Ya, jila kalu di sekolah ia selalu jual mahal kepada cowok yang sering memberinya kode. Dia terlalu males untuk meladeni cowok-cowok itu, bahkan dengan pacarnya saja dirinya cuek.
kini Alex berlaju meninggalkan orang itu, iya tak mau melihat tingkah jila yang menurut sangat geli. Beberapa saat kemudian langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan yang membuat jantung nya terkejut.
"Ya ampun" batin Alex ketika melihat jila dan Galang berpelukan
"Lu bener-bener genit ya, udah jadi pacar Aldi masih aja genit in cowok lain"
"Gue gak yakin, kalian cuma sahabatan"
Setelah itu iapun langsung ke meja pembayaran. setelah selesai membayar ia langsung berlaju pergi keluar m meninggalkan tempat itu.
...Flashback off...
__ADS_1
Ya Alex sedikit tersentuh ketika melihat senyum zajila, senyum yang begitu manis yang tak pernah nampak dari wajah pemilik nya.
Ah, pernah waktu itu waktu di mana Alex ke melihat jila merayu Galang dengan senyum manisnya. benak alex
Kini mereka saling menatap satu sama lain dalam diam, hingga tatapan itu terhenti ketika mendengar suara dehem-an yang terdengar keras.
Ekhem
"seperti nya anak kita cukup cocok"
"Ia pak wihan saya rasa begitu"
"Bagian kalu kita nikahkan mereka berdua Minggu depan" celetuk wihan yang langsung di beri tanggapan senyum oleh Dito
sedangkan Alex dan Zajila yang mendengar hal itu menelaah lidahnya kasar, mereka hanya diam tak bisa berbuat apa-apa oleh tindakan orang tua mereka.
...----------------...
Kini merekapun kembali ke rumah, dengan suasana hati yang berbeda-beda. Wihan dan Aida yang senang dengan pernikahan anaknya yang akan cepat di laksanakan sedangkan Alex sebaliknya.
"Pih saya gak mau nikah Ama dia" ucap Alex membuyarkan keheningan di dalam rumah. wihan memancing matanya seolah berkata mengapa?
"Kalau sudah nikah nanti juga rasa suka datang sendiri" ucap wihan
"Tapi pih Alex gak mau nikah a.."
"Kamu mau gak sembuh-sembuh dari penyakit mu itu?" sela wihan yang bisa membuat Alex terdiam. Alex tak menjawab pertanyaan papinya itu iya sekarang sangat bingung untuk memilihnya Antara sembuh dan menikah
"Ya sudah batalin pernikahan ini" Alex langsung mengangukan kepala "Dan jangan harap papih dan mamih akan membantu mu untuk sembuh" tegas wihan. Alex hanya dia di tempat ia sangat terkejut dengan ucapan papinya.
"Kamu urus sendiri penyakit mu itu bila di kasih solusi sama orang tua bisanya nolak Mulu"lanjutnya
Alex membuat kan matanya, menatap papih dan mamihnya tak percaya namun di raut muka keduanya tak ada rasa kejanggalan di sana.
"Pih, tapi "
__ADS_1
"Gak ada kata tapi, kamu tinggal pilih menikah atau tidak" ucapnya lalu berlaju pergi di ikuti oleh sang istri meninggalkan anak itu seorang diri di ruang keluarga.
"Mih.." aida menghentikan langkahnya ketika anaknya itu memanggil dirinya
"Turuti apa kata papih mu, mamih gak bisa membantu kamu Alex" ucap aida lalu lekas pergi.
ish
"Si*l, kenapa sih harus nikah Ama nek lampir itu, kenapa gak Ama yang lain aja, adiknya ke , siapa ke, kenapa harus dia, gue itu benci Ama dia" teriak Alex di dalam kamar, namun teriakan itu tidak bisa terdengar dari luar karena memang ruang itu mengunakan pengendap suara.
Di sisi lain jila kini telah berbunga-bunga sendiri di dalam kamar, entah mengapa hatinya senang ketika mengetahui bahwa calon suaminya adalah Alex.
hatinya sekarang tak gusar lagi akibat kata-kata sahabatnya itu. yah selama satu Minggu ini jila selalu memikirkan kata-kata sahabatnya yang menyatakan om-om, tumbal, pembayar hutang, hingga dirinya sempat sakit akibat kebanyakan pikiran.
"Ish Jil kenpa kamu jadi kaya gini" batin jila merutuki dirinya sendiri.
"seharusnya lu kesel, marah, menolak kenapa malah lu senang sendiri" lanjutnya. jila kesal dengan dirinya sendiri kenapa ia bisa sebagai ini hendak di nikahkan dengan orang yang dulu suka mengganggu dirinya.
"amit-amit cabang Bai gw punya laki seperti dia" seketika ingatan dan ucapannya waktu di hukum bersama Alex terlihat di kepalanya
"ih kenapa jadi kaya gini sih, kenapa jadi terbaik" ucapnya.
keesokan harinya bertepatan hari Senin kini jila telah siapa-siap untuk berangkat sekolah. Moodnya hari ini sangat bagus bahkan senyum di wajahnya itu tak pernah pudar dari semalem.
Iapun kini menyiapkan bekal, berniat bekal itu dia kasih untuk calon suaminya, Mulai hari ini dia akan bersikap baik pada Alex entah mengapa namun ia tak mau selalu bentengkar ketika bersama apalagi kalu sudah sah menjadi istri ia tak mungkin kah setiap hari ribut.
Tak berselang lama, iapun kini telah sampai di sekolah dengan menenteng tas yang tak pernah ada di tangannya, jila kini terus melangkah maju ke kelas langkahnya terhenti ketika sudah sampai meja Alex. Terlihat Alex tengah sibuk dengan buku-buku.
"Alex" Alex mengalihkan pandangannya ketika ada suara yang lembut memanggil namanya, iapun menampilkan muka juteknya ketia tau siapa yang memanggil namanya.
"Apa?" ucapnya ketus
"Ini, jangan lupa di makan" ucap jila tak lupa senyum itu masih betah di wajahnya.
Jila pun melangkah menuju mejanya, meninggalkan Alex yang hanya terdiam tanpa senyum atau pun mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Sungguh Alex sangat heran dengan kelakuan ketos itu, berbagai pertanyaan mulai muncul di benaknya.
"Anjirr apa dia setuju dengan perjodohan aneh ini" batin Alex yang mulai ragu dengan kata-kata benci yang sering di katakan jila dulu.