
Sudah Tiga hari sejak kejadian itu Alex belum juga masuk sekolah, membuat para pengemar nya cemas dan rindu apalagi jila sekarang dia hanya bisa melamun merasa kesepian karena orang yang ia sukai dan sahabatnya tidak ada.
Kebiasaan zajila membawa bekal untuk Alex tetap ia lakukan selama tiga hari ini, karena ia sengaja membawanya untuk menjaga-jaga sewaktu Alex masuk sekolah, agar ketika Alex masuk sekolah ia bisa langsung melakukan aksinya untuk mendekati Alex dengan memanjakan lidah dan perut lelaki itu.
Jila berharap Alex segara masuk sekolah ya karena terlihat luka Alex tidak terlalu parah bila di bandingkan dengan luka Galang waktu itu ketika di Hajar alex, menurut nya, alex hanya perlu satu hari atau dua hari untuk pulih kembali namun sampai hari ke empat Alex juga belum masuk sekolah.
Rasa kecewa selalu jila rasakan ketika ia berharap kepada manusia, apalagi ketika bel masuk sekolah sudah berbunyi namun orang yang ia sangat nantikan belum juga datang.
Namun hari ini, tempatnya hari ke lima sejak Alex tak masuk sekolah, Zajila bangun kesiangan terpaksa ia harus cepat-cepat agar tidak terlambat.
jam sudah menunjukkan pukul enam empat puluh, berarti tinggal tiga puluh lima menit lagi bel masuk sekolah akan tiba, tapi ia masih membersihkan kamar setalah itu langsung bergegas mandi membersihkan diri.
"Zajila cepet..." ucap intan yang sendari tadi menunggu anak tirinya, ya menunggu karena pagi ini ia harus bersikap baik layaknya mamah yang sangat menyayangi anaknya lantaran karena masih ada suami nya yang belum berangkat ke kantor.
"Coba mah ke kamarnya" ucap Dito yang takut jila malah belum bangun. Karena biasanya anak itu sudah rapih dan sedang menyiapkan bekal.
Tanpa membalas ucapan suaminya intan langsung menaiki tangga dan menuju kamar jila di buka lah kamar itu namun tak ia temukan si pemilik kamar ada di sana.
Tetapi ia mendengar ada sura bercikan air, hal itu berarti orang yang ia cari sedang mandi.
"Gak ada mas, mungkin ia udah berangkat duluan" ucap intan yang sudah berada di dekat suminya.
"Cepat banget, biasanya kan Ama Gita" ucap Dito yang merasa heran.
"Ah mungkin dia piket pah, jadi berangkat lebih pagi" bohong intan yang sengaja agar Zajila di tinggal berangkat oleh papahnya.
"Oweh ya sudah kalu gitu ayo makan" ucap Dito yang sendari tadi perutnya sudah berbunyi meminta di isi, namun ia tolak itu karena menunggu anaknya.
__ADS_1
"Dari tadi ke" batin gita kesal karena harus menunggu orang ia sangat benci, sampai-sampai perutnya lah yang harus menjadi korban kelaparan.
Mereka bertiga kini memakan sarapan itu dengan sangat menikmati masakan bi Iyem, yang memang pintar memasak. Membuat apapun bi Iyem bisa lakukan maka dari itu Dito tak pernah berniat mengantikan pembantunya meskipun bi Iyem sudah tua.
namun ia akan menambah pembantu untuk membantu perkejaan bi Iyem.
tak
tak
tak.
terdengar suara sepatu yang berlarian menuruni anak tanga, membuat ke Tia orang yang sudah selesai sarapan itu mengalihkan pandangannya ke asal suara. Dito membulat matanya menatap ke intan ketika melihat jila masih ada di rumah.
"Ma.. AF mas tapi tadi aku liat ke kamar nya dia gak ada" Dito hanya bisa terdiam mendengar penjelasan istrinya itu. Sedangkan jila langsung ke arah dapur untuk mengambil tempat makan.
"Sial kenapa haru secepat ini sih.. biasanya juga kan dia mandinya lama.. kenapa baru sepulu menit udah selesai biasanya tiga puluh menit" batin intan yang gagal membuat anak tirinya terlambat sekolah.
Karena tak mendapat respon dari mamahnya Gita ini berusaha ke orang yang sedang menyiapkan bekal
"Kaka aku berangkat duluan ya" ucap gita lembut seperti adik sesungguhnya yang penurut dan tak penah bertengkar.
"Ya kamu duluan aja Ama papah nanti aku ke sekolah pake ojek" ucap jila yang tau bahwa dirinya akan terlambat masuk sekolah. Tapi hal itu tak masalah bagi dirinya yang terpenting ia bisa membawakan Alex sarapan yang sangat indah
Ya jila selalu menghias makanan itu menjadi bentuk lain, kadang pernah berbentuk hati, kucing, pokemon dan wajah dirinya ketika tersenyum.. jangan lupa satu lembar surat yang tertempel di atas tempat makan itu.
__ADS_1
"Kamu di antar pak supir aja biar papah yang sama jila" ucap Dito yang sengaja agar dia memiliki waktu berdua dengan anaknya, karena selama ini ia terlalu sibuk dengan perkejaan, ya kalau pun ada waktu luang ia ngunakan untuk keluarga tetapi zajila selalu ada kesibukan hingga jarang kumpul bersama.
"Tapi mas kamu bisa terlambat loh kalu ama jila" ucap intan sengaja agar papah dan anak dirinya bisa lebih dekat, dan suminya bisa lebih menyayangi anaknya dari pada jila.
Bila hal itu terjadi maka akan dengan mudah dirinya mengusir dan menyakiti jila, tidak usah seperti sekarang yang berpura pura baik pada anak tirinya karena takut akan kemarahan Suami nya.
"Ga papa lagian sekarang gak ada miting"
Dito sengaja tak mau berangkat dengan anak tirinya karena dia ingin dekat dan mengeluarkan waktu untuk anak nya, cukup sudah dia selama ini hanya diam tak mengetahui ke adaan jila.
Memang terlihat egois tapi, bila tak begitu dia tak bisa dekat dengan anak kandungnya karena setiap mau bicara pasti ada saja ulah Gita yang menganggu dan menghentikan percakapan dengan jila.
"Ya sudah Gita berangkat duluan" ucap nya sembari menyalimi kedua orang tua itu.
"Hati-hati" ucap intan kepada anak kesayangan nya.
Berselang sepuluh menit jila akhirnya sudah selesai menyiapkan bekal itu, kini tinggal dirinya yang sarapan mengisi perut yang sudah dari tadi berbunyi.
"Pah Ayuk.." ucap jila yang baru saja menyelesaikan kan makan nya. Dito mengangguk dan langsung ke luar menuju mobil kemudian masuk, tentu hal itu juga di ikuti oleh anaknya.
"Kamu setiap hari bawa itu..?" tanya Dito memecah keheningan di dalam mobil.
"Iya pah"
"Kenapa apa uang yang papah kasih buat kamh kurang" Ya tentang uang sekolah dan uang bulanan buat keperluan pribadi, Dito yang masih mengatur nya karena ia tak mau intan yang mengatur nya. entah mengapa ia rasa belum yakin pada intan yang menyatakan menyayangi anaknya.
"Gak pah.. ini buka buat jila tapi"
__ADS_1
''Buat siapa?"