
...Flashback...
"wah" mata jila berbinar ketika melihat ada beberapa banyak novel baru di rak buku. tangannya reflek mengambil novel itu dan melihat-lihat nya, di buka lah halaman pertamanya nampak wajah jila sangat menikmati alur cerita novel baru itu.
Iapun menoleh ke arah sahabatnya yang sendari tadi hanya terdiam di tempat yang tengah berkutik dengan ponselnya.
"Galang" ucap jila sembari tersenyum memperlihatkan gigi rapianya, matanya berkedip seolah ia memberi kode kepada pria itu.
"Apa?"
Galang sebenarnya tau apa maksud dari kelakuan sahabatnya itu, namun dia sengaja bertanya seperti itu agar jila terus bersikap manis terhadapnya
"Ini" ucapnya sembari menunjukan buku, jangan lupa wajahnya yang di buat semanis mungkin agar sahabatnya itu mau membelikan novel untuk dirinya.
"Terus?" Ucapnya sembari memancingkan mata.
"beliin" ucap jila manja seperti anak kecil yang merengek meminta sesuatu pada papahnya.
"Gak ada duit" ucap Galang ketus
dia sengaja berbuat seperti itu untuk melihat seberapa lama sahabatnya itu bisa bersikap manja terhadap dirinya.
Karena jarang-jarang bisa melihat jila semanis, dan semangka ini karena memang sahabatnya itu selalu menampakkan muka tegasnya meski itu kepada sahabatnya.
ah mungkin itu sudah menjadi ciri khas jila ketika ia menjadi ketos.
seolah wajah tegas itu menyatakan bawa dirinya kuat. bantingan, tabrakan, tinjuan, tendangan, guntingan, plintiran kerasnya hidup tak akan mampu membuat dirinya menangis ataupun takut.
"Galang, please" ucap jila sembari memperlihatkan mimik muka manisnya agar pria itu mau membelikan novel untuknya.
Jila tau sahabatnya itu berbohong namun ia harus terus bersikap manis agar sahabatnya mau menuruti keinginannya.
"Beli sendiri jangan manja" ucap Galang, ucapan itu berhasil membuat sahabatnya mengeluarkan tanduk kemarahan.
"Sia sia gue persikap manis Ama dia" batin jila sembari menatap tajam sahabatnya
__ADS_1
"Dasar pelit, gue doain moga-moga duit lu hilang semua" seru jila sembari memancarkan aura kemarahan, setelah itu Ia berlaju dari hadapan temannya dengan muka kesalnya, tak lupa ia mengumpat sahabatnya di dalam hati.
Ia terus berjalan dari rak buku satu ke rak buku lainnya melihat-lihat buku yang ada di sana sekali kali ia membacanya, teralihkan pandangannya ketika melihat novel yang sudah lama ia inginkan.
terlihat matanya yang sangat memuja novel itu. Ya toko buku yang di kunjungi jila itu seperti perpustakaan yang berbagai macam buku ada di dalamnya, Bahkan buku itu bisa di baja terlebih dahulu sebelum di beli.
Galang yang tau sahabatnya itu marah pada dirinya memutuskan untuk mengalah dan membujuk sahabatnya itu, ia melangkah terus mendekati jila namun jila terus menjaga jarak dengan dirinya.
"jila"
namun si empu tidak merespon ucapan itu, dia terus melangkah menjauh dari Galang.
karena jila terlalu lelah di ikuti oleh sahabatnya ia pun memutuskan berhenti melangkah, mengalihkan pandangannya kepada orang yang sendari tadi mengikuti dirinya.
"Pulang sana, gue gak butuh lu" ucap jila kesal.
"Jil maaf" ucap Galang sembari memegang tangan sahabatnya itu.
"Lepasin tangan gue"
sedangkan jila di pelukan sahabatnya itu langsung meronta-ronta meminta untuk di lepaskan namun Galang tidak mengubiskan permintaan sahabatnya malah ia tambah menguatkan dekapan itu.
Tak sadar mereka di sudut rak Sana ada seseorang yang tengah menatap mereka, dengan raut muka yang sulit di artikan.
"Gala kalu lu gak lepas-in gue persahabatan kita cukup sampai sini" ancam jila, hal itu mampu membuat sahabatnya langsung melepaskan dekapan itu.
"Jil maaf" ucap Galang, terlihat di sana ada raut muka penyesalan. Kini jila langsung melangkah pergi seperti biasanya dia akan membaca-baca buku duku sebelum bayar.
Galang terus membuntuti sahabatnya, tak lupa kata maaf terus keluar dari mulut pria itu, Namun sampai saat ini, hampir satu jam mereka di sana jila masih belum memaafkan sahabatnya.
"Gue deh yang bayar, lu tinggal milih buku apa aja yang lu mau" ucap Galang pasrah, tak ada cara lain selain menuruti keinginan sahabatnya bila sudah begini.
lantas senyum bahagia terukir di wajah jila, ia melupakan semua kemarahan pada sahabatnya, yang dia ingat sekarang hanya novel, novel dan novel. ia pun langsung menarik lengan Galang membawanya ke tempat buku yang ia mau, senyum bahagia itu tak pernah luntur dari wajah jila.
...flashback off...
__ADS_1
Alex kini telah sampai rumahnya dengan raut muka yang sulit di artikan hingga dia tak sadar ada seseorang di ruang tamu itu sedang menatap ke arahnya.
"Alex" ucap wihan menghentikan langkah anaknya itu yang berlalu saja melewati mereka.
"Apa pih" ia kini duduk di hadapan orang tuanya.
"Papih dan mamih mau bicara ama kamu, ini serius"
"Bicara saja dari tadi papih udah bicara" ucap Alex Tampa memfilter ucapannya sembari meneguk minuman yang ada di hadapannya.
ya, gelas yang berisi air itu kandas tak tersisa, Menandakan bahwa peminum itu sangat kehausan.
wihan hanya bisa menghela napas panjang . matanya tertuju pada gelas yang sudah kosong itu, gelas yang berisi minuman dirinya kini telah di habiskan oleh anak semata wayangnya.
"Alex, apa kamu ingin sembuh?"
Alex menganggukkan kepalanya, ia paham apa yang di maksud dari ucapan papinya.
Ya apa lagi kalu bukan penyakit seksual nya.
Alex tau dirinya kurang normal, karena ia merasakan ada sedikit keanehan pada dirinya, biasanya anak laki-laki akan menyukai anak perempuan namun ia tidak merasakan itu malah menyukai sesama jenisnya.
Nikol, ya Alex menyukai orang itu sejak pertama kali bertemu di rumah sakit, entah mengapa ada rasa tertarik di hatinya ketika melihat temannya itu begitu keren dan rapih. Maka dari itu ia selalu menghindari nikol, karena ia tau perasaan ini tidak benar, ini adalah sebuah kesalahan.
Ia Terus menjaga jarak dengan nikol, agar rasa suka pada orang itu cepat memudar, namun karena Nikol selalu mendatangi dirinya ke kelasnya rasa suka itu Sulit untuk tersingkirkan.
"Menikahlah papih sudah memilihkan calon untukmu, papih yakin dia bisa menyembuhkan penyakit mu itu"
Mata Alex membuat sempurna menandakan ia begitu kaget akan perkataan papihnya. Ia tak menyangka orang tuanya itu memintanya untuk menikah padahal lulus sekolah saja belum.
"Pih, Alex belum siap"
"Kamu harus siap Lex ini demi masa depan mu"ucap wihan, terlihat raut mukanya yang sangat serius.
Alex hanya terdiam dia tidak tau harus berkata apa, di sisi lain ia ingin sembuh dan di sisi lain juga ia tak mau menikah muda, apalagi sama orang yang tidak ia kenal.
__ADS_1