
Keesokan harinya tepatnya pada pukul empat sore hari kini jila dan Galang berangkat ke danau, dengan perasaan yang sangat bahagia di hati jila namun beda hal nya dengan Galang ia merasa ada sesuatu yang sedikit mengganjal.
"kenapa ya" batin Galang seperti ada yang kurang, aneh, gundah dan entah lah... perasaan yang aneh yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Sesampainya di tempat tujuan, Galang langsung menepikan motor itu tepat di samping pohon rindang di mana di atas pohon itu terdapat rumah pohon yang sering Galang kunjungi bersama Ani...namun kali ini tidak...bukan Ani yang ia bawa melainkan sahabat yang satunya
"Wah..di sini indah sekali gal..kenapa kamu baru kasih tau gue" ucap jila sembari merentangkan tangannya menikmati angin yang terus berhembus an di udara.
Galang hanya dia tak menjawab ucapan sahabatnya itu..di hatinya mengatakan salah..ia tidak seharusnya membawa jila kesini..tapi kenapa?... bukankah jila sahabatnya juga...tapi mengapa hati merasa takut..takut akan..ahh..dia pusing dengan perasaan nya sendiri.
"Galang kita naek perahu yuk"
ucap jila yang melihat ada perahu di sisi samping danau sana.. Galang hanya bisa mengangguk mengiyakan keinginan sahabatnya.
"Gal..gue jadi ingat deh ketika kita di danau waktu masih SD" ucap Ani meningkat kenangan masa kecilnya.
"Iya" ucap Galang seadaya, Kate ia sedang bergelut dengan pikiran, perasaan yang saling bertolak belakang.
"Iya waktu itu lu gendut banget.. hingga kalu gue ketemu lu dulu gue rasa gue selalu ingin cubit pipi lu yang gemoy itu"
"dan lu selalu cubit pipi gue tiap hari" ucap Galang kesal karena dahulu dia selalu di kerjain oleh jila.
"Lu nya gendut geh, kan gue jadi gemes" ucap jila sembari mencubit pipi Galang yang sudah rata.
"Eleh lu nya aja yang jail..lu kan kaya gitu suka jailin orang..sampai anak orang itu Angus baru lu berhenti" balas Galang kesal karena jila bertingkah semuanya
"Lunya aja yang cengeng, masa gue ceburin ke danau aja nangis"
"Ya gue takut Jil, gue takut waktu itu"
"Dasar penakut danau dangkal aja kaya gitu takut" ucap jila sembari memajukan bibirnya.
"Awas lu ya" ucap Galang sembari menggelitik perut jila, yang membuat si empu kewalahan menahan geli di perutnya.
"Ya ampun..ampun" ucap jila sembari tertawa menahan rasa geli akibat kelakuan sahabatnya.
"Galang.. geli..hehe..geli"
__ADS_1
"Hentiin Galang..geli" karena Galang tak mau mengentikan tangannya yang terus mengkritik perut, jila kini langsung membalas perbuatan itu dengan melakukan hal yang sama lantas keduanya saling tertawa karena geli.
Sudah cukup lama mereka di sana, bercanda sembari tertawa sehingga membangunkan pemilik rumah pohon di atas sana yang tengah tertidur. orang itu menengok ke arah luar mencari tau siapa yang ada di bawah sana.
ilustrasi rumah pohon
dan ini keadaan dalamnya
ilustrasi danau
Pemilik rumah pohon itu termenung ketika mengetahui dia yang ada di sana, kemudian ia turun untuk melihat kedua orang yang tengah bercanda di atas perahu itu.
Burrr
"jila lu bertahan..lu pegang gue agar lu gak tengelam" ucap Galang menyuruh sahabatnya itu memegang dirinya erat-erat.
"Jila biar gue dulu..nanti gue batu lu naik" ucap Galang yang sudah mulai panik ketika melihat wajah jila yang cukup pucat. Ia berusaha membalikan perahu itu agar mereka tak lama ada di air, namun perahu itu cukup berat hingga membuat dirinya susah membalikan nya.
Namun pada akhirnya ia kini berhasil membalikkan perahu itu lantas ia langsung naik ke atas sana, kemudian ia membantu sahabatnya untuk naik ke perahu.
"jila Pengan tangan gue" jila mengikiti perintah Galang, kemudian ia naik dengan bantuan Galang yang menari lengannya. kini keduanya sudah berada di atas perahu lagi dengan keadaan basah kuyup sembari menarik napas dan menghembuskan nya berusaha menenangkan diri atas apa yang terjadi.
"Akhirnya lu selamat kalu ga gue bisa di marahin Ama om Tito" ucap Galang bersukur, karena bagaimanapun ia yang menyusul jila kerumahnya dan meminta ijin ke papahnya untuk membawa jila maen ke danau dan bila sampai jila terluka atau kenapa-napa pasti dirinya yang menjadi orang pertama yang di salahkah oleh papah jila.
"Ya udah, yang penting sekarat gue selamat.. dan cepetan Dayung.. gue mau cepet pulang"
Kini Galang mengambil dayung perahu itu yang masih mengambang di air dekat perahu, alangkah terkejutnya galang ketika berhasil mengambil dayung ketika matanya tak sengaja melihat orang yang tengah berdiri di depan sana sembari melihat kearah dirinya.
Deg
seperti maling yang sudah tertangkap basah oleh warga, Dayak jantung nya kini tak karuan seperti di pompa habis-habisan ketika melihat wajah datar yang tengah menatap dirinya. Perasaan gelisah kini semangkin menjadi-jadi apalagi ketika melihat orang itu melambaikan tangan kepada mereka.
__ADS_1
Melihat Galang yang hanya diam saja sembari menatap kedepan jila kini mengikuti pandangan sahabatnya itu mencari tau apa yang di lihat sahabatnya, terlihat di sana seangat gadis imut tengah melambaikan tangan kepada mereka.
"Galang cepat mendayung" ucap jila sembari menepuk bahu sahabatnya, tak lupa Tanan satunya ia angkat ke atas seolah-olah membalas lambaian tangan gadis di seberang sana.
Sesampainya di sisi danau kini jila langsung menghampiri gadis itu, yang langsung di ikuti oleh Galang
"Sejak kapan kau di sini?"
"sendari tadi"
"oweh jadi kamu melihat dong kalau kami tercebur"
"sebelumnya juga melihat"
"Kayanya kamu kedinginan..tunggu di sini ya" ucap Ani pada sahabatnya, karena kasihan melihat jila yang terus bengusap lengan untuk menghangatkan tubuh ia berinisiatif memberikan pakaian ganti.
Ya Ani orang yang terganggu tidurnya itu Ani.. sahabat mereka sang pemilik rumah pohon sekaligus danau.
jangan di tanya kenapa bisa begitu karena memang itulah kenyataannya. Ani pemilik danau itu karena danau pemberian sekaligus hadiah ulang tahun dari kakek nya
Ani kini beranjak ke rumah pohon mengambil beberapa baju dirinya dan juga beberapa makanan ringan, setelah itu ia turun dan memberikan pada jila
"ini" ucap Ani menyodorkan baju.
"makasih" ucap jila sembari menerima baju itu.
"Ganti sana ke rumah pohon, dan jangan lupa di tutup pintunya takut ada yang ngintip" ucap Ani yang sengaja mengeraskan suara pada kata-kata terakhirnya.
"Baju gw"
"Gak ada" jawab Ani ketus
.
.
.
__ADS_1