
"Andi" ucap Ani memecahkan keheningan.
"hem?"
"Kalau lu gak mau bantuin gue, gak papa ko"
"Bukan gak mau, tapi gimana ya ni gue takut gue yang terjebak dengan permainan ini" Ucapnya namun kalimat terakhir hanya dapat ia katakan di dalam hati.
"gimana apanya?"
"gue takut gue yang bakal suka Ama lu" batin andi
"Dah ah, jangan di bahas lagi gue males gue mau tidur" Ucapnya lalu beranjak dari duduk menuju motor yang terparkir tak jauh dari hadapannya
"mau ikut ga?" ucap Andi yang sudah siap menjalankan motornya itu.
"Ikut lah"
"Cepat jangan lelet kaya siput"
"ish, yang ada lu kali yang lelet"
"hahaha" tawa Andi yang menyadari perilaku nya yang sering membuat gadis yang ia bonceng marah kepadanya.
Di sisi lain kini Galang tengah sibuk mundar- mandir di depan pintu gerbang rumah memah yang menjual Kokoh di hadapannya. Ia ragu untuk menekan tombol bel itu atau tidak. Tanpa sadar, ia sudah berdiri lama di sana hampir setengah jam Hinga ada seseorang yang membuka gerbang itu.
"Krekk" suara geseran gerbang yang membuat Galang menatap pintu gerbang yang terbuka memperlihatkan wanita paruh baya yang usianya terlihat sudah berkepala lima.
"bi" sapa Galang sembari tersenyum.
"Eh ada den Galang, ada apa den?" tanya wanita paruh baya yang tengah kanan nya membawa plastik hitam.
Galang tertegun mendengar orang yang ada di depannya itu bisa mengetahui namanya. bagai mana bisa wanita paruh buya itu mengetahui namanya padahal dia baru pertama kali datang ke rumah ini.
Bi inu yang selaku ART di rumah itu mempersilahkan teman anak majikannya untuk masuk. Galang hanya bisa mengagumkan kepala dan menuruti ucapan bibi bibi itu.
Galang masuk ke perkarangan rumah, terlihat di sana ada taman kecil dan indah di depan rumah itu di Sertai beberapa korsi besi kayu membut taman itu tambah beresan alaminya.
Sedangkan bi inu berpamitan pergi sebentar untuk membuang sampa yang di bawanya.
"Cari non Ani ya den?" tanya bi inu yang sudah kembali ke dalam perkarangan rumah
"Iya bi, Ani nya bi?"
"Non Ani gak ada den, dia dari sore belum pulang katanya mau kerja kelompok sama temannya"
"belum pulang bukankah mreka pulang duluan" batin Galang
"Oh begitu ya Bi, boleh saya menunggu?"
__ADS_1
"Oo silahkan den, nona pasti senang kalau den menunggu nya" ucap bi Ani sembari mempersiapkan Galang untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Bu inu Iki masuk ke dalam rumah berniat untuk membuat kan teh hangat karena cuaca cukup dingin di tambah angin malam yang membuat badan menggigil.
Kini Galang membuka hp nya berniat menanyakan keberadaan sahabatnya.
_______
Galang: kamu di mana [ 21:30]
pesan itu hanya bercentang dua namun tidak berwarna biru, manandakan pesan itu belum di baca. Tak lama kemudian kurang libih lima menit pesan yang terkirim kini sudah di baca namun tak ada tanda balasan.
"dia tuh kenapa sih? sengaja ya menjauh dari aku" batin Galang kesal. sungguh tida enak rasanya di cuekin seperti ini membuat dirinya merasa bersalah saja.
Galang: tolang bales [21:36]
Pesan itu masih tidak setia bercentang biru, namun orang di seberang sana yang ia kirim pesan belum berniat untuk membalasnya.
Galang: p, p, p, p, p, p, p, [21:38]
Galang: Ani tolong jangan kaya gini, kalu aku punya salah coba bilang jangan diemin aku kaya gini [21:40]
Galang: Maaf kalau aku punya salah, maaf ya Ani kecil ku [21:45]
Pesan terakhir yang di kirim Galang pada sahabat nya, namun pesan itu hanya bercentang satu, menandakan orang itu telah tak on lagi, tentu hal itu berhasil membuat Galang uring-uringan sendiri sembari mengusap rambutnya kasar.
Tak lama kini Bu inu datang dengan membawa dua cangkir teh dan beberapa biskuit sebagai teman teh nya, ia kian meletakkan nampan yang berisi teh itu di meja dekat korsi nya.
"Silahkan di minum den"
"Ah, iya makasih bi" ucap Galang tak enak telah merepotkan orang itu itu.
"tidak usah berterimakasih, malah bibi seneng bisa melihat den Galang secara langsung"
ah iya Galang baru ingat kenapa bibi ini bisa tau namanya, lantas ia kini langsung menanyakan itu pada bibi yang ada di korsi samping tempat duduknya.
"Bi, sebelumnya apa saya boeh bertanya?"
"Silahkan den mau tanya apa?"
"Kenapa bibi ta__" ucapan itu harus terhenti ketika mendengar Sura motor berhenti di depan rumah.
"Ah, itu pasti Non Ani, bibi bukakan gerbang dulu ya den" bi inu langsung beranjak pergi untuk membuka gerbang itu, tanpa menunggu jawaban dari sang tamu.
"ko kaya motornya Galang sih" batin Ani melihat motor di depan rumahnya mirip dengan motor sahabatnya.
"apa Galang ke sini, tapi buat apa?"
"apa dia.. argh gak mungkin"
__ADS_1
"Non udah pulang?" tanya bi inu
"Udah bi"
"Dia siapa non?" tanya bi inu yang penasaran, lantaran karena nona nya ini tidak pernah menceritakan laki-laki selain Galang.
"Dia te__" ucap Ani terhenti ketika melihat ada seseorang di dalam sana.
"Ada siapa bi?"
"Oalah,ada den Galang"
"Galang?"
"iya non dari tadi ia nunguin non" yang di bales dengan anggukan oleh Ani.
"Ini siapa non, pacar non?"
"Iya kenalkan bi dia Andi pacar saya" ucap Ani dengan menaikan nada bicara di bagian pacar agar di dengar oleh orang di dalam sana.
"wah, sejak kapan non"
"ih Bibi kepo deh"
sedangkan Andi yang sendari tadi jadi bahan pembicaraan hanya bisa mendengar dan menyimak dengan tenang.
"Silahkan den masuk" ucap bi inu
"Gak usah bi saya mau langsung pulang aja"
"Sayang ko gituh sih, kan aku masih kangen" ucap Ani manja dengan beberapakali menyediakan matanya, mengisaratkan kepada Andi harus ia harus membantu nya
Andi memancing kan matanya, sungguh ia tak mengerti dengan tingkah mahluk satu ini. seolah mengerti dengan pertanyaan Andi lantas Ani langsung membisikkan sesuatu pada Andi.
"di sana ada Galang, bantuin gue please"
Andi hanya terdiam dia menatap Ani dengan tatapan sulit di baca.
"please" mohon Ani sembari menunjuk muka imut nya.
"Dengan satu syarat".
"Apa?" ucap Ani menaikan alisnya.
"Setiap aku bantu kamu, kamu harus nurutin semua yang aku mau"
"Oky" ucap Ani tak masalah, toh dirinya memiliki kekayaan pasti apapun yang Andi inginkan bisa ia beli.
"iya udah deh sayang aku mampir dulu" ucap Andi sembari mengelus rambut gadis itu.
__ADS_1