Galexsa

Galexsa
terlambat


__ADS_3

Kini jila berjalan kaki menuju sekolah, tak mungkin dia pulang lagi ke rumah karena di rumah dia pasti sudah ada Gita dan intan yang siap menghukum nya habis-habisan.


Ya, sesuai dengan perkiraan jila, Gita kini tengah di perjalanan untuk pulang ke rumah, dia tak mungkin melanjutkan ke sekolah dengan keadaan kacau seperti ini.


Rambutnya kini berantakan, baju yang sobek-sobek lagi kucel dangan muka yang kumel seperti baju yang belum di setrika, di tambah luka di dahinya yang di buat sendiri untuk membuat mamahnya itu tambah murka pada jila.


Hampir dua puluh lima menit zajila berjalan kaki ke sekolah, kini ia sudah sampai tepat di depan gerbang sekolah yang sudah di tutup.


"huuh"


helaan napas panjang terdengar dari jila. dari tadi dirinya sudah yakin bahwa ia akan terlambat dan pasti akan di hukum sesuai dengan peraturan di sekolah ini. tapi sialnya kenapa hari ini hanya dirinya yang terlambat, biasanya setiap hari pasti ada yang datang telat.


"neg jila" ucap saptam yang ada di sana sembari membuka gerbang.


"kenapa bisa terlambat?" lanjutnya, lantaran ia tau bahwa ketua OSIS ini pantang telat, atupun ijin tetapi kenapa hari ini bisa terlambat. pikir pak saptam


"ceritanya panjang pak" jawab jila dengan muka yang di tekuk. Yang di bales dengan anggukan kepala oleh pak saptam.


Tak lama datang guru piket yang sendari tadi berkeliling sekolah mengecek apakah ada siswa yang bolos, telat ataupun tak mengikuti pelajaran.


Namun guru itu heran kenapa yang ia dapati siswa yang tidak biasanya telat kini menjadi telat, membuat guru piket itu bingung sendiri.


"zajila kenapa kamu telat" tanya guru piket to do poin ketika melihat ketos itu di pos satpam, tempat di mana para siswa di berhentikan masuk kelas ketika datang terlambat.


"Ada masalah Bu tadi di jalan" jawab jila singkat.


"Ibu tak mau tau alasan mu, kamu itu ketos di sini, kenapa rambut mu ini berantakan sekali dan pakaian mu kenapa kucel begini"


"zajila kamu itu menjadi murid teladan di sekolah ini, kamu yang menjadi contoh para murid lain di sini, tapi bagaimana para morid di sini akan taat aturan bila ketos ya saja seperti ini, mencontohkan hak yang tidak baik kepada murid lain" ucap guru piket Tampa memikirkan perasaan orang di hadapannya.

__ADS_1


"ah, kenapa bisa lupa sih kalu hari ini guru piket-nya nenek sihir" batin jila merutuki ke lengotannya.


"Kalu tau kek gini mending an gue pulang, masa bodo mau di marahin kek gimana Ama mamah tiri itu, tuh gue dah biasa"


"Pantas si Alex dulu bolos, orang waktu itu yang akan menghukumnya nenek sihir" batin jila ketika mengingat kejadian di mana dia di hukum gara-gara Alex memfitnah dirinya.


Masih ingat ga nih, di mana Alex di kejar-kejar bu Rani dan di halangi oleh zajila waktu itu?


Kalu gak ingat bisa baca dulu yah di episode pertama hukuman. selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak yah.


Sedangkan di sisi Alex dia kini sedang pokus belajar, memperhatikan guru yang tengah menjelaskan Hinga tiba pada waktunya ia maju di depan untuk menjawab soal.


"Sudah Bu" terlihat papan tulis yang sudah di penuhi oleh jawaban, yah Alex mengisi semua lima Soal mtk itu, hingga membuat orang yang ada di sana menatap ke arah dirinya.


Ya, tatapan takjub dan tak percaya atas kemampuan Alex menjawab sola yang sulit itu, bahkan para murid tampah takjub dan bertepuk tangan saat guru membenarkan jawaban Alex.


"Coba Alex jelaskan"


"coba Alex kamu contoh si Afran, jangan bisanya kamu maen Doang, balap motor dan membuat keributan di sekolah"


"bisa ga sih, satu bulan aja kamu jangan bikin ulah di sekolah, jangan bikin mamah di panggil guru BK Mulu"


"mamah mau kamu kaya Afran"


"lihat tuh Afran,dia pinter,jadi wakil ketos, banyak prestasi yang di dapat,lah kamu bisanya maen Mulu,contoh tuh Afran"


"kamu tuh biasanya haya buat malu keluarga"


Ya, ingatan tentang masa lalu yang di mana dirinya selalu di bandingkan dengan anak tantenya, di mana hal itu membuat Alex tidak betah di rumah sampai-sampai ia sering tinggal di apartemen, ia mengindari orang tuanya, dan bersikap tak hormat kepada kedua.

__ADS_1


Kian kini Alex menjelaskan soal itu secara rinci, mulai dari Sola pertama hingga pada pada soal yang terakhir. Namun belum sempat penjelasan berakhir ucapannya kini terhenti ketika mendengar suara langkah kaki yang semangkin dekat.


"Zajila" ucap guru yang sendari tadi diam memperhatikan penjelasan anak muridnya di depan, kini pandangannya berpindah pada sosok murid yang begitu ia kenal.


"Iya pak" zajila kini mendekati kepada guru itu sembari menyodorkan surat terlambat.


"Ya ampun Jila lu gak papah" heboh Galang yang begitu khawatir ketika melihat sahabatnya itu begitu acak-acakan.


"Gue kira lu gak sekolah" ucap Ani yang kini sudah berada di dekat jila, begitupun dengan Galang.


"Jil kenapa bisa begini sih?" ucap Ani seraya melihat penampilan sahabatnya


"lu abis di jambret yah, lu pasti cape baget ngejar penjambret itu" ucapnya sembari memeluk sahabatnya itu.


Ucap Ani penuh keyakinan karena ia tau sahabatnya itu sering menghajar, dan menghadapi orang-orang yang sering mengganggu di jalan, ya meskipun berujung dengan beberapa luka di tubuhnya


"Lu bisa gak sih jil sekali aja jangan buat gue panik, lu bisa gak berhenti ngelakuin kaya gini, gue gak mau lu kenapa-napa" ucap Galang penuh emosi karena sahabatnya ini susah untuk di bilangin


Karena pusing dengan pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu jila kini langsung pergi ke tempat duduknya setelah meminta ijin pada guru.


"Gue gak di jambret" ucap jila yang masih di lempar pertanyaan oleh kedua sahabatnya.


"la terus kenapa?"


"Nanti gue ceritain"


Kini Alex mulai menjelaskan kembali Sola yang sempat terhenti oleh kedatangan cewek aneh itu.


Ya, Alex menganggap jila cewek aneh karena ia tau bahwa nek lampir yang sering di sebut para temannya itu sejak kemarin selalu mencuri pandang pada dirinya.

__ADS_1


Sedangkan jila yang baru Duduk, ia begitu tertegun ketika melihat cowok yang waktu dulu sering menjaili dirinya berada di depan tengah menjelaskan. tak sadar ia tersenyum sembari memperlihatkannya, senyum yang begitu tipis bahkan nampak tak terlihat bila di lihat secara sekilas.


Entah mengapa ada rasa bahagia di diri jila ketika melihat Alex begitu telaten berbicara di depan.


__ADS_2