
Suapan demi suapan Alex terima tanpa ada pembicaraan di antara keduanya. Alex yang menikmati makanan sembari menikmati wajah sendu orang yang ada di depan sana. Sedangkan Gita menikmati momen itu sembari tersenyum penuh kebahagiaan.
"Gimana sakit? " batin Alex semari tersenyum srmik melihat Jila yang hanya tertunduk dengan muka sedihnya
Ya tentu sakit lah, melihat orang yang di cinta bersama orang lain, bahkan orang itu menerima suapan dari wanita itu tanpa menolak terlebih dahulu
"Ini belum seberapa, gue bakal melakukan lebih agar lu tau bagaimana rasanya gak di inginkan, di cuek, di acuhkan, tak dianggap, dan jangan lupa kata-kata lu yang menyakiti pasti gue bales. Agar lu merasakan apa yang pernah gue rasakan dulu"
"Gue mau liat seberapa kuat lu ngejar-ngejar cinta gue"
"Sabar Jill lu, adik lu kayanya gak bawa duit deh Ampe numpang makan di satu mangkok" ucap Ani berpikir positif Tingiking
Kini waktu pulang sekolah telah tiba para siswa kian keluar kelas untuk cepat-cepat pulang dan ada yang bersiap-siap untuk mengikuti ekskul seperti Ani yang tengah siap-siap mengikuti ekskul green school nya.
Ketika waktu pulang sekolah telah tiba biasanya jila merayu Alex untuk mengantarkan dirinya pulang meski berujung penolakan tapi ia tetap melakukan selama ini, namun hari ini suasana hati jila tak membaik hingga ia enggan melakukan itu.
"Dasar alex makanan dari gue lu buang ke tempat sampah, lu bilang lu gak bisa makan dari orang lain tapi pas istirahat apa lu malah maka satu mangkok Ama Gita" monolog jila yang tengah berjalan sembari menendang bebatuan kecil di hadapannya
"Apa Gita bukan orang lain bagi lu"
"Lu.... gue deketin lu bilang risih, mual, kalu deket-deket Ama cewe, tapi..tadi apa, lu malah satu meja Ama Gita"
"Lu suruh gue jaga jarak, tapi Ama cewe lain lu biarin gitu aja"
"Argkh.. Alex awas lu ya"
"Gue gak bakal kejar-kejar lu gue cape, gue mau istirahat, biarin lah cinta gue sepihak lagi gue sudah cape ngejar cinta lu" batin jila yang memang ingin istirahat untuk mendapatkan hati Alex.
Di ujung pintu sana terlihat murid ya g tengah berdiri menatap jila dengan raut bingung, bingung kenapa jila tak lagi meminta ya di antar, kenapa jila sejak istirahat tadi tak lagi berbicara atau pun mengganggu dirinya, ah mungkin itu termasuk permainan jika untuk mendapatkan hatinya
__ADS_1
Dug
"Aw.. is siapa sih, kalu jln liat-liat Jagan cuma pake kaki pake tuh mata nya agar gak nabrak orang" cetus jila kesal pada orang yang menabraknya dirinya
Suasana hati sedang tak baik, mood hancur membut emosinya anak turun tak terkendali. itulah alasan kenapa jila tak lagi merayu Alex saat ini, karena untuk menghadapi Alex membutuhkan kesabaran yang panjang. bila dia mendatangi Alex dan alex berkata kasar kepadanya dia akan mudah emosi dan membalas semua umpatan Alex kepadanya yang berujung bukannya Alex suka Ama dia eh malah tambah ilfill.
"Maaf" ucap orang itu, jila tertegun mendengar suara itu, suara yang tak asing baginya, suara yang sudah lima hari ini tak di dengarnya kini kembali ada lagi.
"Galangan.." ucap sella sembari memeluk pria itu, sedangkan Galang hanya dapat menerima pelukan itu.
"lu kembali gal?" Galang menganggukkan kepalanya membalas pertanyaan sahabatnya itu, tidak ada kata-kata yang dapat ia ucapan selain menerima dekapan dari sahabatnya.
"Khem" dehem Ani menghancurkan momen itu.
"Eh Ani.. ku kecil" ucap Galang pada sahabat yang satunya itu, sahabat yang sellau merepotkan dirinya dan suka merajuk seperti anak kecil.
"Eh bukanya lu di keluarin ya, kenapa kembali lagi" ucap Ani sewot karena males dengan embel-embel panggilan Galang pada dirinya.
"Kapan gue bilang kangen Ama lu" ucap Ani yang tau akan maksud dari senyum itu.
"Ogah ya, amit-amit gue kangen Ama orang kaya lu" bohong Ani sebenarnya dirinya sangat merindukan sahabatnya ini, apalagi waktu-waktu pas hanya dia dan Galang.
"Siapa yang bilang lu kangen Ama gue"
"Terus, kalau bukan gue siapa?"
"Ya jila lah, lagian kalau lu yang kangen Ama gue, gue gak bakal balik lagi ke sini"
Duar.. seperti di sambar petir perasaan Ani, ternyata dirinya salah pengertian ia kira Galang ke sini karena dirinya, ya dirinya karena waktu itu iya pernah seratus wa Rindu meski hanya beberapa jam terus langsung di hapus, tapi bukankah waktu itu Galang juga melihat seratus dirinya.
__ADS_1
"Bodoh kamu Ani.. kenapa bisa berpikir kaya gitu" batin Ani merutuki dirinya sendiri.
"Eh, kenapa lu" ucap Galang yang melihat Ani hanya terdiam. Mendengar ucapan itu Ani kini mengalihkan penglihatan nya pada Galang dan jila yang tengah menatap dirinya, karena malu Ani kini pergi meninggalkan kedua orang yang masih bergandengan tangan.
"Kenapa dia?" Ucap Galang merasa aneh akan gelagat Ani.
"Gak tau...lagi gak mood kali dia" bales jila yang kesal pada sahabatnya wanita nya itu,karena selalu memendam masalah nya sendiri.
Ya jila tau bahwa Ani sering bercerita pada Galang, menceritakan semua masalah nya, tetapi Ani tidak pernah bercerita pada dirinya entah mengapa jila rasa Ani tak adil, seharusnya Ani terlebih dahulu bercerita pada dirinya setelah itu kepada Galang, bukankah dirinya juag sering bercerita pada Ani, tapi kenapa Ani tidak begitu apa Ani tak menganggap dirinya sahabat, apa Ani menganggap nya tidak dapat menyimpan rahasia.
Ya jila sedikit kecewa pada Ani ketika Galang menyatakan bahwa Ani memiliki masalah, Galang tau karena ani sering bercerita kepadanya, dan Galang dan Ani sering bertemu di danau tempat di mana Ani sering bercerita dan menumpahkan semua masalah, dan kesedihannya.
"Eh, lu kesini mau apa? Lu beneran mau nemuin gue" ucap jila yang sedikit penasaran lantaran mana mungkin sahabatnya ini menemui dirinya hanya karena kata-kata rindu yang ia kirim semalam pada Galang.
"Iya, sembari maen basket" Galang menunjukkan paperbeg yang ia bawa, terlihat di dalamnya ada pakaian olahraga.
"Oo, eh kata lu Ani dan lu sering ke danau, danau mana?"
"Emm, itu loh di taman indah"
"Emang di situ ada danau ya?"
"Ad, cuma emang gak kelihatan kalu dari jalan, soalnya tertutup pepohonan"
"Wah, gue mau kesana sih Anter ya"
"Ya tapi nanti gak sekarang"
"Yah, terus kapan"
__ADS_1
"Besok, nanti gue ke rumah lu"
"Siap" ucap galang sembari mengangkat tangannya ke kepala, seperti orang yang tengah hormat kepada atasannya