
Kini Alex memberhentikan motornya saat mendengar suara yang tidak asing baginya memanggil nama dirinya.
"Galexsa"
Ia memutarkan pandangannya ke belakang mencari sesosok orang yang memanggil namanya. Pandangan-nya terhenti ketika melihat gadis yang ia benci tengah berdiri sembari tersenyum kepadanya.
"mau apa Nek lampir itu" batin Alex sembari menatap heran jila yang berjalan menghampiri dirinya
"Lu mau kemana?"
"*K*epo sekali nek lampir ini" batin Alex
Alex hanya terdiam tak mau menjawab ucapan Jila, menurutnya itu tidak penting. Tidak ada urusan bagi gadis itu dirinya mau kemana pun, bahkan kalu mau ke luar negri juga bukan urusan gadis di hadapannya.
"Pulang" ucapnya namun hanya di dalam hati. Dia tak mau berurusan dengan gadis di gadis ini.
Karena Alex hanya diam saja, tak mau membalas ucapannya Jila pun langsung membuka suara "gue nebeng ya, ke toko buku sana" ucap jila sembari menunjuk perempatan jalan yang cukup jauh.
"OGAH" ucap Alex lalu meninggalkan jila yang mematung di tempatnya.
"Oh mau God apa katanya? ogah, cih sombong sekali dia kalu gak jauh gue gak bakal minta bantuan Ama lu" batin jila, ada sedikit goresan di hatinya ketika Alex menolaknya secara terang-terangan.
"Ih, dasar Alex awas kau gue bales perbuatan lu" teriak jila agar orang yang telah menjauh itu mendengar ucapannya
Sedangkan Alex hanya terdiam sembari terus menjalankan motornya, terlihat di sana sudut bibirnya tertarik sinis, seolah mengatakan; mampus, rasain tuh emang enak, jalan sana sampai kaki mu itu terluka. ketika mendengar jila itu berteriak terhadapnya.
"Jila" Jila menghentikan langkahnya ketika mendengar suara yang tidak asing bagi dirinya. iapun membalikkan tubuhnya, terlihat orang yang sangat ia kenal berlari kearah dirinya.
"Lu cepet banget sih" ucap Galang tersengal-sengal seperti habis lari maraton.
"Ada apa?" ucap jila yang merasa heran, karena sahabatnya itu pas di ajak menolak kenapa kenapa sahabatnya ini jadi menyusul.
__ADS_1
"Kenapa pagilan om Dito gak di angkat, papamu tuh nyariin kamu sejak tadi"
"Emang iya?" yang di bales dengan anggukan kepala
"Gue gak tau, lagian HP gue habis baterai nya, terus papa gue bilang apa ke lu" ucap jila kepo, ia tak menyangka papahnya itu akan mencari dirinya, biasanya ia belum pulang sampai jam sembilan malem pun tidak akan di cariin, tapi kenapa hari ini papahnya mencari dirinya padahal ini masih jam setengah delapan.
Ya, jila sering pulang larut malam karena memang ada urusan sekolah, apalagi ketika akan ada acara sekolah keesokan harinya ia tidak bakal pulang sebelum semua keperluan itu sesuai.
"Gak bilang apa-apa cuma nanyain keadaan lu doang"
"Nanyain keadaan ku, Tumben, ah gue lupa pasti karena tadi pagi" lirihnya sampai-sampai sahabatnya tu tidak mendengar ucapannya.
"Eh ya, tadi papah mu bilang lu harus nelpon nelpon om kembali"
"Ihh ogah, toh nanti cuma di marahi, kalu gak di suruh pulang"
"Seterah lu yang penting gue udah bila Ama lu"
Huhf..
Galang menghela napasnya panjang, sembari mengikuti arah jila yang tengah bersemangat mencari buku, khususnya novel.
"Jil lu tau siapa calon suami lu"
sejak sahabatnya itu menyatakan bahwa dia akan menikah membuat hati Galang tidak tenang, ada rasa sedih yang sulit untuk di ungkapkan.
"Gak, tapi kata papah mingu depan keluarga calon Suami gue akan ke rumah jadi gue bakal tau deh siapa"
"Kalu Suami lu om-om lu mau?"
"Gak lah gue bakal kabur mendingan nikah Ama lu dari pada nikah Ama om om" serunya sembari tertawa, seolah mengatakan; ada ada saja sahabatnya ini, mana mungkin papah menikahkan gue Ama om om, dasar aneh
__ADS_1
"Ya kali papah gue nikahin anaknya Ama om om"lanjutnya jila
"Ya bisa jadi, siapa tau papa lu punya utang yang besar ama teman rekan kerjanya jadi numbalin lu deh buat bayar utang" ucapnya semabri tertawa. Lantas Jila langsung terdiam, perkataan sahabatnya itu sungguh benar-benar ada kenyataannya.
Memang dirinya tak dijadikan sebagai tumbal penebus hutang oleh papah nya tapi dia di jadikan tumbal agar perusahaan papahnya itu tidak bangkrut. Tapi bukankah itu sama saja, sama-sama sebagai tumbal. Pikir jila
"Gak mana mungkin papah gue kaya gitu" ucap jila berbohong. Ada rasa takut di hatinya ketika mengingat ucapan sahabatnya, "om-om, oh astaga" benak jila.
Ia takut papahnya itu berbohong kepadanya, agar dia tak menolak dan tak kabur dari rumah, ia takut papahnya itu akan menikahkan dirinya dengan Om-om atau bahkan dengan teman rekan. oh tuhan jangan sampai, benak jila.
"Gak Jil papah gak bakal kaya gitu" ucap jila di dalam hati, dia berusaha untuk berfikir positif.
"Seterah lu aja, dah lah jangan di pikirin ucapan gue, mendingan kita pulang yuk" ucap Galang namun si empu tida menanggapi di terus saja terdiam di depan rak buku.
Om-om
kini ucapan sahabatnya itu menggagu pikiran kata om-om dan tumbal bertebaran di pikirin nya.
"Udah selesai belum milih novelnya? yuk bayar, jangan bengong mulu" galang yang melihat sahabatnya itu hanya bengong seperti orang yang tengah memikirkan sesuatu. Langsung menarik lengan jila menuju tempat pembayaran, ia membayar semua buku yang di beli sahabat kecilnya ini kira kira ada 12 buku, ya kebanyakan buku novel, buku pelajaran hanya beberapa saja mungkin dua sampai tiga.
"Galang nyeblak yuk" ucap jila di perjalanan , ia melihat di sebrang sana ada penjual seblak yang sangat menggoda dirinya apalagi sekarang jika belum makan sejak sore, tentu perutnya itu sudah lapar lantas perunya langsung meronta-ronta minta di isi ketika mencium bau seblak.
"Iya, tapi nanti"
"Kapan?"
"Mingu depan"
"Ish, lama anjir gue udah mati kalaparan duluan kalu gitu" ucap jila sembari bersungut-sungut.
"Duit gue udah habis, kalu sekarang kita nanti bayar Ama apa?" seru Galang sembari menunjukkan beberapa buku yang ia bawa. seolah menyatakan duet gue habis gara gara beli buku mu ini, mau lu buku-buku lu ini gue jadiin tumbal buat bayar seblak? Membuat jila memutar matanya malas.
__ADS_1
Ya, jila berniat membeli satu buku yang telah ia ketahui harganya dan di hanya membawa duit pas-pasan untuk membeli buku itu, tidak ada niatan sedikitpun dia akan membeli buku lain karena menurutnya dia tak membutuhkan itu, tapi niat itu luntur ketika melihat banyak ragam novel baru yang berjejeran rapih di rak buku, yang membuat jiwanya pembaca novelnya meronta-ronta meminta untuk membeli novel itu.