GARIS TUJUH BELAS

GARIS TUJUH BELAS
Pertemuan-7


__ADS_3

Aini


​Aldo memarkirkan mobilnya di suatu sudut dekat pohon. Aku turun dan mencari semua teman-temanku yang ikut bersama ku menonton pertandingan ini.


​“Yang lain dimana Do?”, tanyaku pada Aldo.


​“Paling udah pada di dalam, nih tiket masuknya”


Aldo memberiku 1 tiket masuk. Kami masuk ke dalam gedung yang besar ini. Aku mencari-cari dimana letak duduk supporter dari sekolah kami. Dan yap! Aku menemukan Didit, Artha, dan Wella sedang memberi isyarat kepada kami untuk duduk di dekat mereka.


​“Itu mereka Do, yuk kita kesitu Do”


Aku menarik Aldo untuk mengikuti ku ke atas. Aldo kelihatannya cemas. Hm, entah lah. Sampai di atas sana saja aku nanyak ke dia apa yang terjadi padanya.


​“Kalian lama banget sih ni”, kata Artha kepadaku.


​“Aldo bawa mobil kayak keong”, cetusku.


​“Pertandingannya udah di mulai dari tadi loh”, kata Didit.


​Aku, dan Aldo hanya diam dan duduk di bangku yang disediakan. Aku melihat pertandingan itu. Dan, tanpa sengaja pandanganku tertuju pada mata Anggara, iya Anggara yang tadi pagi bertengkar sama Aldo, dan Anggara yang tadi menabrakku jam istirahat. Aku melihatnya yang juga sedang tersenyum kepadaku, aku membalas senyumnya.


​“Aku lupa kalau anak itu kapten tim Basket”, kata Aldo tiba-tiba. Sepontan aku melihat ke arahnya.


​“Kalau tau gitu mending aku gak usah ikut nonton deh”, katanya lagi.


​“Kamu gak boleh ngomong gitu dong Do, biar gimanapun juga dia salah satu tim dari sekolah kita. Kita tetap harus ngedukung dia loh Do”, kataku mengingatkan Aldo. Aldo hanya diam dan menikmati pertandingan itu.


*


​Setelah pertandingan selesai, kami supporter dari sekolah menjumpai pemain yang bertanding saat itu.


​“Selamat ya, karena kalian sekolah kita menang juara 1”, kata Wella kepada mereka secara bersemangat.


​“Kita juga bisa karna dukungan kalian kok”, kata Anggara sang kapten tim Basket. Aku melirik ke arah Aldo, dan sudah ku duga Aldo melihat Anggara dengan pandangan tak suka.


​“Kamu hebat banget ya Gara, kamu itu bagus deh mainnya tadi”, kataku kepada Anggara. Aku melirik ke arah Aldo lagi, dan sekarang dia hanya memperhatikanku.


​“Thanks ya ni”, kata Gara kepadaku.

__ADS_1


“Oh, iya kita-kita mau ngerayain kemenangan ini rame-rame. Kalian mau ikut kan?”, kata Gara dengan ramah.


​“Kita ikut yuk ta?”, kata Wella kepada Artha.


​“Yaudah ayuk”, kata Artha.


​“Aku ikut juga deh”, kata Didit.


“Kalian berdua gimana?”, Tanya Didit kepada ku dan Aldo.


​“Aku sih terserah Aldo aja Dit, kan Aku pulang juga di anterin Aldo”, kataku kepada yang lainnya.


Gara melihatku dengan tatapan yang tak bisa ku mengerti.


​“Kayaknya kita berdua gak bisa ikut”, kata Aldo datar.


Semua melihat Aldo dan menuntut pertanyaan.


​“Loh? Kenapa bro?”, kata Didit kepada Aldo.


​“Apa mesti aku ngasih tau alasannya?”, katanya.


​“Hm, kami pulang deluan ya teman-teman”, kataku dengan cepat agar tidak terjadi permasalahan lebih panjang lagi.


Dan aku tersenyum kepada Gara yang sedari tadi melihatku, Gara membalas senyum ku dengan senyum simpul yang dimilikinya.


​Yang lain mengangguk dan membiarkan kami pergi. Aldo memegang tanganku dan membimbingku pergi jauh dari mereka. Di parkiran mobil, Aldo tiba-tiba memelukku.


Aku merasakan kehangatan pada tubuh sahabatku ini. Apa yang sedang terjadi padanya? Kenapa dia? Tiba-tiba aku merasakan Aldo sedang menitikkan air matanya di pundakku. Dengan sangat berhati-hati aku bertanya kepadanya.


​“Kamu kenapa sih do?”, tanyaku berbisik di telinga Aldo. Aldo tak menjawab pertanyaan ku. Aku tau dia sedang mencoba sekuat mungkin agar tidak menangis.


​“Kita pergi dari sini yuk, gak enak tau di liatin orang. Entar malah dikira aku yang ngapa-ngapain kamu”, aku masih mencoba berbisik kepadanya.


Aldo melepas pelukannya dan membuka pintu mobil. Aku masuk ke mobil dan kami pun pergi jauh dari gedung itu.


​“City-Ice yuk Do”, kata ku dengan nada ceria. “Kamu pasti bisa lebih tenang kalau makan ice-cream”


​“Fikiran ku kacau banget ni”, kata Aldo lembut.

__ADS_1


​“Iya, kita tenangin pikiran kamu sambil makan ice-cream aja. Pasti seru”, bujukku kepada Aldo. Aldo hanya tersenyum dan mengangguk kepadaku.


*


​Aku memesan 2 gelasice-cream dan duduk di meja yang disediakan. Aldo masih saja terlihat murung. Setelah memesan akupun berbicara kepada Aldo pelan dan lembut.


​“Kamu kenapa sih Do? Gak biasanya loh aku liat kamu kayak gini”, tanyaku kepada Aldo.


​“Aku juga gak ngerti ni. Kayaknya seharian ini aku kacau banget”, katanya.


​“Do, kamu… um… kamu gak lagi teringat sama Mama kamu kan?”, aku bertanya selembut mungkin agar tak menyakiti Aldo.


Aldo kembali menitikkan air matanya tepat di hadapanku.


​“Do, aneh deh. Kamu itu dari tadi disisi aku. Di samping aku. Tapi kenapa kayaknya pikiran kamu gak lagi tertuju sama aku sepenuhnya”


​“Maaf Aini… maaf. Aku masih kepikiran sama kata-kata Anggara tadi”, Aku menelan ludahku.


Aku tak tau sedari tadi Aldo kayak gini karena Gara? Apa yang sebenarnya terjadi tadi pagi? Pertengkaran apa yang sampai membuat Aldo seperti ini?


​“Gara bilang apa?”, Aldo tak langsung menjawab pertanyaan ku. Ku rasakan Aldo sedang mencoba bersikap tenang dan sewajarnya.


​“Aku gak bisa bilang sama kamu Aini… Maaf, aku gak bisa”, Aku memberikan ice-cream yang baru saja di antarkan pelayan ke meja kami kepada Aldo. Ya, aku berpikir aku tak akan pernah bisa memaksa Aldo. Karna bagaimanapun juga Aldo pasti tak akan menceritakannya kepada ku.


​Aku dan Aldo hanya diam satu sama lain. Aldo hanya diam dan memakan ice-cream nya dengan tenang. Dan sekarang aku merasa lega dan agak mendingan karna aku sadar Aldo sudah normal kayak biasanya. Mungkin dia akan tenang.


​“Kamu kayak anak-anak Aini”, kata Aldo padaku. Kali ini nada bicaranya ceria.


​“Apaan sih”, kataku. Tiba-tiba Aldo membersihkan sisaice-cream yang ada di sekitar bibir ku dan tertawa.


​“Kebiasaan kamu banget ini Aini”, katanya.


Aku tertawa bersama Aldo.


​“Aku baru sadar kamu mesan ice-cream yang berbeda dari biasa yang ku pesan”


​“Ha? Masa sih Do? Kayaknya itu yang biasa deh”


​“Enggak nih, cobain deh” Aldo menyendokkan ice-cream nya kepadaku dan ternyata… Ya, dia sengaja menyendoknya dengan cemong di sekitar bibir ku.

__ADS_1


​“Ih, jail banget sih kamu Aldooooo”, Dia hanya tertawa melihatku cemong seperti badut. Aku mencolekkanice-cream yang ku punya ke pipi Aldo. Dan kami berdua pun tertawa bersamaan.


__ADS_2