
Aini
Setelah petengkaran itu aku merasa khawatir kalau ada yang salah. Tapi apa? Ada apa dengan Aldo? Kenapa Aldo sensi banget? Ahhh, pasti ada yang tidak beres. Aku tak berhenti memikirkan apa yang salah.
“Ini bukunya ya ni?”, ucap Gara membuyarkan lamunanku.
“Eh iya. Ketemu Gar? Wahh, kamu hebat”
“Iya, kemarin aku sempat pake juga buat ngerjain tugas proyek dari Pak Gobin. Membantu banget nih. Kamu bisa ambil beberapa hal buat mengisi essaimu”, jelas Gara padaku.
“Ehh.. Iya. Makasih Gara. Udah yuk. Aku mau balik kekelas”
“Kok cepat banget?”
“Ada yang mau aku kerjain lagi Gara”
“Oke deh”
Teman, Sahabat atau Saudara. Mereka adalah beberapa orang yang hadir memberikan warna dan cerita dalam hidup kita. Tapi, ketika mereka memutuskan untuk pergi. Bukan rasa kehilangan yang menyakiti diri. Tapi rasa kerinduan penuh ceritalah yang sangat disayangkan.
Setelah berpisah dengan Gara. Aku kembali keluar kelas dan mencari sosok Aldo. Aku mau ajak dia hangout deh sore ini. Aku melihat Aldo sedang duduk bersama teman-temannya di kelas. Akupun datang menghampiri mereka.
__ADS_1
“Do..”, panggilku padanya.
“Eh, hallo Aini. Lama gak keliatan. Hati kamu masih ke akukan?”, ucap Jepri genit kearahku.
Memang si Jepri ini suka banget genit sama keseluruh cewek. Aku cuma bisa ketawa mendengar ucapannya.
“Hallo Jep. Aman kok. Kan udah aku gembok disini”, jawabku sambil mengarahkan tangan ke letak hati.
“Iya dia gembok tapi kuncinya aku yang pegang bro. Gak akan aku buka lagi”, ucap Aldo sambil nyengir kuda.
“Ngapain kamu?”, tanyanya kembali padaku.
“Nanti pulang aku ikut ya?”, tanyaku padanya.
“Haha apaan sih dit. Ya mau nebeng pulanglah”
“Aku udah janji sama mereka mau main futsal. Kamu mau ikut liat dulu sebelum pulang?”, tanya Aldo kepadaku.
“Tumben. Inikan hari Kamis. Biasa kalian main hari sabtu”
“Ini tuh hari spesial lohh Nona Muda. Ada yang mau kenalin ceweknya ke kita nih”, ucap Didit.
__ADS_1
“Siapa? Mau dong aku ikut. Biar sekalian kenalan. Ada cowok gantengnya juga gak?”, tanyaku dengan manis.
“Aku kurang ganteng apasih bawel?”, tanya Aldo sambil mengacak rambutku hingga berantakan.
“Ih... apaan. Gantengan juga Jepri. Yakan jep?”, ucapku pada Jepri.
“Kalau aku mah gak ada tandingannya”, jawab Jepri.
“Pedean banget ko lek. Ketek mu tuh kondisikan”, ucap Didit mengejek.
“Ketek ku wangi gini. Nih nih nihh cium nih aroma ketek aku”, ucapnya sambil mengarahkan keteknya kepada Didit.
“Woi busuk woi”, kata kami semua pada Jepri.
“Gelak ko lekkk lekk. Ketek kok di ciumin”, ucap Bowok yang daritadi diam saja. Akhirnya bersuara.
“Yaudah. Aku balik kelas dulu ya. Nanti tunggu aku. Jangan lupa. Aku ikut kalian”
“Oke langsung ke parkiran aja ya. Aku bawa mobil hari ini”
“Siap kapten”
__ADS_1
Dia masih temanku yang konyol. Sahabatku yang sangat aku sayangi. Bahkan sudah seperti Saudara kandungku sendiri. Dia masih orang yang sama. Mungkin ada banyak hal yang belum dia ungkapkan kepadaku. Tapi tak apa. Selagi dia masih disisiku. Aku akan tetap menjadi orang yang selalu mendukungnya dalam hal apapun.
Kemarahan bukan sebuah alasan untuk saling membenci. Tapi kemarahan adalah bukti bahwa dia masih peduli padamu.