
Aldo
Kebebasan adalah hak setiap orang, tapi terkadang kita tak bisa sebebas burung yang terbang ke berbagai arah. Bisa saja masih ada hal yang harus kita pertimbangkan dalam berbagai kemungkinan.
Aku memandang seporsi Ayam crispy dan Cola yang kupesan siang itu. Tampak Aini sedang menungguku berbicara dengan tetap menikmati makanannya secara perlahan. Kami duduk di sebuah warung junkfood sembari mengisi perut kami yang kosong siang itu. Aku berpikir dan menyusun tiap kata yang akan aku ucapkan padanya. Kulihat raut wajah Aini yang jelas sangat penasaran tetapi harus bersabar menungguku menjelaskan.
“Ayam di sini enak Do, lain kali kita nongki disini aja ya”, kata Aini sambil mengunyah makanannya.
“Papa punya Pacar Ni”, kataku dengan perlahan. Aku tak berani memandang Aini, aku malu. Sangat malu.
“Eh? Serius?”, katanya dengan sangat terkejut.
“Aku gak yakin. Tapi sepertinya emang begitu”
“Do...”
“Hem?”
“Sebenarnya kemarin aku lihat Papa kamu. Ehm, sama seorang wanita. Tapi aku tak melihat wanita itu dengan jelas”
“Bisa bisanya ya Papa begitu”
“Mungkin hanya teman do”
“Aku tak yakin. Tapi aku sangat membencinya. Dia sudah lupa sama Mama? Secepat itu? Memang ada ya Cinta kedua?”
__ADS_1
“Kita tidak mengerti apa yang dipikirkan orang dewasa Do. Mungkin saja Papa butuh teman”
“Itu bukan alasan ni. Dia itu telah menghianati Mama”
“Tapi...”, suara Aini terpotong. Dia hanya diam dan memandangku.
“Apa aku salah jika menentang hal ini?”
“Coba tanyakan dulu. Kamukan belum dengar pasti dari Papa. Mungkin kamu hanya salah mengartikan”
“Wanita itu.....”
“Kenapa do?”
“Apa?”
“Iya”
“Kok bisa?”
“Aku tak pernah curiga sama Papa. Yang kutahu selama ini Papa menyibukkan diri di kantor atau berkunjung kerumah Oppa. Tapi ternyata tidak. Tidak sesederhana itu. Itu tak membuatnya sibuk.”
“Kamu yakin itu Mama Gara?”
“Aku tidak pernah melihatnya langsung”
__ADS_1
“Terus kamu tahu darimana?”
“Dia yang bilang. Dia tak suka Papa sering kerumahnya. Sedangkan aku tak tahu apa-apa”
“Astaga”
“Maaf, aku tak pernah melarangmu berteman dengannya Aini. Tapi akupun baru tahu kebenaran ini beberapa hari yang lalu. Aku tak tahu kenapa aku membencinya, kenapa dia membenciku. Tapi ternyata... ternyata ini yang terjadi”
“Ini bukan sebuah masalah besar. Aku yakin. Ini bukan masalah Aldo. Kamu kan belum mengenal Tante itu”
“Untuk apa aku mengenalnya?”
“Mungkin dia memang orang yang baik”
“Aku tak butuh orang lain Aini”
“Kamu tidak. Tapi Papa kamu bagaimana? Kan kita tidak tahu Aldo. Doakan saja”
“Aku benci orang baru”
“Kamu belum mencobanya. Cobalah bicara dengan Papamu”
Aku terdiam. Aku tak pernah tahu akan ada orang lain yang akan menggantikan posisi Mama. Bahkan di usiaku yang ke tujuh belas ini. Aku tak pernah berpikir akan memiliki Mama baru. Aku masih sangat mengingat paras indah Mama ketika tersenyum padaku. Bahkan setiap sudut ruangan di rumah itu tak bisa kulupakan dari bayangan Mama. Aku mungkin sebelumnya sangat marah karena kepergian Mama, aku bahkan mencoba menghapus segala sesuatu yang berkaitan dengan Mama. Tapi tidak. Papa selalu membiarkan kami larut dan menganggap rumah itu masih seperti biasanya. Masih memiliki kehangatan kasih sayang Mama. Bagaimana mungkin sosok Papa yang sangat mencintai Mama kini malah mencintai orang lain? Apa ini benar bisa terjadi?
Akan ada banyak hal yang sulit kita pahami. Banyak sekali pembelajaran hidup yang tak kita mengerti. Orang dewasa sulit untuk dimengerti. Bisakah kita seorang anak remaja mencoba berpikir seperti orang dewasa?
__ADS_1