
Aini
Masih tentang ceritaku yang terlalu rumit. Serta terlalu banyak teka-teki di sana-sini. Aku bingung, banyak hal yang harus kupahami dengan sendirinya tanpa bantuan siapapun. Seperti halnya aku pada Aldo yang terlalu sering menutup diri, tak ada bedanya dengan Gara kali ini. Aku sangat penasaran mengenai kemiripan ini. Apa mungkin hanya kebetulan saja? Aku masih memutar otak untuk memulai pembicaraan kami sore itu. Ingin sekali aku menanyakan hal itu. Ingin sekali kupastikan apakah benar dia orangnya? Atau malah hanya sebatas kemiripan saja?
“Kok ngelamun?”, kata Gara menyadarkanku.
“Eh, iya”, ucapku gelagapan.
“Mau kemana habis ini?”, tanya Gara.
“Pulang ajadeh. Aku mau belajar lagi. Kami besok ulangan”
“Oh. Oke”
“Gar...”, panggilku perlahan.
“Hem?”
“Nama lengkap kamu siapasih?”
“Eh tumben nanya. Ada apanih?”
“Eh iya. Kitakan dulu sekelas. Tapi aku gak ingat nama lengkap kamu”
“Anggara Prayoga Riandan”
__ADS_1
“Oh”
Eh? Yang benar itu namanya. Itu seriusan nama Gara? Prayoga? Apa itu sama dengan Yoga? Kok jadi gini. Masa sih itu dia? Aduh aku beneran gak nyangka banget. Tapi kami sudah sedekat ini. Apa akan jadi canggung kalau aku tanya dia yang kirim aku surat? Kan dia diam-diam. Selama ini dia gak ada tanda-tanda mau cerita. Kok jadi ginisih. Kok dia sih orang yang aku cari. Aku harus bagaimana kalau memang dia orangnya? Konyol banget kalau sampe kami malah jadi canggung. Terus aku juga harus bilang apa sama teman-teman. Masa iya aku bilang kalau orangnya adalah Gara. Yang benar aja dong. Sempit banget dunia ini. Kayak gak ada orang lain aja. Lagian dia aja secuek ini kok sama aku. Kayak gak mungkin banget dia kirim aku surat yang berisi pesan-pesan manis begitu.
“Woi, kok jadi ngelamun lagi?”, ucap Gara sambil menggoyangkan lenganku agar aku tersadar.
“Eh aku udah siap. Udah yuk pulang”, kataku.
“Cepat bangetsih. Yakin nih gak mau mampir lagi?”
“Iya”, kataku dengan pasti.
“Yaudah hayuk”
“Kamu gak lagi sakitkan?”, tanya Gara memastikan.
“Enggak Gara”
Kami menikmati sore menuju malam. Senja kali ini tak begitu terlihat. Masih tertutup awan yang menghiasi seluruh langit. Senja yang redup dengan angin yang berhembus. Sesekali aku melirik kearah Gara. Aku senang pergi bersamanya. Aku seperti ingin terus menerus bersamanya. Tapi kalau kuingat lagi dia adalah si pengirim surat. Apakah aku harus marah? Kesal? Atau aku harus bersikap bagaimana? Aku sendiripun tak tahu.
Aku tak sadar kami sudah berjalan sejauh apa. Hingga kulihat sekelilingku adalah tempat yang tak ku kenali.
“Kita dimana?”, tanyaku kala itu.
“Sebentar. Ada yang mau aku tunjukkan sama kamu”
__ADS_1
“Apa?”
“Udah ikut aja dulu. Gak lama kok”
Aku hanya menuruti perkataannya. Setelah ia memarkirkan motornya. Kamipun turun di tempat itu. ‘Indah sekali’, pikirku saat itu. Terlihat lampion jalanan mengisi tiap sudut bangunan. Kursi-kursi yang tersusun rapih di pinggiran trotoar dan tampak ada sebuah danau buatan yang juga dihiasi kerlap-kerlip lampu. Beberapa bangku telah diisi orang-orang yang ingin menikmati malam itu. Ada sebuah bangku kosong disudut jalan yang dihiasi lampu yang cukup terang.
Gara mengajakku duduk di kursi itu seraya menikmati pemandangan itu. Aku tak menolaknya. Karena kulihat pemandangan itu memang sangat menggiurkan. Kami duduk di kursi itu tanpa suara. Beberapa menit tak bergeming hingga tiba-tiba kulihat Gara memandang kearahku dengan senyumnya. Sangat manis. Sangat sangat sangaaaattt manissss. Senyum itu membuatku kikuk sesaat hingga aku sadar dan membalas senyumnya dengan senyum kaku milikku.
“Aku rasa aku suka sama kamu Aini Tamaro”, ucapnya pelan tapi tegas dan jelas.
Sontak kata-kata miliknya membuatku tercengang tak percaya. Apa ini. Aku di tembak ya. Kebodohanku muncul. Aku tak berani berkutik ataupun merespon dari apa yang baru saja ia ucapkan. Aliran darahku seolah tak mengalir. Aku seperti mati rasa saat itu juga. Sepertinya responku tak begitu baik.
Jemarinya mulai menyentuh jemariku. Menarik jemariku bersentuhan dengan jemari miliknya. Dia menggenggamku. Seolah memastikan padaku bahwa semua akan baik-baik saja.
“Maaf membuat kamu bingung. Aku hanya tak mengerti harus bagaimana menghilangkan bayangmu. Kamu selalu muncul di pikiranku Aini”, ucapnya lagi yang membuatku semakin bingung.
“Sepertinya aku benar-benar menyukaimu Aini. Aku tak mengerti apa itu Cinta. Aku takut bila mengartikan rasa kagumku dengan kata itu. Jadi biarlah saat ini aku hanya mengutarakan rasa suka ku padamu”, lanjutnya.
Hening.
Aku memandang jalanan tanpa melihat kearahnya. Begitupun dengan dia. Dia juga diam memandang jalanan di depan kami dengan jemarinya yang masih menggenggamku. Aku tak menepisnya sama sekali. Tapi hal yang aku bingungkan adalah, dia hanya mengutarakan. Ku ingat lagi tiap kata yang terucap dari mulutnya. Jelas sekali dia hanya berkata suka padaku. Tidak memintaku untuk mengatakan apapun. Sepertinya dia tak berniat menembakku. Apa dia memang hanya ingin mengutarakan perasaannya saja? Tapi kenapa kini kami saling menggenggam tanpa kata begini? Apa-apaan ini. Dia malah membuatku khawatir karena dia tak mengajakku pacaran seperti anak-anak lain pada umumnya. Ini hanya sebuah ungkapan. Yaampun. Hatiku sudah bergejolak tapi yang kudapatkan hanya sebatas ungkapan. Bukan permintaan atau persetujuan. Dasar. Aku.
Biarkan saja kali ini aku begini. Suka kamu tapi tak memintamu. Nanti kalau aku minta kita bersama. Kamu harus mau ya?
-Yoga
__ADS_1