GARIS TUJUH BELAS

GARIS TUJUH BELAS
Birthday Party-2


__ADS_3

Aldo Prandika Rizky


​Malam sepi, sunyi dan sangat dingin. Satu hari tanpa siapa pun di rumah. Dan sudah pasti tak akan ada yang mengingat hari ulang tahun ku. Kemana Papa? Mana kak Diaz? Kenapa mereka meninggalkan ku sendiri di rumah besar ini di hari ulang tahun yang ke-17 ku? Harusnya ini hari special. Andai saja Mama masih ada, Mama pasti tak akan pernah membiarkanku merasa sesedih ini. Mama pasti tak akan membuatku kecewa.


“Mama, apa yang sedang Mama lakukan di surga sana? Mama tidak merindukan Aldo? Ma, Aldo kangen banget sama Mama. Andai Mama tau kalau Aldo saat ini ulang tahun, pasti Mama gak akan biarin Aldo sendiri seperti ini kan ma? Ma, Aldo benci sama Papa! Kenapa Papa jahat sama Aldo Ma? Aldo ada salah apasih ma sama Papa? Ma, Papa udah beda banget, Papa udah gak peduli lagi sama Aldo ma. Papa sering pergi keluar kota buat ngurusin kerjaannya. Kak Diaz sekarang juga udah kuliah di Jogja, kak Diaz jarang banget pulang ke Medan ma. Mama harus tau, sekarang Aldo benar-benar merasa kesepian. Bahkan di hari ulang tahun Aldo yang ke-17 tahun pun tak ada yang mengingatnya ma. Aldo benar-benar benci sama mereka!”


​Baru saja aku mau meletakkan foto Mama ke atas meja belajarku, blackberry ku bergetar menandakan ada panggilan masuk.


“Halo?” kataku pada seseorang diseberang sana.


“Alllldddooo, SELAMAT ULANG TAHUN yaaaa” Bisa ku dengar itu suara Aini yang benar-benar sangat bersemangat.


“Aini? Iyaa kamu juga ya Aini” Balasku dengan sangat tak bersemangat.


“Aldoo kenapa gak datang sih tadi?”


“Maaf, aku lagi gak enak badan tadi”


“Aldo, aku senang bangeeettt hari iniiii”


“Kenapa? Kamu dapat kado dari siapa emangnya?” Aku membalas dengan nada yang sebisa mungkin ku buat menjadi sangat bersemangat.


“Idihhh, bukan masalah kadonya nihh, tapi kak Radit pulang ke Medan demi aku Do, kerennn banggett kan do. Aku senang kalinihhhh”

__ADS_1


“Loh? Bukannya kak Radit lagi gak libur kuliah ni? Ihh kamu jahat banget ya Aini, masa kamu suruh kak Radit bolos kuliah”


Hm, aku berpikir andai saja kak Diaz kayak kak Radit yang bela-belain bolos Kuliah kayak gitu demi Aini.


“Yee, bukan aku yang nyuruh kali do, dia nya aja tuh yang tiba-tiba nongol di pintu haha padahal bunda udah ngelarang dia datang loh”


Aini tertawa membicarakan itu kepadaku.


“Hm, kak Radit baik banget ni”


Kali ini aku tak bisa menyembunyikan kecemburuanku pada Aini.


“Loh, kok Aldo ngomongnya gitu? Kamu kenapa do? Oh iya dapat kado apa dari Papa kamu?”


“Kayaknya mereka lupa aku ulang tahun hari ini deh ni”, kataku dengan perlahan.


“Ha? Serius kamu do? Ihh, kamu sih kenapa coba tadi gak datang kerumahku, kan bisa ngerayain bareng-bareng do”


Suara Aini kembali membesar.


“Maaf ni”


Aku jadi gak enak hati pada Aini, aku tau persis Aini pasti sengaja mengundangku agar kami sama-sama senang hari ini.

__ADS_1


“Aldo?”


Kata Aini dengan nada selembut mungkin, sepertinya ada yang ingin Aini katakana denganku secara serius.


“Iya?”


“Jangan sedih ya, kamu cerita aja unek-unek kamu tentang Papa kamu, aku bakal dengerin kok”


Sungguh sebenarnya aku ingin sekali menceritakannya sama Aini, tapi tidak. Aku tak mau mengganggu kesenangannya hari ini. Ini hari spesial buat dia.


“Aku lagi pengen sendiri aja ni, maaf ya”, Kataku dengan nada dingin.


“Aldo, aku tau kamu. Aku udah kenal kamu dari aku kecil, bahkan dari sebelum kita dilahirkan kita udah saling kenal. Mama kamu teman terbaik Bunda aku do. Aku udah anggap Mama kamu seperti Bunda aku sendiri do…”


Aku memotong perkataan Aini, aku tak mau dia terus-menerus menyebutkan nama Mama.


“Aini, aku butuh menyendiri saat ini. Aku…”


“Kamu harus janji, abis aku biarin kamu sendiri saat ini. Besok kamu harus ceria? Mau janji gak? Kalau kamu gak janji aku gak akan mau biarin kamu sendirian kayak gitu!”


“Percaya sama aku Aini, aku gak akan pernah sedih dekat kamu kan? Jadi kamu tau kan jawabannya?”, Jawabku dengan mantap.


“Hm, yauda deh. Good night Aldo, have a nice dream”

__ADS_1


“Night Aini”


__ADS_2