GARIS TUJUH BELAS

GARIS TUJUH BELAS
Secara Kebetulan-2


__ADS_3

Aini


​Ada banyak hal yang tak pernah kita ketahui, yaitu pertemuan dan takdir. Sulit sekali memilih atau bahkan sekadar menebak. Takdir seperti apa yang akan dimiliki seseorang dihari lain. Dari berbagai hipotesis yang kita rangkum secara sepihak, selalu akan ada banyak hal yang tak terjamah oleh harapan.


Ada seseorang yang pernah berkata padaku ‘Masalah itu muncul karena ketidak cocokan antara harapan dan kenyataan’


Kata-katanya cukup memukul hingga kita sadar, bahwa berpikir itu boleh, berharap itu boleh. Tapi jangan terlalu berlebihan. Semua punya porsinya masing-masing.


*


Wella masih sibuk dengan tugas-tugas OSISnya. Artha tidak masuk kelas karna sakit. Dan Aldo? Ya, sudah pasti ikut ngurusin tugas OSIS sama Wella. Jadi jam istirahat ku kali ini bakal sendirian di kantin deh. Hm, garing banget makan sendiri di kantin!!


*


Aku sudah memegang makanan yang ku pesan dan mencari meja kosong yang bisa ku duduki. Sialnya tak ada satu mejapun yang kosong. Tapi aku melihat ada satu meja yang hanya di duduki satu orang. Aku datang ke meja itu dengan rasa percaya diri yang kuat.


​“Permisi, boleh saya duduk disini?”, tanyaku. Cowok itu berbalik badan dan melihatku. Sungguh… betapa terkejutnya aku melihatnya. Diapun tampak sama terkejutnya dengan diriku, bahkan dia sampai hampir menumpahkan makanannya.

__ADS_1


Gila! Ternyata ANGGARA?


​“Silakan aja, aku gak keberatan kok”, katanya sambil tersenyum kepada ku.


“Hm, kok makan sendirian aja ga?”, tanyaku kepada Gara.


“Aku emang selalu sendiri kalau istirahat gini ni. Kamu sendiri? Kok tumben sendirian Aini? Hm… Aldo.. Kok gak bareng dia?”, dia memandang kesekeliling mencari sosok yang ia sebutkan.


“Aldo ada rapat OSIS kayaknya”, ucapku datar.


“Ha? I… Iya, aku kadang cuma sarapan roti aja sebelum pergi sekolah”, jawabku terbata dan agak gugup. Bahkan sepertinya jelas sekali terlihat gugupku di hadapannya.


“Itu gak bagus loh ni buat kesehatan kamu. Soto terlalu berlemak dan bisa buat kamu jadi kena penyakit kolestrol kalau tiap pagi makan kayak gini”, ucapnya menjelaskan.


“Hm, mending kamu makan nasi goreng aja istirahat pertama gini Aini, itu lebih bagus dari pada Soto”, lanjutnya.


Aku hanya terdiam mendengarkan perkataan Anggara barusan. Aku juga baru tau. Pantes aja kalau tiap makan bareng sama kak Radit diluar kak Radit selalu ngelarang aku buat pesan soto.

__ADS_1


“Hm, kayaknya besok-besok aku gak bakal makan soto lagi deh semenjak kamu bilang gitu ga”, jawabku dengan nada yang sudah lebih nyaman dari sebelumnya. Aku tertawa kecil mendengarkan penjelasannya barusan dan Gara pun hanya tersenyum manis kepadaku.


“Ya, itukan bagus buat kamu ni”, ucapnya mengingatkan kembali.


“Oga!” tiba-tiba ada orang yang memanggil Gara dengan sebutan itu.


“Oga, kamu di cariin sama buk Selvi tuh. Di ruang guru”, kata teman Gara yang baru saja datang menghampiri kami.


“Loh ngapain?”, tanya Gara kepada temannya.


“Ya, mana aku tau. Udah temuin aja sana, buk Selvi udah nyariin kamu dari tadi”


“Yaudah deh. Eh, Aini aku deluan ya. Sorry aku jadi ninggalin kamu sendirian disini”, kata Gara kepadaku sambil tersenyum.


“Iya gakpapa kok Gara”, aku membalas senyumnya dengan senyumku.


​Oga? Kenapa Gara dipanggil Oga sama temennya? Seingatku dulu di kelas Gara di panggil Anggara kok sama teman-teman sekelasku yang lainnya. Hm, yasudah lah mungkin itu Cuma sebutan Akrab mereka. Aku melanjutkan makananku seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2