
Aldo
Beberapa hari yang lalu ada seorang adik kelas yang menemuiku. Katanya mau konsultasi mengenai proposal yang akan ia ajukan kepada kepala sekolah. Kami berbincang di kantin sambil menikmati es teh manis dan mie sup. Suasana kantin tampak sepi karena memang jam pelajaran telah usai satu jam yang lalu. Semua siswa telah pulang kerumah mereka masing-masing. Hanya beberapa anak yang memiliki keperluan disekolah seperti ekstrakulikuler dan lainnyalah yang masih menetap di sekolah ini.
“Bang, aku ragu kalau letak ini disini. Coba tolong di cek dulu dong bang. Biar besok pas aku antar ke kantor kepsek gak ada yang salah lagi”, ujarnya sambil membuka dan menunjukkan beberapa berkas kepadaku.
“Kamu anak baru ya?”, tanyaku penasaran.
“Iya, baru beberapa hari yang lalu kami di lantik menjadi pengurus bang. Maklumlah pelantikan anggota dan pengurus paskib lebih lama dari yang lainnya”
“Ohh”
Aku memperhatikan isi proposal itu dengan teliti. Dan menjelaskan beberapa hal yang salah dalam penulisan dan lainnya. Setelah selesai berdiskusi dengan adik kelas. Diapun pergi meninggalkanku yang masih menikmati minumanku di kantin ini. Tampak dari kejauhan Gara jalan ke arahku.
“Belum pulang ko?”, ucapnya sambil bersiap duduk di depanku.
“Ngapain kau duduk disitu? Kayak gak ada tempat lain aja”, kataku.
__ADS_1
“Bokap mu itu sibuk banget ya?”
“Ngapainsih ngurusin Bokap aku? Gak ada kerjaan kau ya?”
“Dengar ya! Aku bukan gak ada kerjaan. Tapi itu Bapakmu tolong di kasihtau. Gak usah dekat-dekat sama Mama ku”
“Siapa Emak mu?”, tanyaku penasaran.
Aku tak menyangka. Apa penyebab dia ngomongin Papa tiba-tiba. Kemarin juga dia ngeributin Papa. Aku masih gak ngerti maksud dia ini sebenarnya apa.
“Dengar ya. Aku gak mau ribut samamu. Tapi aku mau ngejelasin satu hal. Aku gak suka Bapakmu dekat dengan Mama ku. Apa kurang jelas?”
“Anak **** ko itu namanya!”
“Jelasin!”
“Memang otakmu itu lelet banget ya? Aku sering lihat Bapakmu datang kerumah. Ngapain coba? Aku gak suka. Masa kau gak tau”
__ADS_1
“Aku gak tau. Terus kau itu tau darimana kalau yang datang itu Papa ku? Emang kamu pernah lihat Papa ku sebelumnya?”
“Bapakmu sendiri yang bilang. Dia punya anak yang sekolah disini. Dan anaknya itu Ketua Osis bernama Aldo. Emang ada ya Ketua Osis lain bernama Aldo?”
“Jadi ini yang bikin kau ngamuk kemarin tiba-tiba nyerang aku”
“Maaf. Aku kelepasan”, jawabnya, “Kamu harus tau. Aku sama Mama udah terbiasa tinggal berdua. Aku gak punya orang lain selain Mama, dan aku gak suka Papa kamu sering-sering datang kerumah dan sok Akrab sama Mama ku. Lagian kamu jadi anak masa gak tau selama ini Bapakmu keluyuran”
Aku benar-benar terkejut. Selama ini aku tak pernah tau apa kegiatan Papa di luar. Yang ku tau Papa kerja di Kantor dan sering keluar kota. Kenapa malah nih anak bilang Papa sering kerumahku? Apa ini benar. Setauku kalaupun Papa di Medan dan tidak kerja, dia sering menjenguk Oppa di rumah Tante Ellys. Apa Papa berbohong selama ini? Hal ini benar-benar mengejutkanku. Aku bahkan tak tau harus berkata apa pada Gara, aku tak mengerti apa yang ia maksud.
“Sorry, aku gak tau selama ini Papa ku gangguin Mama mu”
“Aku cuma gak mau ada orang baru di kehidupanku. Kamu harus caritau itu sama Bapakmu. Pastikan dia gak ada maksud apa-apa dekat dengan Mama”
“Thankyou udah mau kasih tau aku masalah ini. Mungkin aku gak akan pernah tau kalau kamu gak bilang ini”
“Oke. Aku tunggu kabar darimu. Aku balik deluan”
__ADS_1
Dia pergi meninggalkanku.
Aku masih sulit untuk mencerna perkataannya. Beberapa hari yang lalu ketika Papa pulang, aku tak merasakan ada yang beda darinya. Tapi memang Papa sudah jarang sekali duduk bersamaku di ruang santai. Dia lebih sering di dalam kamar selama dirumah.