
Aini
Mengawali pagi yang cerah benar-benar benar hal yang sangat sulit. Kenapa aku suka dengan selimut saat menjelang pagi? Dan mengapa aku membenci gelap di malam hari. Mengawali hari-hari penuh keriuhanan sekolah (lagi).
Hah...
Masih terasa berat sekali. Tidak seperti setelah mengawalinya. Bagaimana cara melewati hari tanpa pagi yang bergemuruh? Langit saja saat ini sedang tak menyapaku dengan indah.
“Pagi adik kecil ku”
Kak Radit sudah berada di meja makan bersama aku dan Bunda yang sedang menyiapkan sarapan.
“Morning kak Radit, maaf yaa Aini gak bisa ikut nganter kakak”, Aku jadi merasa bersalah gak bisa ikut nganter kak Radit pagi ini.
Rumah dan keluarga adalah tempat terhangat yang dimiliki beberapa orang. Bagaimana mungkin aku tak mensyukuri kehadiran keluargaku yang penuh dengan kehangatan ini. Tuhan benar-benar memberikanku seorang Bunda yang sangat menyayangi kedua anaknya. Walau kami berbeda usia dan tingkah laku. Bunda tak pernah sedikitpun membedakan perlakuannya terhadap kami. Begitu juga dengan Ayah. Ayah masih menjadi sosok terhebat dalam hidupku yang takkan pernah bisa kugantikan dengan siapapun. Ayah adalah panutan untuk kami semua, ia sangat bijak menghadapi kemauan putra-putrinya. Suatu saat, aku berharap kak Radit memiliki sifat baik Ayah yang selalu kami idolakan.
__ADS_1
“Duhh, anak Bunda pagi-pagi kok udah manyun gitu sih. Ayo ngaku Abang apain tuh adekmu”, Bunda mencoba membuat seolah-olah kak Radit yang salah bukan aku.
“Idihh ngapain coba Radit ganguin anak bandel giniiii”
Lagi-lagi kak Radit mencubit pipi ku.
“Auu sakittt tau kak”, Aku udah mau protes dan Bunda malah sudah memperingatkanku.
“Aini, udah cepat makannya. Ayah udah nunggu kamu itu di depan”
Huuhh, besok aku udah gak bakal ketemu kakak tercinta ku ini.
“Kamu rajin belajar yah, terus jangan lupa ingat waktu kalau main sama Aldo”, Kak Radit membisik kepadaku.
Aku melepas pelukanku lalu memandang wajah kakak ku itu dalam-dalam. Lalu aku tersenyum manis di depannya. Dan pergi mendatangi Ayah yang sedari tadi sudah menunggu ku.
__ADS_1
Meninggalkan dan ditinggalkan. Semua punya pilihannya masing-masing. Semua punya penjelasan untuk mengukur tingkat keterlibatannya pada sebuah pilihan.
Terluka atau melukai. Masih sama. Masih dengan penjelasan yang sama. Di mana, rasa bersalah dan rasa kesal mengahkimi beberapa pihak. Jangan salah langkah. Atau kau akan terjebak.
**
“Pergi untuk sementara kan kak? Terus Aini minta tolong siapa kalau gak ngerti cara ngerjain PR?”, ucapku disela tangis.
“Iya. Kan kakak mau belajar. Kamu juga nanti tamat sekolah bisa belajar di sana sama Kakak kok”
Kak Radit mengelus kepalaku selembut mungkin.
Ya. Kami adalah sepasang kakak-beradik yang sangat dekat. Walaupun Kak Radit seorang kakak Lelaki, tapi ia merupakan sosok yang menyesuaikan diri denganku. Bayangkan saja, kak Radit pernah memakai daster Bunda ketika dia membantuku latihan drama sekolah. Aku membujuknya dengan alasa ‘totalitas’, padahal aku memang cuma mau isengi dia aja.
Semenyenangkan ini kisahku dengan kakak terbaikku. Walau dia populer disekolahnya. Dia masih tetap menjadi kakak yang rendah hati dimataku. Tetaplah menjadi kakak terbaikku kak.
__ADS_1