
Aldo
Langkahku terhenti ketika melihat sosokmya sedang duduk bersama seseorang. Dengan helaan napas yang panjang dan cukup dalam, aku meyakini diriku untuk melangkah kearahnya.
“Aldo?”, sapa Pak Herman kepadaku ketika ia melihatku.
Aku mencium punggung tangannya dan menyapanya dengan hormat. Kulirik orang di sebelahku dengan tatapan kaku dan hati yang bimbang.
“Tuh kan, Papa gak percaya sih. Aku sama Aldo ada janji. Udah ya. Kami mau pergi Pa”
Aku masih berdiri kaku di hadapan kedua orang ini. Masih belum masuk ke otakku atas perbuatan Tia.
Secara tiba-tiba lengan Tia mengikat lenganku dan mengajakku pergi dari tempat itu.
“Saya pamit dulu om”, ucapku dengan sopan.
“Oh iya Do. Kalian hati-hati ya”
Kamipun meninggalkan Pak Herman di ruangan tersebut seorang diri.
Di depan kantor Tia telah melepaskan tangannya dari lenganku.
“Kamu apa-apaan sih?”, tanyaku dengan sangat kesal.
“Apa kabar kamu? Kelihatannya kamu makin ganteng deh”
“Mau mu apasih sebenarnya?”
“Sorry. Aku belum siap bilang sama Papa”
__ADS_1
“Ini terakhir kalinya kamu bisa begini padaku. Lain kali tak akan ada hal seperti ini terjadi”
“Dingin bangetsih kamu jadi cowok”
“Bukan urusan mu lagi”
“Iya deh iya. Kamu beneran udah move on yaa sekarang?”
“Gak penting”
“Woah, beneran ya?”
“Apaan sih”
“Aku mau tahu langsung dari kamu. Kamu beneran udah bisa lupain aku ya?”
“Aku gak berniat melupakanmu”
“Gak!”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin melupakan bukan berarti aku masih ingin bersamamu”
“Terus apa?”
“Aku ingin aku ingat bagaimana caramu pergi meninggalkanku, dan suatu saat aku berharap aku tak mengulangi kesalahan yang sama lagi”
Aku memasang helm kesayanganku dan mulai menghidupkan motorku.
__ADS_1
“Aku pergi dulu. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi”, jelasku padanya
“Ehh... do... tunggu”
Bisa kulihat dari kaca spionku bahwa Tia masih mematung memandang kearahku.
Sepertinya ada hal yang ingin dia sampaikan padaku. Tapi aku, benar-benar tak berniat ingin mendengarkan hal yang ingin ia sampaikan. Aku sudah bertekat untuk tidak memperdulikannya. Maka aku juga harus meyakinkan diriku untuk tidak terlibat hal apapun lagi dengannya.
Aku terus membawa motorku melaju lebih kencang. Tujuanku saat ini adalah rumah Aini. Pikiran ini membuat langkahku semakin yakin untuk datang menemui Aini dan berbagi cerita atau bahkan sekedar bermain ayunan di depan rumahnya.
“Assalamualaikum”, ucapku dari balik pintu.
“Waalaikumsallam”, ucap Bunda sembari membukakan pintu untukku, “Loh, Aldo?”
“Iya Bunda. Aininya sudah dirumah Bunda?”
“Aininya baru aja tadi keluar Do”
“Kemana Bunda?”
“Bunda sih kurang tau ya, tapi tadi perginya sama Anggara”
“Oh sama Gara ya Bunda. Yaudah deh. Saya pamit balik aja ya Bund, lain kali aja saya kesini”
“Oh iya Aldo. Kamu hati-hati ya”
Aku kembali menghantam ruas jalanan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Aku memutar otakku untuk mencari tempat berlabuh saat ini. Hingga terlintas satu nama dalam benakku. Akupun bergerak dengan rasa percaya diri.
Ketika telah sampai di depan teras rumah Wella, aku malah ragu untuk menemuinya. Beberapa menit aku berdiam diri di depan terasnya tanpa memasuki pekarangan rumah dan mengetuk pintu. Aku kembali berbalik arah. Mengurungkan niatku untuk bertemu dengannya. Ya. Saat seperti ini bukanlah saat yang tepat untuk menemuinya. Maka lebih baik aku pulang dan membersihkan diri dirumah.
__ADS_1
Masalah merupakan cara untuk kamu mendewasakan diri. Terkadang mempunyai tempat berbagi adalah hal menyenangkan. Tapi, menyendiri dengan pikiran postif justru merupakan tindakan yang lebih baik. Karena dengan bersikap positif kita mampu menemukan solusi dari berbagai hal yang menyulitkan.