GARIS TUJUH BELAS

GARIS TUJUH BELAS
Secara Kebetulan-4


__ADS_3

Aldo


​Aku mencari-cari orang-orang yang lewat keluar gerbang sekolah. Tiba-tiba aku melihan Anggara sedang mengobrol dengan teman-temannya di loby sekolah. Aku mendekati mereka dan mencoba mendengarkan percakapan mereka. Tapi jelas sama sekali tak ada yang penting yang mereka bicarakan.


Aku melihat Aini berjalan ke gerbang sekolah dengan Artha dan Wella. Kemudian aku berlari mengejar mereka.


​“Loh? Aldo? Kok lari-lari gitu?”, kata Wella kepada ku. Aku hanya tertawa kepadanya.


​“Mau kemana kalian Aini? Kamu pulang bareng aku yuk?”, kataku kepada Aini yang sedari tadi hanya tertawa melihatku lari menuju mereka.


​“Duh, maaf deh do. Kayaknya aku gak bisa pulang bareng kamu hari ini. Aku mau pergi sama Artha”, balas Aini dengan sungguh-sungguh.


​“Yaudah biar aku anterin”, kataku sedikit memohon.


​“Gak usah deh do. Eh mending kamu anterin Wella pulang aja. Kalian kan satu arah do? Wella juga dari tadi nyariin tebengan. Yakan well?”


​“Eh.. emm.. i.. iya ni”, balas Wella kepada Aini yang jelas sekali kudengar agak gugup.


​“Iya aku anterin Wella pulang. Tapi aku nganter kalian dulu, gimana?”, kataku kepada Aini.


​“Gak usah do” , balas Aini kepada ku.

__ADS_1


​“Udah ya do, kami pergi dulu. Bye Aldo bye Wella” kata Artha kepadaku dan Wella.


Mereka pergi sambil melambaikan tangannya kepada aku dan Wella.


​Aku berjalan dan mengajak Wella bersamaku saat ini. Aku membukakan mobilku dan mempersilahkan Wella untuk masuk ke dalam mobilku bersamaku.


​“Kamu gak kenapa-kenapa kan do?”, tanya Wella kepadaku menghentikan keheningan antara kami berdua.


​“Ehm… Eng.. Enggak kok well”, jawabku terbata.


​“Kamu kelihatannya gak suka ya liat aku ada disini? Kalau gak, kamu turunin aku di simpang itu aja do”, ucap Wella kepadaku.


​“Loh? Enggak kok well. Aku gak kenapa-kenapa. Aku cuma agak capek, seharian inikan banyak sekali tugas kita”, jelasku kepadanya.


​“Oh, gitu. Yaudah deh”, jawabnya pelan.


​“Hari minggu jangan lupa ya well”, kataku memecahkan keheningan kami.


​“Iya.. iya… tenang aja aku gak akan bisa lupa kok”, kata wella sambil tertawa.


“Wohh, sebegitu senangnya ya kamu jalan bareng aku?”

__ADS_1


“Eh... ketauan yaa aku emang semangat banget dong. Kan aku mau dibayarin kamu. Kapan lagi coba aku nonton gratis dibayarin kamu”


“Oh.. cuma karena dibayarin? Yakin? Gak karena akunya?”, godaku padanya.


“Helehh, entar kamu aja yang emang udah niat banget yaa. Apa mau ngajak aku sekalian kencan ya do?”


“Loh, kok aku? Kan kamu yang ngajak-ngajak aku. Pujuk-pujuk aku. Supaya ikut kamu”


“Biasa aja kali! Aku gak mujuk kamu tuh!”


“Terus apaan namanya kalau gak mujuk?”


“Ya, ngajak aja. Manatau kamu mau”


“Tuh kan. Udah niat. Suka kamukan sama ketampananku ini” “Takut kamu yaaa. Takut gk bisa ngelupain aku kalau udah jauhan? Iyaaaakaaann?”


“Hahaha apaan sih Do, halu banget”


“Halu gini tetap tampan loh. Kamu aja kepincut”


“Cowok gilak!”

__ADS_1


Kami berdua tertawa bersama sepanjang jalan.


Bisa saja mengalihkan. Tapi melupakan takkan mungkin. Mustahil sekali. Masa remajaku masih seperti ini saja. Kenapa sama dengan kisah di film-film. Biasa sekali kisah remajaku, apalagi kisah cintaku yang tak pernah ada. Seperti kurang berwarna di kisah ini.


__ADS_2