GARIS TUJUH BELAS

GARIS TUJUH BELAS
Pertemuan-5


__ADS_3

Aini


​Kalau aku tidak salah bukannya cowok yang berantem sama Aldo tadi temen sekelas ku dulu waktu kelas Sepuluh ya? Tapi siapa namanya? Wah, kok aku bisa lupa ya nama anak itu siapa. Hm, mending aku nanya sama Didit aja deh nanti istirahat Pertama. Mendingan jumpai Didit dulu kan, dari pada harus berhadapan sama Aldo yang masih kesal sama aku.


“Wel, entar istirahat mau kemana?”, Aku berbisik kepada Wella agar suaraku tak kedengaran dengan guru Fisika kami.


“Aku ngurus izin kita dulu ni. Biar kita di izinin ikut nonton tournament anak Basket”, Katanya padaku.


“Oh, yaudah deh”


“Emang kenapa?”


“Aku mau jumpain Didit, tapi males ketemu sama Aldo nanti, kalau aku datangnya sendirian”


“Loh? Kamu sama Aldo kenapa? Bukannya tadi baik-baik aja?”, Wella malah jadi heboh nanyak-nanyak kayak gini.


“Baik apanya. Dia kesal tuh pasti sama aku gara-gara aku misahin dia tadi waktu lagi ribut. Di diamin mulu aku, jadi mending nunggu Aldo udah lupa sama kejadian tadi baru aku ngomong sama dia baik-baik”


“Aneh kalian”, Wella dan aku pun tertawa kecil.


​Setelah bel berbunyi aku langsung keluar kelas menuju kelas Aldo dan Didit. Ya, mau gak mau aku emang akan ketemu sama Aldo deh. Masih di depan kelas Aldo aku tertabrak oleh seseorang cowok, dan hampir saja aku terjatuh ke lantai.

__ADS_1


​“Sorry Sorry”


Aku melihat cowok itu dan ternyata dia adalah cowok yang mau aku tanyakan ke Didit. Astagaaaaa. Dia memegang tanganku dan membantuku untuk berdiri dengan bagus.


​“Ternyata kamu Aini, sorry ya. Aku buru-buru”. Katanya dengan cepat.


“Eh, iya gakpapa kok”, Aku malah jadi gugup ngomong dengannya. Cowok itupun pergi berlari jauh dari ku.


Bener kan. Cowok itu aja kenal aku, berarti bener dia pasti teman sekelasku dulu, astaga kok bisa ya aku lupa nama dia.


​“Aini? Ngapain disini?”, Didit muncul dari belakangku, dan wah kebetulan sekalinih. Didit lagi gak sama Aldo hehe.


“Heyy? Ditanyain kok malah ngelamun”, Didit menggerakkan tangannya di depan mataku, dan membuatku sadar.


“Yaudah ngomong aja kali”.


“Kita ke perpus aja ngomongnya ya, aku lagi malas ketemu Aldo”


“Iya terserah kamu ajadeh”


Duh, mesti gimana nih aku nanyaknya. Masa iya aku langsung nanya nama anak itu. Yang ada entar Didit ngira aku yang aneh-aneh lagi.

__ADS_1


“Mau nanyak apa sih ni?”, kata Didit yang sepertinya penasaran.


“Dit, kamu kenal sama anak yang berantem sama Aldo tadi pagi?”, kataku perlahan.


“Yaelah Aini… Aini… Ya, kenal lah. Dia temen sekelas kita loh Aini waktu kelas Sepuluh. Masa kamu gak ingat sih?”, Didit malah tertawa di depanku.


“Aku sih ingat Dit, tapi aku lupa namanya”


“Namanya Anggara loh ni. Dia kapten Basket ni”


“Hm, jadi tadi kenapa dia bisa berantem sama Aldo?”


“Gara-gara parkir mobil”


“Parkir mobil? Aldo bawa mobil? Kok tumben?”


Aldo bawa mobil? Aneh, biasanya dia selalu bawa motor besarnya itu. Kok ini aneh ya. Hm, Aldo juga belum cerita apa-apa lgi nih sama aku. Buat penasaran nih anak.


“Yee, kalau itu sih aku mana tau ni. Mending kamu tanya Aldo aja langsung”


“Iya deh”

__ADS_1


Aku dan Didit kembali jalan menuju ke kelas kami masing-masing.


__ADS_2