GARIS TUJUH BELAS

GARIS TUJUH BELAS
Kejutan-1


__ADS_3

Aini


“Suatu hari aku kembali ingin menyapamu melalui surat ini. Apakah engkau baik-baik saja? Masih bolehkah aku mengirim surat seperti ini. Akhir-akhir ini banyak hal yang membuatku sangat penasaran. Merusak kehidupanku yang tenang menjadi sebuah percikan api. Maaf, aku tak menyapamu kemarin. Karena aku sedang tidak baik-baik saja. Kamu tak lupa akukan? Sebenarnya aku butuh teman untuk bercerita. Tapi kamu belum menemukanku dengan benar.


.


.


By. Yoga”


•••


Pagi ini aku kembali dikejutkan dengan sebuah surat yang sudah lama tak kuterima. Kupikir orang iseng itu sudah tak ada. Tapi ternyata masih ada ya. Kali ini surat itu bukan berisi pesan untuk memujaku. Suratnya beda. Dan tak ada coklat yang biasa terselip di atas surat. Bukannya berharap, tapi ya aku kok jadi keingat lagiya sama nih orang. Buat apa coba kirim-kirim surat begini. Kayk zaman purba aja. Padahal sekarang teknologi udah sangat canggih. Aneh.


Ku selipkan sebuah surat itu kembali kedalam tasku. Ada rasa penasaran yang telah lama kulupakan. Pada akhirnya, kini aku kembali mengingatnya. Menginat nama di secari surat tak bertuan itu.


“Ni, ngapain kamu?”, tanya Artha menghentikan lamunanku.


“Tha, aku punya sebuah rahasia”, bisikku.


“Apaan? Pagi-pagi jangn bikin heboh ya Aini Tamaro. Tolong deh”


“Aku serius. Jangan berisik”, ucapku berbisik kearahnya.


“Aku dapat surat lagi tha”


“Ha? Serius?”, teriaknya.

__ADS_1


“Pelan-pelan woi”


“Sorry sorry kelepasan”


“Jangan berisik tha. Nanti yang lain pada heboh. Aku sampe udah kelupa sama nih orang”


“Tuh, kemarin gak sempat kita selidiki sih. Padahal kita punya sekretaris osis”


“Bener juga kamu ya. Nanti kita coba bongkar anak yang namanya Yoga ya”


Tiba-tiba Wella datang bersama dengan Rara


“Kalian ngapain?”, tanya Rara.


“Gapapa”, ucapku dan Artha secara bersamaan.


Nama itu hadir lagi. Rasa ingin tahu ku semakin meningkat. Sebelumnya kupikir cerita ini akan tertutup. Tapi ternyata ini baru dimulai. Tanyaku baru saja terlintas (lagi). Tak apa kan bila aku ingin tahu tentang orang ini?


“Ehhh ada yang ulang tahunn nihhh”, teriak salah satu teman kelas.


Semua mata tertuju pada si pemilik suara. Mengubah suasana kelas menjadi lebih riuh dan gaduh.


Tampak si ketua kelas memasuki kelas dengan memegang sekotak kue yang telah berhiaskan lilin. Yang lainnya bersorak-sorai dan menyangikan lagu ulang tahun. Aku dan teman-teman lainnya juga menyambut nyanyian itu dan menghidupkan suasana kelas yang semakin heboh ketika si ketua kelas dengan gagahnya memberikan kue tersebut kepada Sella. Sella tampak malu dan berseri menerima perlakuan manis dari si ketua kelas.


“Ciee”


“Cieeee cieee cieee”

__ADS_1


Semua anak semakin bersemangat melihat Sella yang semakin berseri.


“Makasih ya”, ucap Sella dengan senyum terbaiknya.


Teriakan histeris teman-teman yang lainnya malah membuatku tertawa. Banyak yang memuji keberanian si ketua kelas mendekati Sella. Selama ini mereka dekat Sella tak pernah mengacuhkan si ketua kelas. Dan hari ini Sella seakan kalah dengan kuatnya Rasa yang di miliki si ketua kelas.


“Kamu mau gak jadi pacar aku?”, ucap si ketia osis yang di sambut meriah oleh teman-teman yang lainnya.


Tampak wajah Sella memerah menanggung malu. Sepertinya dia benar-benar tak tahu harus berkata apa.


“Jawab dong Sell”, teriak seseorang.


“Udah terima aja Sell”, teriak yang lainnya.


“Yaudah lah Sell, apalagi sih”, teriak mereka bersamaan.


Sella berbicara sangat halus. Lembut dan nyaris tak bersuara.


“Iya. Aku mau”


“Yeyyy”


“Woaaahh kewren lo ket”


“Hasekkkk couple baruuuu di kelasss”


“Selamaattt Sella”

__ADS_1


Banyak waktu yang kita miliki, tapi tak banyak kesempatan untuk menikmati bahagia itu. Sekarang mungkin tak menarik. Tapi bila saat kesenjangan kesenanganmu mengikat takdir bertemu tawa, tak ada yang bisa merubahnya. Karena itu adalah milikmu yang tertunda.


__ADS_2