
Aini
“25 menit lagi kita ketemu di kassa ini ya ni. Sekarang kita mencar disini nyari coklatnya”, Artha memberikan intruksi kepadaku.
Aku hanya mengangguk mantap dan tersenyum kepada Artha.
Kami berpencar dan mencari-cari segala keperluan yang kami inginkan. Aku berjalan mengelilingin segala pernak-pernik yang dijual di toko ini. Kemudian Aku berhenti saat melihat sekumpulan coklat-coklat.
Ketika Aku melihat-lihat dan mencari coklat yang sangat ku sukai. Aku terdiam saat aku mencoba mengambil sebuah coklat dan tiba-tiba tanganku menyentuh tangan seseorang. Dengan cepat aku melepaskan tanganku dengan tangan orang tersebut.
“Maaf” kata orang tersebut kepadaku.
Aku berbalik dan melihatnya.
‘dugg.. dug.. dug..’ ku rasakan jantungku berdetak lebih cepat saat aku tersadar orang yang ada di hadapanku adalah Anggara.
Aku hanya diam dan memandangnya. Dia pun hanya diam dan tiba-tiba dia seperti memaksakan dirinya untuk tersenyum kepadaku. Akupun membalas senyumnya dangan senyuman kecut.
“Hm, harusnya aku tau kalau itu kamu Aini”, kata Gara kepadaku sambil tertawa kecil.
“Ya, akupun juga gak tau. Wah, sebuah kebetulan yang bagus ya”, balasku sambil tertawa kecil.
“Aku sangat suka dengan kata kebetulan ni”, ucapnya padaku.
“Oh ya? Wah, bagus dong. Kamu cari apa Gara?”
__ADS_1
“Aku sih mau ngambil coklat itu”
“Haha, sama dong. Kamu juga suka sama coklat itu ya Gara?”
“Itu coklat favorit aku ni. Kamu sendiri?”
“Dulu sih, aku gak terlalu suka. Tapi karna ummm…. Karna kakak ku sering ngasi coklat ini buat aku. Aku jadi suka deh”
“Wah? Yang bener? Jadi kamu juga suka sama ini coklat? Kita sama dong”
“Iya kita sama-sama suka coklat ini”, kataku.
Sebenarnya aku ingat sekali, aku menyukai coklat ini karna Yoga orang yang aku tak tau siapa dia,m itu, selalu memberikanku coklat dan surat.
“Sama siapa kamu disini Aini?”, kata Gara yang menyadarkanku dari lamunanku.
“Haha, emang Artha ada acara apaan dirumahnya, Sampe kamu mau nginap segala?”
“Yah, sebenarnya Cuma pesta cewek-cewek biasa. Itupun cuma aku dan Artha aja, hehe”
“Emang semua cewek kayak gitu ya?”
“Hm, ya gak gitu jugak sih. Cuma seru-seruan aja, curhat-curhatan sambil nonton film horror berdua sama Artha”, aku tertawa.
“aneh. Eh, kalian naik apa kemari?”
__ADS_1
“Tadi sih naik angkutan umum Gara”
“Yaudah entar pulangnya bareng sama aku aja”
“Eh, gak usah kali Gar, kita udah biasa kok naik angkutan umum”
“Tenang, gapapa kok. Lagi pula kenapa kalian mesti naik angkutan umum kalau ada aku yang bisa nganterin?”
“Eh, yaudah deh aku tanya Artha dulu entar”
Aku dan Gara jalan menuju kassa dan aku mencari-cari siapa tau aku melihat Artha yang sudah berada di kassa itu. Tapi Artha belum ada di situ. Maka akupun membayar seluruh barang yang ku beli. Dan tidak lama kemudian aku melihat Artha sedang berjalan mendekati aku dan Gara yang sedari tadi sudah selesai berbelanja dan menunggu Artha.
“Maaf ya ni. Aku lama ya? Ehh, kok bisa ada Gara disini?”, tanyannya dengan terkejut.
“Tuh, kamu tau. Kamu itu emang selalu lama ta. Iya tadi Gara juga nyari coklat kayak coklat yang aku cari ta”
“Wah, kebetulan sekali ya”, balas Artha.
“Iya, kalian pulang bareng aku aja ya Artha? Aku bawa mobil tuh”, kata Gara kepada Artha.
“Aku sih terserah Aini aja Gar” balas Artha kepada Gara.
“Yaudah yuk, Aini udah setuju. Yakan ni?”, kata Gara kepada ku.
“Iya. Yaudah yuk” balas ku kepada Gara dan Artha.
__ADS_1
Kami pun pulang bersama Gara. Di mobil hanya Artha dan Gara saja yang bercerita. Aku hanya diam dan mendengarkan pembicaraan mereka dan sesekali ikut tertawa bersama mereka.
Kita tidak pernah dekat. Bahkan sering terlihat canggung. Kenapa setiap bertemu denganmu ada segelintir rasa penasaran menjalar ditubuhku? Seolah ada banyak hal yang ingin ku ketahui tentangmu.