
Aini
Langit sedang tak bersahabat. Riuhnya para penikmat bakso Buk kantin ditengah kegaduhan air hujan yang mengalir beraturan ke Bumi semakin ricuh bahkan gaduh. Membuat suasana kantin seperti tempat ternyaman ketika istirahat. Banyak anak yang hanya sekedar duduk untuk menikmati hujan yang turun sangat deras. Bahkan tak sedikit anak-anak yang mengisi hausnya celotehan sesama teman untuk sekadar mengunjing teman lainnya. Kita semua sama. Masih seorang siswa yang suka berbagi cerita menarik dengan berbagai bumbu penyedap rasa.
“Eh teman-teman, kalian pada tau gak. Itu anak paskib yang sering jadi pemimpin upacara”, ucap Artha.
“Ha, iya. Kenapa ta?”, jawab Rara.
“Kenapa kenapa?”, ucap Bintang menambahkan.
“Kayaknya dia suka sama aku deh”, jawab Artha malu-malu.
Dasar si manusia yang sangat kepedean. Kemarin bilang Robi si ketua kelas kami naksir dia, terus si Edo yang juga teman sekelas. Dan sekarang si pembina upacara? Yang bener aja deh nih anak. Penyakitnya gak sembuh-sembuh deh.
“Masa sih? Dia kan punya pacar”, ucap Wella dengan antusias.
“Seingatku juga gitu deh”, kataku menambahi. Karena aku pernah melihat lelaki itu pulang sekolah berbarengan dengan seorang wanita. Aku gak tausih siapa tuh cewek. Tapi aku ingat aku pernah melihat mereka bersama beberapa kali.
“Dia itu sering banget liatin aku, masa kalian gak ngerasa sih?”, ujar Artha.
“Kapan?”, ucap Rara, “Orangnya yang mana sih? Ganteng ya?”
“Dia kayak malu-malu gitu waktu aku berpapasan beberapa kali dengan dia”, ujar Artha.
“Kamu gak salah? Nanti itu perasaan kamu aja Wel?”, ucapku.
“Gini yah. Yang pertama, kami ketemu di lapangan badminton ketika pelajaran penjas. Dia lewat. Aku gak sengaja lihat dia lagi ngeliatin aku. Kedua, kami ketemu di perpus waktu aku temenin kamu loh Aini, aku gak bilang sama kamu karena waktu itu kamu di panggil Aldo. Disitu juga aku ngeliat dia lgi liatin aku. Ketiga, aku ketemu dia waktu pertandingan Basket kemarin guys. Aku lihat dia memperhatikan aku dengan seksama. Tapi aku pura-pura gak lihat dia. Masa aku salah sih udah begitu?”, jelas Artha.
“Terus kalau aku liatin kamu tiap saat berarti aku naksir kamu gitu?”, ujar Rara.
__ADS_1
“Lesbie dong kamu ra”, ucapku tertawa.
“Kamu kepedean banget taukkk ta”, ucap Wella menambahi.
“Kok kalian gak percaya ginisih? Kalian teman aku gaksih?”, kata Artha sambil cemberut dan memanyunkan mulutnya.
“Kamu udah jelek. Jangan sok menjelek-jelekkan muka deh”, ujarku tertawa.
“Aku serius loh ni”, ucapnya melas.
“Ya, ya, ya. Kami iyaain aja deh yaa nona kecintilan”, ujar Rara sambil cekikikan.
Namanya juga Artha. Ya emang suka gitu. Ada aja tingkat kepedeannya terhadap seorang lelaki. Cerita berlanjut dengan Wella yang ternyata memberanikan diri ngaku ke kami bahwa dia suka sama Aldo. Akusih sebenarnya udah gak terkejut lagi, karna udah kelihatan. Tapi teman-teman yang lain memandangku seolah aku akan marah kalau Wella dekat dengan Aldo. Padahal nyatanya ya enggaklah. Kan bagus kalau Aldo memang dekat dengan temanku. Jadi gak canggung dan gak akan ada kesalahpahaman terhadap aku maupun pasangan Aldo nantinya.
“Aldo itu sebenernya perhatian banget ya Ni. Kemarin waktu kita jalan. Dia baik banget sama aku”, kata Wella menjelaskan kepada kami semua.
“Kapan? Kok aku gak tau?”, tanya Artha, “kamu tau Ni?”
“Kemarin Aldo bilang sih, tapi gak ada cerita apa-apa tuh”, ucapku.
“Dia janji sama aku kemarin. Malah dia yang ingatin sama aku. Kita nonton bareng, nongki, terus keliling kota sebentar. Karena naik motor jadi dia itu perhatian banget sama aku”, ujar Wella.
“Perhatiannya gimana?”, tanya Rara antusias. Si Rara sih emang doyan soal curhatan begini.
“Iya. Jadikan udah malem tuh. Dingin. Terus kayaknya dia kerasa deh kalau aku agak kedinginan. Dia minggirin motornya terus lepasin jaketnya buat aku pake. Gila. Aku pikir itu cuma ada di film-film atau novel loh guys”, ucapnya sambil senyum-senyum.
Kayaknya Wella benar-benar menyukai Aldo. Dia sangat bahagia sekali menceritakan hal itu kepada kami. Aku hanya akan menjadi pendengar sajadeh. Biar gak dikira aneh sama teman-teman yang lain. Soalnya kan aku sama Aldo udah dekat dari dulu. Jadi yang kayak begitusih udah biasa sebenernya bagiku. Karena Aldo emang orang yang sebaik itu.
“Itu seriusan Aldo? Yang sahabat Aini? Masasih?”, ucap Rara tak percaya.
__ADS_1
“Aldo gak ada cerita apa-apa samamu Ni?”, tanya Artha padaku.
“Gak ada loh ta. Kan dia beberapa hari ini sibuk sama Osis barengan Wella”, ucapku.
“Iyasih. Lanjut deh wel. Terus terus?”, ujar Artha.
“Dia juga sopan banget sama Mama waktu ngantar aku pulang. Dia bahkan ngajak aku beli martabak dulu buat dibawain untuk Mama”, jelas Wella, “Tapi aku heran. Dia itu kok cuek banget sih kalau chat atau telepon? Itu kenapa ya Ni?”
“Loh kok tanya aku?”, ucapku.
“Ya manatau kamu tahu kan”, ujar Wella.
“Aku aja masih gak percaya yang kamu ceritain itu Aldo. Well... Well...”, ucap Bintang, “Aldo yang sependiam itu kalau gabung sama kita yaampun. Masa bisa dekat samamu yang secerewet ini”
“Ya aku manatau. Aku senang banget kalau ada chat masuk dari dia. Kadang suka senyum sendiri. Tapi kadang kesal sendiri. Dia dingin kalau di chat”, ujar Wella.
“Es batu dong”, cecah Rara ngasal.
“Dia emang gitu. Entar juga kamu terbiasa Wel. Kalau emang mau lebih dekat dengan dia, ya kamu harus biasain diri aja. Aku dukung kok”, ucapku dengan sungguh-sungguh.
“Bantu aku ya guys”, ujar Wella.
“Syiaaappp”, jawab kami bersamaan.
“Wella doang yang dibantuin? Aku enggak nih?”, tanya Artha.
“Iya iya deh. Kamu juga”, tegas kami bersamaan sambil tertawa.
Wanita itu tak lepas dari pembicaraan mengenai lawan jenis. Lelaki adalah topik terasyik ketika sedang bersama. Tak jarang topik pasangan masing-masing ini terkadang membuat cerita seorang wanita semakin berkepanjangan. Dasar wanita. Si pemilik sumber baper sealam semesta.
__ADS_1