
Aini
Rintik hujan kali ini mengisi tingkat kemalasan semakin bertambah. Minggu. Hujan. Dan rebahan. Kombinasi yang pas untuk menikmati weekend yang santai.
Aku ingat hari ini ada janji untuk menemani Gara ke Gramedia, tapi melihat cuaca pagi ini seolah membuatku bergelut diatas kasur lebih nikmat daripada harus bangkit dan bersiap. Ku pandang ponselku dengan gundah. Tak ada pesan dari Aldo, sejak pembicaraan semalam kami sama-sama diam. Aku menjadi orang yang serbasalah menanggapi hal tersebut. Aku tak terlalu mengerti apa yang dirasakan oleh Aldo. Tapi aku selalu berharap bahwa Aldo akan mendengarkan dan menerima berbagai saran yang kuberikan padanya siang itu.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah panggilan masuk. Gara menghubungi. Ku angkat panggilan itu dengan mencoba menetralkan suaraku agar tak terdengar seperti orang yang baru saja bangun dari tidurnya.
“Assalamualaikum Aini, Good Morning”, ucap Gara diseberang sana.
“Waalaikumsallam, selamat pagi juga Gar. Ceria banget suaramu”
“Iya dong, kan mau ketemu kamu”
“Heleh. Eh tapi hujan loh Gar”
“Iya, kayaknya hujannya awet sih ini. Kita keluar sore aja ya. Kalau hujannya sudah berhenti”
“Kalau gak berhenti gimana?”
“Ya gak usah jadi pergi”
“Yahhhh.... sedih dong kamu”
“Haha kepedean banget. Lagian kamu aja jam segini belum bangun. Dasar wanita”
“Eh kok tahu? Hihihi”
“Kan kamu selalu hadir dalam bayanganku”
“Gombal”
“Haha yaudah sampai ketemu nanti sore ya Ni. Aku tutup dulu teleponnya biar kamu bisa tidur lagi. Assalamualaikum”
__ADS_1
“Haha iya Gara. Waalaikumsallam”
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
diserap akar pohon bunga itu
-Hujan Bulan Juni; Sapardi Djoko Damono
^^^^
Kaus hitam polos yang dibalut dengan jaket Denim yang senada dengan celananya. Beralaskan sepatu Sneakers yang pernah ia kenakan sebelumnya, tampak menjadi kombinasi yang sangat casual dan nyaman.
Dia Anggara. Teman yang beberapa hari ini membuatku tertarik untuk berkomunikasi dengannya. Senyumnya mengembang ketika melihatku keluar dari balik pagar hitam itu. Si suatu sore dengan udara yang sejuk sehabis hujan. Membuatku mengenakan pakaian yang juga santai dan hangat. Sisa rintik masih menyelimuti perjalanan kami. Udara yang segar dengan jalanan yang tak terlalu ramai.
Kami berhenti di sebuah toko Gramedia di sudut kota. Kami berkeliling mencari buku yang ia cari. Sembari menunggunya, aku berkeliling melihat berbagai novel bestseller di rak bagian novel. Ada banyak buku yang membuatku tertarik. Satu persatu sinopsis buku itu kubaca dengan seksama. Hingga tak sadar Gara telah disampingku menatapku dengan senyumnya.
__ADS_1
“Udah siap cari bukunya?”, kataku kepada Gara.
Aku meletakkan kembali buku yang telah kubaca sinopsisnya itu.
Gara tersenyum dan berkata, “Sudah. Kamu mau ambi novel itu?”
“Gak usah deh. Nanti aja”, ucapku.
Gara mengambil novel tersebut dan menarikku menuju kearah kasih.
“Yaudah hayuk kita bayar dulu”
“Loh, kok novelnya di bawa Gar”
“Iya. Aku ambil. Buat kamu”
“Aku bisa ambil nanti Gara”
“Udah kamu tenang aja. Ini hadiah karena kamu udah mau nemani aku”
Aku hanya menggangguk dan menunggunya di sebelah kassa.
Setelah pembayaran berhasil. Kami berjalan menuju Dunkin Donuts. Aku memilih beberapa donat yang akan kami nikmati.
“Kamu sebegitu sukanya sama coklat? Sampe semua coklat begitu”, kata Gara padaku.
“Eh iya. Kamu gak suka ya? Apa aku ganti aja beberapa yang buat kamu?”
“Enggak. Itu aja gapapa kok. Aku ke toilet dulu ya”
“Oke”
Aku duduk dengan santai hingga tak sengaja aku menjatuhkan tas Gara ke lantai. Dengan bergegas aku mengambil beberapa barang yang jatuh berserakan. Betapa terkejutnya aku ketika melihat sebuah coklat dan kertas surat yang masih kosong. Aku ingat. Itu adalah kertas yang biasa aku lihat di laci mejaku. Dan coklat ini. Coklat ini adalah coklat yang biasa aku lihat juga bersama dengan suratnya. Apa ini? Kok bisa begini? Kok Gara bisa punya kertas yang semirip ini. Apa Gara yang selama ini kasih aku coklat dan surat itu? Tapi kan inisial di surat itu selalu Yoga. Apa itu nama samaran.
__ADS_1
Kulihat Gara berjalan kearahku. Bergegas aku membereskan barang-barang itu kembali ketempatnya semula.
Yang kamu pikir benar belum tentu benar. Banyak hal yang membingungkan. Tapi suatu saat akan lebih banyak lagi hal yang perlahan terlihat jelas.